Kantor Informasi Pemerintah Gaza: Satu Juta Orang di Gaza Tidak Memiliki Akses Makanan
-
Anak Gaza
Pars Today - Ismail Al-Thawabeteh, Direktur Jenderal Kantor Informasi Pemerintah Gaza, Senin (24/11/1015) malam menyatakan bahwa data yang dipublikasikan oleh “koordinator Israel” merupakan pengakuan resmi bahwa sekitar satu juta orang di Gaza tidak memiliki makanan dan hidup dalam kelaparan.
Menurut laporan IRNA mengutip Kantor Berita Shehab Palestina, angka itu menunjukkan adanya pembatasan sengaja oleh rezim Zionis terhadap masuknya bahan pangan, sehingga lebih dari satu juta warga Gaza tidak menerima makanan setiap hari.
- Koordinator Israel mengakui bahwa hanya 1,4 juta porsi makanan didistribusikan setiap hari untuk populasi Gaza yang berjumlah 2,4 juta jiwa. Artinya, 42% penduduk, sekitar satu juta orang, tidak menerima makanan sama sekali.
- Dari 58% yang menerima, mereka hanya mendapat satu kali makan per hari, jauh di bawah standar minimum kemanusiaan.
- Dengan rata-rata berat 400 gram per porsi, total makanan yang masuk ke Gaza hanya 560 ton per hari, sementara kebutuhan riil mencapai 2.400–2.600 ton per hari. Ini berarti Israel hanya mengizinkan masuk kurang dari seperempat kebutuhan pangan dasar.
- Koordinator juga mengakui distribusi 3,5 juta roti per hari, yang berarti setiap orang hanya mendapat rata-rata 1,46 roti per hari. Lebih dari satu juta anak termasuk dalam kelompok penerima jumlah terbatas ini, yang berada di ambang kelaparan.
- Mengenai paket bantuan, disebutkan bahwa hanya 270 ribu paket dibagikan untuk 1,3 juta orang sepanjang November, sehingga rata-rata satu paket untuk lima orang per bulan, setara dengan satu paket per keluarga, yang jelas tidak mencukupi kebutuhan dasar.
Al-Thawabeteh menegaskan bahwa data yang dipublikasikan oleh lembaga militer Israel menunjukkan campur tangan langsung rezim pendudukan dalam membatasi jumlah makanan yang masuk dan melanjutkan kebijakan kelaparan massal terhadap warga Palestina, meskipun ada deklarasi gencatan senjata dan protokol kemanusiaan.
Ia menambahkan bahwa Israel juga menerapkan kebijakan “tetesan” dalam pengiriman gas ke Gaza. Dalam 45 hari sejak gencatan senjata, hanya setara dengan tiga hari kebutuhan gas yang berhasil masuk, sehingga kebutuhan energi warga tetap tidak terpenuhi.
Al-Thawabeteh menutup dengan peringatan, “Ini adalah kebijakan kelaparan yang nyata, yang diakui sendiri oleh rezim pendudukan, dan merupakan kejahatan kemanusiaan penuh.”(sl)