Arab Saudi di Persimpangan Jalan: Perang, Status Quo, atau Keluar dari Perangkap Yaman
-
Bab al-Mandeb
Pars Today – Menurut seorang pakar masalah Yaman, Arab Saudi akan mengambil skenario pengurangan ketegangan terhadap Sana'a.
Iman Mohammadi dalam wawancaranya dengan Kantor Berita Tasnim, mengenai tindakan Ansarullah Yaman dalam memberlakukan persamaan blokade sebagai balasan atas blokade, menyatakan: "Perimbangan ini diterapkan oleh Ansarullah dengan semacam ketenangan dan kesabaran. Hampir sejak April 2022 ketika gencatan senjata antara Yaman dan Arab Saudi diberlakukan dan seharusnya peta jalan itu dioperasionalkan. Peta jalan ini didasarkan pada tiga poros: yang pertama adalah pembebasan semua tahanan, yang kedua adalah tindakan-tindakan ekonomi, dan yang ketiga adalah negosiasi politik. Seharusnya ketika gencatan senjata 2022 terjadi, tindakan-tindakan lainnya akan segera dilaksanakan dan dioperasionalkan seperti peta jalan, tetapi hampir 4 tahun telah berlalu dan hal itu belum dilakukan, dan selama periode ini Ansarullah secara praktis telah bersikap tenang dan sabar dalam menghadapi masalah ini."
Pakar masalah Yaman ini, dengan menyatakan bahwa Ansarullah dapat saja sebelumnya bertindak melawan Arab Saudi dan mengubah kondisi menjadi perang atau perdamaian, mengatakan: "Sekarang kondisi mengharuskan Ansarullah untuk bergerak ke arah ini (perang atau perdamaian). Hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa Yaman tidak punya pilihan selain melakukan ini, karena Arab Saudi telah menjaga kondisi tetap formal dan jika tidak menghadapi tekanan dari Ansarullah, kondisi ini akan terus berlanjut karena tidak ada biaya bagi Riyadh, dan jika ada biaya kecil pun, mereka mendapatkannya dari pendapatan Yaman selatan (yang disimpan di Bank Al-Ihya Arab Saudi)."
Dengan menekankan bahwa Ansarullah terpaksa membuat Arab Saudi memilih antara opsi perang atau perdamaian, ia menegaskan: "Yaman memilih untuk menerapkan strategi ini dalam kondisi saat ini untuk dapat memenuhi kepentingan rakyat Yaman dan mengeluarkan negara ini dari keadaan beku (stagnasi)."
Analis ini menyebut titik awal blokade darat, laut, dan udara Yaman pada tahun 2015, dan mengatakan: "Blokade ini sedikit berkurang setelah penandatanganan gencatan senjata tetapi tidak berakhir sepenuhnya. Misalnya, larangan jumlah barang yang diimpor melalui laut ke Yaman berkurang, tetapi masuknya beberapa barang ke negara ini masih menghadapi pembatasan. Di bidang udara, penerbangan Sana'a sebelum gencatan senjata dilarang sama sekali, tetapi setelah gencatan senjata, penerbangan ke dua tujuan, yaitu Yordania dan Mesir, dilanjutkan, tetapi Kairo menyatakan bahwa Mesir tidak akan masuk ke dalam permainan ini, dan hanya Yordania yang tersisa. Sementara itu, beberapa pesawat milik Ansarullah ditembak jatuh oleh rezim Zionis dalam perkembangan pasca-7 Oktober, dan Arab Saudi juga menyatakan bahwa peristiwa ini tidak ada hubungannya dengan Riyadh dan bahwa Arab Saudi telah membuka wilayah udara Yaman, dan ini dianggap sebagai permainan ganda Saudi-Zionis untuk melarang penerbangan di Yaman."
Dengan merujuk pada kebutuhan dunia akan energi dalam kondisi saat ini, ia mengatakan: "Ansarullah dengan cerdik menerapkan strategi blokade pelabuhan sebagai balasan atas blokade pelabuhan dan menyatakan: Jika pelabuhan-pelabuhan Yaman tidak dibuka, pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi akan ditutup. Karena Selat Hormuz ditutup dan ada tekanan pada sumber daya energi dunia, dengan penerapan strategi blokade sebagai balasan atas blokade oleh Yaman, secara alami tekanan pada ekonomi dunia akan berlipat ganda."
Mohammadi menambahkan: "Jika Ansarullah memberlakukan pembatasan pada pelabuhan-pelabuhan dan kapal-kapal tanker pembawa minyak Arab Saudi di Laut Merah, dan ekspor serta impor negara itu dari pelabuhan-pelabuhan timur diblokir, Riyadh dapat memasok dan memenuhi minyak dan barang-barang yang dibutuhkannya melalui Teluk Persia. Tetapi karena Selat Hormuz ditutup dan Selat Bab al-Mandeb juga ditutup, tekanan ganda akan diberikan pada Arab Saudi, jadi sekarang adalah saat yang tepat bagi Yaman untuk memberikan tekanan berat pada Arab Saudi, sementara ruang internal Yaman cocok untuk hal ini, terutama terlihat bahwa selama beberapa bulan terakhir, ketegangan antara UEA dan Arab Saudi telah menyebar ke Yaman, yang pada akhirnya menyebabkan penarikan UEA dari Yaman."
Menjawab pertanyaan "Apa skenario-skenario yang Anda lihat ke depan?", ia menyatakan: "Dalam hal ini, tidak lebih dari tiga skenario yang ada. Pertama, 'eskalasi ketegangan', kedua, 'kelanjutan status quo', dan ketiga, 'pengurangan ketegangan'. Dalam analisis skenario pertama, dapat dikatakan bahwa jika tidak satu pun dari kedua pihak yang mundur dari prinsip-prinsip yang dirancang, kita akan menyaksikan eskalasi ketegangan antara Arab Saudi dan Yaman. Jika ketegangan ini meningkat, dengan koalisi yang telah dibentuk Arab Saudi, kita akan melihat bahwa beberapa aktor akan masuk ke dalam arena. Di sisi lain, Ansarullah akan maju selangkah dan dua langkah ke depan, dan meskipun ada blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi, kemungkinan mereka akan mengangkat masalah blokade udara negara itu, meskipun mungkin AS akan campur tangan untuk mendukung Arab Saudi, yang dalam hal ini ada kemungkinan penutupan Selat Bab al-Mandeb."
Mohammadi menegaskan: "Ini adalah suasana yang mengarah pada eskalasi ketegangan, tentu saja dalam kondisi saat ini, struktur ekonomi global tidak menginginkan suasana seperti itu, dan kemungkinan tekanan pada Arab Saudi tinggi dan Riyadh sendiri tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memasuki tingkat tantangan ini. Sementara itu, Ansarullah bukan lagi Ansarullah sebelum 2022, dan Arab Saudi bukan lagi Arab Saudi sebelumnya, dan dunia bukan lagi dunia sebelumnya. Ansarullah telah mencapai kemampuan persenjataan yang tinggi dan memiliki kemungkinan untuk memberikan pukulan yang menyakitkan kepada Arab Saudi."
Menurut keyakinan analis kawasan ini, "Arab Saudi tidak seperti sebelumnya dan dalam koalisi saat ini, UEA tidak bergabung, padahal dalam koalisi sebelumnya ia bergabung sebagai aktor terpenting. Selain itu, dalam kondisi saat ini, situasi Arab Saudi di dalam Yaman tidak baik, dan rakyat selatan berada dalam kondisi ekonomi yang lebih buruk, dan di sana dalam hal kekuatan, mereka tidak lebih terorganisir daripada utara, dan Ansarullah kondisinya lebih baik, dan secara umum dalam suasana ini Arab Saudi tidak dalam kondisi yang baik, meskipun ada kemungkinan mereka akan mengambil keputusan yang buruk karena Riyadh selalu mengaitkan situasi Yaman dengan keamanan internalnya sendiri, dan ada kemungkinan mereka akan memilih skenario eskalasi ketegangan, yang untuk mengakhirinya memerlukan negosiasi dan perjanjian gencatan senjata baru."
Mengenai skenario kedua, yaitu keadaan "bukan perang dan bukan perdamaian", ia mengatakan: "Jika kondisi saat ini berlanjut, Ansarullah mungkin sesekali menargetkan sebuah kapal tanker. Karena itu, selama beberapa hari terakhir, kapal-kapal Arab Saudi terpaksa mengelilingi Afrika dan memasuki Laut Mediterania melalui Selat Gibraltar, dan dengan melintasi Terusan Suez, berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi. Rute ini membebankan biaya dua juta lima ratus ribu dolar pada setiap kapal, yang dibayarkan. Jika dalam rute ini Ansarullah tidak bergerak menuju pemantapan persamaannya sendiri dan tidak bertindak sedemikian rupa sehingga pelabuhan-pelabuhan barat Arab Saudi menjadi tidak aman bahkan dari utara, rute ini dapat berlanjut, dan dalam suasana ini Ansarullah tidak akan mendapat manfaat apa pun, dan ini adalah hal yang sama yang diinginkan Arab Saudi, yaitu kondisi bukan perang dan bukan perdamaian akan berlanjut."
Pakar masalah Yaman ini menyebut "pengurangan ketegangan" sebagai skenario ketiga dan menyatakan: "Pergerakan menuju skenario ini telah dimulai, dan dengan negosiasi yang sedang berlangsung antara Sana'a dan Riyadh dan masuknya Oman serta negara-negara lain, ada kemungkinan skenario ini akan dilaksanakan, tentu saja salah satu kartu yang efektif di dalamnya adalah negosiasi Iran dan AS, karena negosiasi Tehran-Washington adalah berkas utama kawasan dan secara alami akan mempengaruhi berkas-berkas lainnya. Yang jelas adalah bahwa Arab Saudi telah melakukan beberapa konsesi dan harus melakukan penarikan-penarikan agar proses ini mencapai hasil."
"Di sini saya harus menunjukkan bahwa semua argumen yang diajukan untuk skenario pertama, yaitu eskalasi ketegangan, juga berlaku dalam skenario ketiga. Pasar global menginginkan agar Arab Saudi tidak meningkatkan ketegangan dengan Ansarullah Yaman, suasana internal Yaman dan Arab Saudi sepenuhnya menunjukkan arah ini, bahwa skenario pengurangan ketegangan harus diikuti."
Menjawab pertanyaan "Skenario mana yang paling mungkin dilaksanakan?", Mohammadi mengatakan: "Pendapat saya adalah skenario yang akan dilaksanakan adalah skenario pengurangan ketegangan dan penambahan tujuan-tujuan baru untuk penerbangan Sana'a. Arab Saudi telah beberapa kali bergerak menuju pelaksanaan masalah ini, tetapi dengan meredanya suasana, secara praktis mereka tidak melaksanakannya." (MF)