WP: 60 Hari Setelah Kesepakatan, Trump Masih Terperangkap di Iran—Pemilu dan Ekonomi Jadi Taruhan
-
Donald Trump
Pars Today – Washington Post dalam sebuah laporan menulis: 60 hari setelah penandatanganan nota kesepahaman Iran dan AS, Presiden AS terjebak dalam rawa perang.
Menurut laporan Kantor Berita Mehr, Washington Post dalam sebuah laporan menulis: "Dua bulan setelah penandatanganan nota kesepahaman Iran dan AS, Trump terjebak dalam rawa sementara perang terus berlanjut."
Nota kesepahaman Presiden AS, Donald Trump, dengan Iran pada bulan Juni telah mengalokasikan dua bulan untuk negosiasi, tetapi kesempatan ini kini telah tertutup dan negosiasi yang lebih luas telah menemui jalan buntu. Perang belum berakhir. Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup. Negosiasi rinci tentang program nuklir Iran tidak pernah dimulai.
Trump pada hari Senin bahkan sampai mengancam akan membombardir Oman karena negosiasinya dengan Iran tentang pengelolaan Selat Hormuz, yang sebelumnya dilalui 20 persen minyak dunia.
Enam bulan setelah agresi ke wilayah Iran yang dikoordinasikan dengan rezim Zionis, dan 78 hari sebelum pemilihan yang akan menentukan apakah partainya akan mempertahankan kendali Kongres, Trump menghadapi jenis konflik tak berujung yang ia klaim secara unik diperlengkapi untuk mencegahnya: sebuah konflik yang tidak memiliki solusi militer yang jelas, tidak ada kemajuan diplomatik yang terlihat, dan membawa biaya ekonomi serta politik yang semakin meningkat di dalam AS.
Kelanjutan kebuntuan ini menempatkannya pada risiko memimpin perang yang melemahkan salah satu prinsip utama identitas politiknya.
Lee Miringoff, Direktur Lembaga Jajak Pendapat Universitas Marist, mengatakan: "Perang ini telah menyebabkan hilangnya kepercayaan pemilih terhadap Trump dan mungkin memiliki konsekuensi yang lebih besar dalam pemilihan paruh waktu."
Miringoff mengatakan: "Bagi banyak pemilih, perang di Iran terkait dengan ekonomi. Ketika selat ditutup, harga bensin naik. Masalah Presiden Trump dan Partai Republik adalah bahwa tampaknya banyak tujuan yang ia pilih berdasarkan itu, belum tercapai. Jadi, tidak ada logika untuk masuk ke dalam perjanjian ini, dan tidak ada pemahaman yang jelas tentang bagaimana kelanjutannya, dan tidak ada tanda-tanda bagaimana kita akan keluar darinya, yang bertentangan dengan kebijakan yang baik."
Sementara itu, posisi Trump semakin melemah seiring berlarutnya perang. Yang mencolok, jajak pendapat menunjukkan erosi dukungan di kalangan Republik, yang loyalitas kuat mereka telah menjadi fondasi kekuatan politik Trump.
Sebuah jajak pendapat Economist-YouGov yang dipublikasikan minggu lalu, menunjukkan bahwa tingkat popularitas Trump di kalangan Republik adalah 79 persen, yang merupakan tingkat terendah dalam masa jabatan kedua kepresidenan dan 15 persen lebih rendah dari tingkatnya, sesaat setelah ia kembali berkuasa. Proporsi Republik yang sangat menyetujui kinerjanya, menurun lebih tajam lagi, dari 68 persen menjadi 48 persen.
Sebuah jajak pendapat Washington Post-Ipsos bulan lalu menunjukkan bahwa 15 persen orang Amerika "sangat menyetujui" kinerja pekerjaan Trump. Temuan ini untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa jajak pendapat Post-Ipsos menunjukkan bahwa lebih dari separuh pendukung Trump, secara signifikan, hanya "agak" mendukungnya, bukan sangat mendukung.
Penurunan ini tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan perang Iran. Para pemilih juga telah mengungkapkan kekecewaan terhadap inflasi, harga bensin, dan aspek-aspek lain dari kepresidenan Trump. Tetapi masalah-masalah ini semakin terjalin: perang dan gangguan berkelanjutan dalam transportasi minyak, telah membantu mengubah kebuntuan kebijakan luar negeri Trump menjadi masalah ekonomi dan politik di dalam negeri.
Robert Kagan, peneliti senior di Brookings Institution yang telah banyak menulis tentang kekuatan dan kebijakan luar negeri AS, mengatakan bahwa Trump memiliki sedikit opsi militer yang menarik di Iran, dan AS secara praktis telah kehilangan kendali atas Selat Hormuz untuk masa depan yang dapat diperkirakan, dan semakin menghadapkan pemerintahan dengan tekanan ekonomi. (MF)