Hamas: Kejahatan Zionis di Nablus dan Pengepungan Qusra Bukti Terorisme Terencana
-
Mahmoud Mardawi
Pars Today – Salah satu pemimpin Hamas menyebut penghancuran dan penangkapan di Nablus sebagai terorisme terorganisir dan menekankan kelanjutan perlawanan.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, Mahmoud Mardawi, salah satu pemimpin Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), Senin (31/8) dalam sebuah pernyataan mengutuk penghancuran rumah-rumah dan penangkapan-penangkapan yang dilakukan oleh personel militer rezim pendudukan Zionis di kota Nablus dan desa-desa sekitarnya, dan menggambarkannya sebagai bagian dari "terorisme terorganisir dan terencana" dari pemerintah pendudukan.
Mardawi menekankan bahwa tindakan-tindakan ini, di samping serangan-serangan terus-menerus para pemukim Zionis, menunjukkan upaya putus asa rezim Zionis untuk melemahkan tekad bangsa Palestina dan memisahkan mereka dari tanah dan hak-hak mereka.
Pemimpin Hamas ini dengan merujuk pada peningkatan kejahatan-kejahatan di Nablus dan seluruh Tepi Barat, menyatakan rezim pendudukan bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan ini dan meminta negara-negara dunia untuk memecah keheningan mereka dalam menghadapi serangan-serangan biadab ini dan menahan serta mengadili para pemimpin rezim Zionis.
Mardawi menegaskan bahwa penghancuran, penangkapan-penangkapan, dan serangan-serangan pemukim Zionis akan menghadapi perlawanan dan ketahanan yang lebih besar dari rakyat Palestina, dan menekankan bahwa tindakan-tindakan ini dengan cara apa pun tidak dapat memaksa bangsa Palestina untuk beremigrasi paksa atau menyerah.
Ia di akhir meminta rakyat Palestina di Tepi Barat untuk, dengan menggunakan semua alat perlawanan, berdiri melawan terorisme para penjajah dan pemukim dan memaksa musuh untuk mundur dari rencana-rencana pemukiman dan emigrasi paksa.
Kota Nablus dalam beberapa minggu terakhir telah menyaksikan eskalasi operasi militer rezim Zionis dan serangan-serangan pemukim Zionis. Kota ini yang dianggap sebagai salah satu pusat penting perlawanan Palestina, berulang kali menjadi sasaran penggerebekan besar-besaran, penangkapan massal, dan penghancuran rumah-rumah.
Di samping penggerebekan militer besar-besaran ke Tepi Barat, desa Qusra di selatan Nablus dalam beberapa minggu terakhir telah menjadi simbol eskalasi kekerasan pemukim Zionis terhadap warga Palestina. Desa ini sejak awal bulan Agustus, menjadi lokasi pengepungan jangka panjang terhadap tiga rumah tinggal oleh para pemukim yang berlangsung selama 22 hari berturut-turut.
Berdasarkan laporan-laporan, para pemukim Zionis dengan dukungan implisit personel militer, telah mengepung sepenuhnya tiga keluarga Palestina (sekitar 15 orang) di wilayah Jabal Ra's al-Ain di barat desa ini dan telah memblokir jalur-jalur akses ke rumah-rumah mereka.
Pengepungan ini disertai dengan pemutusan air dan listrik serta kekurangan parah makanan dan obat-obatan, dan menempatkan penduduk dalam kondisi kemanusiaan yang sulit.
Pengepungan ini, di samping penggerebekan militer besar-besaran ke kota-kota dan kamp-kamp di Tepi Barat, menunjukkan pola terkoordinasi dari tekanan menyeluruh terhadap penduduk Palestina dan upaya untuk mengubah geografi demografis kawasan. (MF)