CNN: Hegseth Tekan Pilot F-15 untuk Tampil di TV—Upaya Bentuk Narasi Perang Iran!
-
Menteri Perang AS, Pete Hegseth
Pars Today – CNN dalam sebuah laporan menulis bahwa Menteri Perang AS melakukan wawancara dengan pilot-pilot F-15 demi menipu publik.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, jaringan CNN melaporkan bahwa Pete Hegseth, Menteri Perang AS, dan para pejabat politik yang ditunjuknya di Pentagon, telah memberikan tekanan untuk menghadirkan dua awak jet tempur F-15 yang ditembak jatuh di atas Iran dalam program "60 Minutes"; sebuah tindakan yang menurut beberapa sumber yang mengetahui, dilakukan dalam rangka politisasi dan pembentukan narasi tentang perang yang tidak populer melawan Iran serta menampilkan operasi penyelamatan heroik untuk opini publik AS.
Berdasarkan laporan ini, kedua awak jet tempur tersebut pada awalnya ragu-ragu untuk hadir dalam program ini dan salah satunya bahkan menyatakan kekhawatiran tentang kemungkinan dipaksa mengikuti wawancara. Pada saat yang sama, pejabat-pejabat militer juga memperingatkan tentang kemungkinan terungkapnya detail rahasia operasi penyelamatan; namun demikian, para pejabat politik di kantor Hegseth bersikeras untuk melakukan wawancara dengan keduanya.
Pada akhirnya, Hegseth secara pribadi bertemu dengan kedua awak tersebut dan meminta mereka memutuskan apakah akan berpartisipasi dalam program atau tidak. Salah satu dari mereka dengan nama samaran "Bravo" setuju untuk tampil di depan kamera, tetapi pilot lainnya yang disebut "Alpha" menolak berpartisipasi dalam program.
CNN menganggap peristiwa ini sebagai tanda upaya kantor Hegseth untuk membentuk narasi media tentang perang Iran; sebuah perang yang kelanjutannya disertai dengan kritik dan tekanan terhadap Menteri Perang AS. Menurut tulisan jaringan ini, Hegseth memiliki peran yang tidak biasa dan sangat aktif dalam proses ini dan secara pribadi terlibat dalam proses perencanaan untuk wawancara dengan awak jet tempur.
Laporan ini juga merujuk pada kekhawatiran beberapa pejabat militer tentang penggunaan politik dari operasi penyelamatan. Menurut sumber-sumber CNN, beberapa personel militer khawatir bahwa kepahlawanan pasukan AS dalam operasi ini akan digunakan untuk tujuan politik dan dalam rangka pembentukan narasi tentang perang melawan Iran. Mereka juga memperingatkan tentang kemungkinan terungkapnya informasi rahasia operasi secara tidak sengaja, dalam kondisi di mana konflik dengan Iran masih berlanjut.
Meskipun ada kekhawatiran ini, para pejabat politik di kantor Hegseth bersikeras untuk melanjutkan wawancara. Bahkan Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, menyatakan kekhawatiran tentang kemungkinan terungkapnya taktik militer secara tidak sengaja selama program, tetapi pada akhirnya berpartisipasi dalam program tersebut.
Juru Bicara Senior Pentagon membantah laporan pengungkapan CNN dan menyebutnya "kebohongan belaka." Sean Parnell mengklaim bahwa keputusan untuk hadir dalam wawancara diambil secara independen oleh masing-masing awak dan Pentagon juga telah mempertimbangkan langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi informasi, sumber daya, dan metode operasional. (MF)