Jenderal Rezaei: "Kami Menang, Mereka Kalah. Sekarang Giliran Hak Iran & Perlawanan Diperkuat"
-
Mayjen Mohsen Rezaei, Panglima Garda Revolusi dalam Perang Suci 8 Tahun (Perang Iran-Irak)
Pars Today - Panglima Garda Revolusi dalam Perang Suci 8 Tahun (Perang Iran-Irak), seraya menyatakan bahwa dalam Perang Paksa Ketiga, martabat dan posisi internasional Iran meningkat, mengatakan bahwa hak-hak bangsa Iran dan Poros Perlawanan harus dikukuhkan.
Melansir IRNA, 20 Juni 2026, Pars Today melaporkan bahwa Mayjen Mohsen Rezaei dalam program wawancara khusus televisi Iran, merujuk pada pesan terbaru Pemimpin Revolusi tentang negosiasi Iran-AS, mengatakan:
"Dalam pesan Pemimpin, selain memperhatikan peran dan tanggung jawab berbagai elemen sistem, prinsip-prinsip juga diperhatikan. Artinya, meskipun beliau memiliki pandangan yang berbeda, tetapi beliau menuntut tujuan-tujuannya dalam kerangka komitmen Dewan Keamanan Nasional dan pemerintah. Perlawanan Lebanon juga sepenuhnya diperhatikan. Dari perspektif lain, penekanan pada dukungan terhadap sekutu dan Poros Perlawanan adalah bentuk dukungan bagi semua negara Islam di kawasan. Jika Poros Perlawanan tidak ada, Suriah, Lebanon, Yordania, dan bahkan Arab Saudi akan menjadi sasaran agresi rezim Zionis."
Rezaei, merujuk pada peringatan Pemimpin Revolusi bahwa harus melawan keserakahan AS, menambahkan: "Peringatan kedua beliau adalah agar tidak terpengaruh oleh musuh dan tidak boleh tertipu oleh senyuman mereka. Hal lain adalah bahwa musuh datang untuk bernegosiasi karena keputusasaan, bukan dari posisi kekuatan. Oleh karena itu, pesan Pemimpin harus menjadi kerangka negosiasi."
Rezaei, seraya menyatakan bahwa musuh selalu menunjukkan bahwa ia adalah pengkhianat janji dan mengkhianati diplomasi, mengatakan, "Kita harus mengenal dengan baik sifat dan metode pihak lawan. Mereka mengambil waktu dua bulan sejak awal gencatan senjata sebagai jeda, dan sekarang mereka mengambil kesempatan setidaknya 60 hari untuk negosiasi, mungkin untuk melewati Piala Dunia atau bahkan pemilu, dan pada akhirnya negosiasi mungkin tidak membuahkan hasil. Karena itu, kita berhak untuk meragukan mereka. Tentu saja, kita juga akan memanfaatkan peluang ini dan memperkuat diri kita sendiri."
Anggota Majelis Penentu Kebijaksanaan Nasional Iran, dengan merinci kekalahan dan tekanan yang dialami AS dalam Perang Ramadan, menyatakan:
"Krisis ekonomi yang terjadi di dunia akibat penutupan Selat Hormuz telah menimbulkan tekanan berat pada Trump, baik dari dalam AS maupun dari seluruh dunia. Masalah lain adalah kelelahan tentara AS yang datang untuk perang yang paling lama hanya dua minggu. Sepanjang perang, AS melakukan operasi pengintaian tempur dengan kapal-kapal induknya di Selat Hormuz. Ketika kapal-kapal mereka terkena serangan, mereka menyadari bahwa mereka sama sekali tidak bisa membuka Selat Hormuz. Sekutu-sekutunya juga tidak datang membantu, dan Kongres juga menekan untuk mengakhiri perang."
Mayjen Mohsen Rezaei melanjutkan, "Kami memenangkan perang. Mereka keluar dari perang sebagai penjahat yang kalah dan tidak mencapai tujuan mereka. Namun Iran mencapai tujuannya, termasuk, sesuai dengan janji Pemimpin Syahid, perang menjadi perang regional dan rakyat terbangkitkan. Tujuan lainnya adalah bahwa setelah bertahun-tahun Iran mengingatkan, negara-negara kawasan akhirnya menyadari bahwa keamanan mereka tidak dijamin oleh kehadiran asing, hal yang mereka sadari dalam perang ini dan yang lainnya adalah bahwa mereka menyadari bahwa keamanan dapat dicapai melalui kerja sama negara-negara kawasan."
Pernyataan Jenderal Rezaei ini adalah analisis dingin dari seorang veteran perang yang telah melalui Perang Iran-Irak (1980-1988) dan kini melihat konflik terbaru ini dari perspektif strategis jangka panjang. Ada tiga pesan penting yang disampaikan:
1. "Mereka Datang karena Putus Asa, Bukan Kuat"
Rezaei menekankan bahwa AS tidak datang ke meja perundingan karena kemenangan, tetapi karena kekalahan dan keputusasaan. Ini adalah narasi yang penting untuk menjaga moral domestik dan menunjukkan bahwa Iran tidak "memberi" konsesi karena tekanan, tetapi karena posisi tawar yang kuat.
2. "Hak Perlawanan Harus Dikukuhkan"
Ini adalah pesan yang ditujukan kepada tim perunding Iran: jangan lupakan poros perlawanan dalam negosiasi. Rezaei mengingatkan bahwa keberhasilan Iran di medan perang tidak terlepas dari dukungan dan pengorbanan sekutu-sekutunya di Lebanon, Suriah, dan Yaman. Mereka tidak boleh dikorbankan di meja perundingan.
3. "60 Hari adalah Jeda untuk Memperkuat Diri"
Rezaei secara eksplisit mengatakan bahwa Iran akan menggunakan 60 hari negosiasi untuk memperkuat diri, bukan hanya menunggu hasil. Ini adalah peringatan bahwa Iran tidak akan lengah selama periode ini, mereka akan terus membangun kemampuan militer dan ekonominya, apa pun hasil negosiasinya.
Yang menarik dari pernyataannya adalah pengakuan bahwa "musuh telah menunjukkan bahwa ia adalah pengkhianat janji." Ini adalah pengingat bahwa Iran memasuki negosiasi ini dengan sikap skeptis, sebuah pelajaran pahit dari pengalaman JCPOA, di mana AS keluar dari perjanjian meskipun Iran telah memenuhi komitmennya.(Sail)