Rudal Presisi AS Tak Kenal 'Error': Pesta Pernikahan di Kuhestak Jadi Korban Agresi yang Disengaja
https://parstoday.ir/id/news/iran-i196200-rudal_presisi_as_tak_kenal_'error'_pesta_pernikahan_di_kuhestak_jadi_korban_agresi_yang_disengaja
Pars Today – Pada Selasa malam, 1 September 2026, AS dengan menargetkan sebuah pesta pernikahan di Kuhestak, bagian dari Distrik Sirik, Provinsi Hormozgan, sekali lagi menunjukkan wajah aslinya kepada dunia.
(last modified 2026-09-04T03:50:48+00:00 )
Sep 04, 2026 10:49 Asia/Jakarta
  • Kuhestak, serangan rudal AS ke pesta pernikahan
    Kuhestak, serangan rudal AS ke pesta pernikahan

Pars Today – Pada Selasa malam, 1 September 2026, AS dengan menargetkan sebuah pesta pernikahan di Kuhestak, bagian dari Distrik Sirik, Provinsi Hormozgan, sekali lagi menunjukkan wajah aslinya kepada dunia.

Menurut laporan Pars Today, dalam serangan rudal terhadap pesta pernikahan di Kuhestak yang dilakukan oleh jet-jet tempur AS, empat orang, termasuk seorang wanita dan seorang anak-anak, gugur sebagai syahid dan lebih dari 60 orang lainnya terluka. Pemeriksaan sisa-sisa senjata yang digunakan menunjukkan bahwa serangan ini dilakukan dengan bom luncur presisi AGM-154 JSOW; sebuah senjata yang karena sistem pemandu canggihnya, dianggap sebagai salah satu amunisi paling presisi di gudang senjata AS dan dirancang untuk mengenai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya dengan akurasi beberapa meter.

 

AGM-154 menggunakan sistem pemandu multi-lapis yang membuatnya kebal terhadap gangguan elektronik. Bom ini, selain sistem navigasi inersia (INS) dengan presisi tinggi, juga menggunakan penerima GPS militer anti-jamming yang dilengkapi dengan teknologi SAASM untuk mendeteksi dan menghilangkan sinyal-sinyal penipu. Dalam versi-versi yang lebih canggih seperti AGM-154C, dilengkapi dengan pencari pencitraan inframerah (IIR) yang pada fase akhir penerbangan, secara independen dari sinyal eksternal apa pun, mengidentifikasi sasaran berdasarkan pola termal dan menguncinya. Ketiga lapisan pemandu yang independen dan tangguh ini, menghasilkan kesalahan akhir bom kurang dari 3 meter, dan dalam beberapa uji resmi bahkan tercatat hingga 1,2 meter. Tingkat presisi seperti itu menantang setiap pembenaran atas kesalahan teknis atau pengaruh perang elektronik.

 

Beberapa orang yang tendensius atau tidak tahu, berupaya membenarkan kejahatan ini dengan klaim kesalahan GPS akibat perang elektronik. Namun, pemeriksaan cermat terhadap spesifikasi teknis amunisi ini menjadikan klaim ini tidak memiliki dasar ilmiah.

 

Dokumen-dokumen Pentagon menekankan bahwa kinerja bom ini di lingkungan yang penuh dengan gangguan GPS, tidak berbeda secara signifikan dengan kondisi normal. Bahkan dalam versi-versi yang lebih tua, sistem INS dapat mempertahankan akurasi 10 meter jika GPS terputus, dan dalam versi-versi yang dilengkapi dengan pencari inframerah, secara praktis tidak ada gangguan yang dapat mencegah bom mengenai sasaran dengan tepat.

 

CENTCOM mengklaim bahwa mereka menargetkan sebuah menara telekomunikasi, sementara jarak antara lokasi pesta pernikahan dan menara telekomunikasi terdekat setidaknya 135 meter; angka yang dengan sendirinya mengungkap kebohongan setiap klaim tentang kesalahan teknis. Untuk menciptakan penyimpangan sebesar itu, ketiga sistem INS, GPS, dan IIR harus secara bersamaan dan terkoordinasi mengalami kesalahan besar, yang secara teknis tidak mungkin. Oleh karena itu, satu-satunya interpretasi teknis yang dapat diterima adalah bahwa koordinat bangunan tempat pesta pernikahan itu sendiri telah disimpan terlebih dahulu dalam memori bom, dan penghantamannya adalah tindakan yang disengaja dan diperhitungkan.

 

Tetapi melampaui diskusi teknis, prinsip masalahnya tidak boleh diabaikan: menargetkan setiap titik di wilayah Republik Islam Iran oleh pasukan AS, terlepas dari apakah titik itu adalah pesta pernikahan atau menara telekomunikasi, dengan sendirinya adalah tindakan teroris dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional.

 

Normalisasi serangan-serangan ini dengan dalih-dalih palsu seperti kesalahan perangkat atau kekeliruan dalam identifikasi, tidak hanya tidak dapat dibenarkan, tetapi juga berarti melegitimasi agresi militer. AS dengan tindakan keji ini, tidak hanya menargetkan nyawa warga sipil tak berdosa, tetapi juga melanggar integritas teritorial Iran, dan membuktikan bahwa baginya tidak ada perbedaan apakah targetnya adalah sebuah bangunan tempat tinggal yang penuh dengan warga sipil atau fasilitas infrastruktur; yang penting adalah penggunaan kekerasan dan pemajuan tujuan-tujuan ekspansionis dengan cara apa pun.

 

Catatan memalukan AS dalam pembunuhan warga sipil selama perang 12 hari dan perang 40 hari, kini dengan kejahatan Kuhestak, telah menemukan lembaran memalukan lainnya; lembaran-lembaran yang tidak akan pernah sesuai dengan slogan-slogan palsu pembelaan hak asasi manusia. Masyarakat internasional, terutama lembaga-lembaga hukum internasional, berkewajiban untuk mengutuk kejahatan terang-terangan ini dan, dengan membentuk pengadilan yang kompeten, meminta pertanggungjawaban para pelakunya atas tindakan-tindakan keji mereka. Republik Islam Iran juga, dengan mengandalkan hak sah untuk membela diri, tidak akan membiarkan setiap tindakan agresif tanpa balasan, dan menilai tanggung jawab berat atas kejahatan ini berada di pundak pemerintah AS. (MF)