Yaman, Laboratorium Senjata Terlarang Barat
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i87284-yaman_laboratorium_senjata_terlarang_barat
Hamid Abdul Qadir Antar, penasihat perdana menteri Pemerintah Keselamatan Nasional Yaman, mengatakan Yaman telah menjadi tempat uji coba senjata-senjata terlarang Barat.
(last modified 2026-02-08T09:53:30+00:00 )
Nov 15, 2020 18:15 Asia/Jakarta
  • Serangan bom terlarang oleh koalisi Agresor Saudi di Yaman
    Serangan bom terlarang oleh koalisi Agresor Saudi di Yaman

Hamid Abdul Qadir Antar, penasihat perdana menteri Pemerintah Keselamatan Nasional Yaman, mengatakan Yaman telah menjadi tempat uji coba senjata-senjata terlarang Barat.

Agresi koalisi Saudi terhadap Yaman telah mengkahiri bulang ke-68. Perang ini memiliki dimensi yang berbeda, namun penggunaan senjata terlarang merupakan salah satu dimensi penting dari perang ini. Koalisi Saudi dilaporkan telah menggunakan sejumlah senjata terlarang dalam 68 bulan terakhir.

Bom tandan, mikroba, fosfor, kimia, napalm, dan vakum, serta gas saraf dan mustard serta berbagai rudal adalah di antara senjata terlarang yang digunakan koalisi Saudi terhadap Yaman selama 68 bulan terakhir. Organisasi hak asasi manusia sebelumnya menuduh Arab Saudi menggunakan bom tandan terhadap rakyat Yaman.

Bom terlarang yang dijatuhkan di Yaman

Rupert Colville, Juru Bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menyatakan koalisi agresor pimpinan Saudi terhadap Yaman telah menggunakan bom tandan terlarang di Yaman. Penggunaan bom ini dilarang berdasarkan Konvensi Amunisi Tandan 2008, yang telah diratifikasi oleh sekitar 100 negara.

Penting untuk dicatat bahwa senjata terlarang ini terutama diproduksi di Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman. Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, Amerika Serikat adalah pemasok peralatan militer terbesar Arab Saudi dari 2015 hingga 2019, menyumbang 73% dari impor senjata negara itu. Penjualan senjata ke Arab Saudi menyumbang 25 persen dari total ekspor senjata AS antara 2015 dan 2019. Inggris juga telah mengesahkan penjualan 6,4 miliar pound senjata ke Arab Saudi sejak Januari 2015.

"Angkatan udara yang berafiliasi dengan koalisi global agresor memiliki satu juta penerbangan dalam enam tahun. Perusahaan-perusahaan senjata di Amerika Serikat dan Inggris menguji senjata mereka di Yaman. Dalam perang ini, senjata terlarang internasional, mematikan, dan merusak secara internasional dituangkan ke warga sipil, menghancurkan infrastruktur dan menghancurkan rumah orang," kata Hamid Abdul Qadir Antar, analis politik dan strategis dan penasihat perdana menteri Pemerintah Keselamatan Nasional Yaman.

Konsekuensi dari penggunaan senjata terlarang terhadap warga Yaman adalah bencana kemanusiaan terbesar di dunia dalam beberapa dekade terakhir. Selain puluhan ribu orang tewas dan terluka dalam perang ini, penyakit meningkat tajam dan infrastruktur Yaman telah hancur.

"Sejak awal agresi di Yaman, jumlah pasien kanker di daerah yang dibom dengan senjata terlarang telah meningkat 100 persen," ungkap Taha al-Mutawakil, Menteri Kesehatan Pemerintah Keselamatan Nasional Yaman. Al-Mutawakil mengatakan bahwa gangguan mental dan saraf di antara orang Yaman telah meningkat sebagai akibat dari meningkatnya serangan oleh koalisi agresi Saudi, dan bahwa koalisi Saudi menggunakan senjata terlarang di daerah pemukiman dan sipil.

Taha al-Mutawakil, Menteri Kesehatan Pemerintah Keselamatan Nasional Yaman

Sementara itu, Menteri Perikanan Yaman Mohammed al-Zubairi mengatakan industri perikanan negara itu telah menderita kerugian setidaknya $ 9 miliar akibat agresi Saudi di lepas pantai Yaman. Menteri Transportasi Pemerintah Keselamatan Nasional Yaman, Zakaria al-Shami, juga menyatakan bahwa sektor transportasi Yaman telah merugi setidaknya $ 5.856 juta akibat serangan dan pengepungan tersebut.

Terlepas dari kerugian manusiawi dan tidak manusiawi yang kasat mata dan beragam dari penggunaan senjata terlarang, tetapi sikap diam adalah tanggapan paling penting untuk kejahatan ini oleh komunitas internasional hingga saat ini.