Dari Al-Buwaihi hingga Takyeh Dowlat: Jejak 1.000 Tahun Berkabung Muharam di Iran
-
Pelaksanaan acara berkabung di Iran
Pars Today - Ritual-ritual berkabung bulan Muharam yang hari ini digelar dengan kemegahan khusus, memiliki akar yang dalam dalam sejarah bangsa Iran.
Melansir Mehr News Agency, 17 Juni 2026, Muharam Al-Haram tahun ini telah tiba, dan hati-hati yang berkabung dari umat Muslim dunia lebih dari segala saat teringat pada kezaliman yang dialami syuhada Karbala di momen bersejarah ini.
Sejarah perkabungan di Iran memiliki ikatan yang tak terpisahkan dengan identitas budaya dan agama di Iran. Ritual-ritual berkabung bulan Muharam yang hari ini digelar dengan kemegahan khusus, memiliki akar yang dalam dalam sejarah bangsa Iran.
Al-Buwaihi: Ketika Perkabungan Keluar dari Persembunyian
Untuk pertama kalinya perkabungan untuk Imam Husain as keluar dari keadaan tersembunyi dan mewujud sebagai ritual resmi dan publik di bentang geografis Iran dan Irak, adalah pada abad keempat Hijriah dan masa pemerintahan Dinasti Al-Buwaihi. Mu'izzud Daulah Dailami pada tahun 352 Hijriah memerintahkan bahwa pada hari Asyura seluruh pasar ditutup, jual beli dihentikan, dan masyarakat dengan mengenakan pakaian hitam serta mengibarkan bendera-bendera duka, melakukan perkabungan secara terbuka di gang-gang dan jalan-jalan. Perintah ini merupakan batu pertama pembentukan iring-iringan perkabungan resmi di Iran.
Safawi: Era Keemasan Ritual yang Terstruktur
Setelah masa jeda di era Dinasti Seljuk, dengan naiknya Dinasti Safawi, perkabungan Muharam memasuki babak baru dalam kemegahan dan keagungannya. Safawi dengan meresmikan mazhab Syiah, meritualkan praktik-praktik seperti zanjirzani (memukul rantai) dan sineh-zani (memukul dada) dengan tata yang teratur. Pada periode ini, iring-iringan perkabungan karena keterkaitannya dengan kekuatan militer (Qizilbash), memperoleh dimensi kepahlawanan yang contohnya masih dapat dilihat dalam ritual "Shah-Husin-guyan" (Shah-Sin) di Azerbaijan.
Di era ini pula, literatur Asyura berkembang dari bahasa Arab ke bahasa Persia dan Turki, dan marsiyah-sarai (seni meratapi) berubah menjadi seni yang luhur.
Qajar: Puncak Keberagaman Ritual dan Lahirnya Ta'ziyeh
Masa Dinasti Qajar, khususnya Era Naseri, dapat disebut sebagai masa keemasan keberagaman dan pluralisme dalam cara-cara perkabungan. Pada periode ini, "Ta'ziyeh" atau syabih-khani (teater passion) mencapai puncak evolusi artistiknya, dan bangunan megah "Takyeh Dowlat" dengan kapasitas ribuan orang dibangun untuk mementaskan pertunjukan-pertunjukan agung peristiwa Karbala. Naseruddin Shah dengan mendukung para pembaca Ta'ziyeh terkemuka, mengubah seni ini menjadi ritual nasional.
Selain Ta'ziyeh, tradisi-tradisi seperti pendirian saqqakhaneh (rumah minum), upacara tashtgozari di wilayah-wilayah Azerbaijan, dan pembentukan kelompok-kelompok profesi seperti "Himpunan Pedagang" di pasar Tehran menjadi marak. Pada periode ini, perkabungan bukan sekadar tindakan ibadah, melainkan memiliki ikatan yang dalam dengan struktur sosial dan profesi masyarakat, dan setiap kampung dan profesi mendirikan takyeh dan bendera tersendiri bagi mereka.
Takyeh-takyeh tua Tehran seperti Takyeh Tajrish, Sadat Akhavi, dan Darband yang memiliki usia lebih dari 150 tahun, adalah peninggalan dari periode ini yang dengan arsitektur khasnya (lantai dua untuk perempuan dan panggung tengah untuk Ta'ziyeh) membentuk identitas religius ibu kota.
Pahlavi I: Larangan dan Migrasi Perkabungan ke Rumah-Rumah
Dengan naiknya Reza Shah, kebijakan negara bergerak ke arah pembatasan dan kemudian pelarangan total perkabungan publik. Reza Shah yang pada awalnya sendiri dengan kaki telanjang berpartisipasi dalam iring-iringan, setelah kekuasaannya kokoh, melenggarakan upacara di takyeh-takyeh dan menggerakkan iring-iringan jalanan dilarang.
Tekanan-tekanan ini menyebabkan perkabungan berpindah ke dalam rumah-rumah, dan fenomena "Raudhah-khani rumah tangga" dan kelompok-kelompok rahasia terbentuk. Pada masa ini, masyarakat dengan memperhatikan langkah-langkah keamanan, mengadakan majelis-majelis kecil pada jam-jam awal pagi atau akhir malam, agar api duka Husaini tidak padam.
Pahlavi II: Dari Majelis Rumah Tangga ke Basis Revolusi
Setelah jatuhnya Reza Shah, pada periode Pahlavi II, pembatasan-pembatasan terbuka berkurang dan kelompok-kelompok religius secara bertahap berubah menjadi pusat-pusat kohesi sosial dan politik; sedemikian rupa sehingga pada dekade 40-an dan 50-an (kalender Iran), kelompok-kelompok dan mimbar-mimbar Muharam ini berubah menjadi basis-basis utama pencerahan dan awal gerakan-gerakan revolusioner yang berujung pada kejatuhan monarki.
Tradisi Abadi dan Ritual Lokal
Bagian penting dari kemegahan Muharam di Iran, berutang pada ritual-ritual tradisional yang di berbagai penjuru negeri dipertahankan dengan ciri-ciri lokal. Nakhl-gardani di Yazd dan wilayah-wilayah tengah Iran, yang merupakan simbol pengiringan jenazah suci Imam Husain as, adalah salah satu ritual termegah.
Di Tehran lama, takyeh-takyeh seperti "Takyeh Sopir" di Maidan Qazvin dengan lukisan-lukisan qahveh-khaneh-nya, atau Takyeh Duzashib dengan tradisi jamuan timbal balik para peziarah kampung-kampung tetangga pada malam-malam Tasu'a dan Asyura, menunjukkan kedalaman penetrasi ritual ini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Juga, adat-adat kasih sayang seperti memberi makan para peziarah, nazar nan kosong (nazar roti polos) pada sepuluh hari pertama oleh sebagian mukmin sebagai tanda berempati dengan haus dan lapar Ahlul Bait, dan menghitamkan pintu dan dinding kota, semuanya menunjukkan bahwa Muharam di Iran bukan sekadar kalender religius, melainkan musim untuk membangun kembali moral, pengorbanan, dan menyambung kembali dengan konsep-konsep luhur kemanusiaan yang telah berakar berabad-abad dalam jiwa Iran. Tradisi-tradisi ini, terlepas dari perubahan zaman, masih dengan kekuatan diturunkan ke generasi-generasi berikutnya dan menjaga identitas Syiah tetap hidup dalam tubuh masyarakat.
Sejarah perkabungan Muharam di Iran adalah cermin dari sejarah politik negeri itu sendiri. Ketika negara mendukung (Al-Buwaihi, Safawi, Qajar), ritual berkembang menjadi seni, arsitektur, dan identitas nasional. Ketika negara menekan (Pahlavi I), ritual tidak mati, ia bermigrasi ke ruang privat, menjadi lebih intim, lebih tahan banting. Dan ketika tekanan itu runtuh, ritual yang "bersembunyi" di rumah-rumah itu justru menjadi benih revolusi. Ini adalah pelajaran yang luar biasa: bahwa tradisi yang mengakar dalam jiwa sebuah bangsa tidak bisa dihapus dengan dekrit. Ia bisa ditekan, dipaksa bersembunyi, tapi ia akan selalu menemukan jalan untuk Kembali, kadang dalam bentuk Ta'ziyeh yang megah, kadang dalam bentuk Raudhah-khani yang berbisik di ruang tamu, dan kadang dalam bentuk gerakan revolusioner yang mengubah peta politik.(Sail)