Pergeseran Strategis AS dan Israel di Lebanon: Dari Perlucutan Senjata Hizbullah hingga Negosiasi Beirut-Tel Aviv
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i179758-pergeseran_strategis_as_dan_israel_di_lebanon_dari_perlucutan_senjata_hizbullah_hingga_negosiasi_beirut_tel_aviv
Pars Today - Sebagai akibat dari keteguhan Hizbullah Lebanon dalam menolak rencana pelucutan senjata dan gagalnya tekanan politik Barat, fokus Amerika Serikat dan Israel kini bergeser dari upaya melemahkan perlawanan menuju memaksa pemerintah Lebanon untuk melakukan perundingan langsung dengan rezim Zionis.
(last modified 2025-11-07T06:06:16+00:00 )
Nov 07, 2025 13:04 Asia/Jakarta
  • Utusan Presiden AS dan Presiden Lebanon
    Utusan Presiden AS dan Presiden Lebanon

Pars Today - Sebagai akibat dari keteguhan Hizbullah Lebanon dalam menolak rencana pelucutan senjata dan gagalnya tekanan politik Barat, fokus Amerika Serikat dan Israel kini bergeser dari upaya melemahkan perlawanan menuju memaksa pemerintah Lebanon untuk melakukan perundingan langsung dengan rezim Zionis.

Perkembangan politik terbaru di Lebanon menunjukkan adanya perubahan nyata dalam retorika dan tujuan para utusan Amerika ke negara ini.

Misi Tom Barrack, utusan khusus AS untuk urusan Lebanon, yang pada awalnya berfokus pada pelucutan senjata Hizbullah, kini beralih menjadi dorongan bagi dimulainya perundingan langsung antara Lebanon dan Israel.

Perubahan ini, yang terjadi bersamaan dengan sikap lebih lunak dari pemerintahan Joseph Aoun, dapat membuka arah baru dalam masa depan politik dan keamanan Lebanon, sebuah arah yang, menurut banyak pengamat, berpotensi membawa risiko normalisasi hubungan dengan Israel.

Dari Keteguhan Hezbollah hingga Kemunduran Pemerintahan Aoun

Sejak pemerintahan Joseph Aoun terbentuk pada Januari lalu, langkah pertamanya adalah berusaha mengesahkan rencana pelucutan senjata Hizbullah.

Meskipun menghadapi penentangan keras dari para menteri Syiah serta peringatan luas dari kalangan politik dan masyarakat, rencana ini disetujui kabinet di bawah tekanan kuat Amerika Serikat dan Israel.

Sebagai tanggapan, Hizbullah dengan tegas menegaskan tekadnya untuk mempertahankan persenjataan.

Sheikh Naim Qassem, Sekretaris Jendeal Hizbullah Lebanon, bahkan memperingatkan kemungkinan pecahnya perang saudara apabila tekanan tersebut berlanjut.

Perlawanan Hizbullah tidak hanya ditunjukkan di ranah politik, tetapi juga di lapangan, melalui parade militer dan peringatan haul syahid Sayid Hassan Nasrallah, yang menjadi pesan tegas kepada pemerintahan Aoun dan Tel Aviv,

“Pelucutan senjata perlawanan adalah garis merah.”

Pemerintah Aoun Bersikap Lunak terhadap Tel Aviv

Dengan gagalnya upaya pelucutan senjata Hizbullah, pemerintahan Aoun secara bertahap mulai melunak dalam sikapnya.

Joseph Aoun, Presiden Lebanon, dalam pertemuan darurat di Qatar, berbicara mengenai “perdamaian Arab” dan menyatakan kesiapannya untuk berdialog dengan Israel.

Sikap ini mencerminkan keinginannya untuk sejalan dengan agenda Amerika Serikat dan Tel Aviv.

Baru-baru ini, Aoun juga menegaskan bahwa “perundingan langsung dengan Israel adalah satu-satunya opsi yang tersedia bagi Lebanon”.

Sebagai tanggapan, Abdel Bari Atwan, analis politik terkemuka dunia Arab, menyebut pernyataan tersebut sebagai “pemberian konsesi yang tergesa-gesa” dan menilainya sebagai hadiah bagi Israel atas kejahatan dan pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata di wilayah Lebanon.

Atwan memperingatkan bahwa perundingan semacam itu merupakan langkah awal menuju normalisasi hubungan dengan rezim Zionis, terlebih setelah Israel gagal melucuti senjata Hizbullah dan kini berusaha meraih keuntungan lain dari Lebanon.

Pemaksaan Pola Kesepakatan Damaskus terhadap Beirut

Harian Lebanon Al-Akhbar dalam laporannya mengungkapkan tekanan Amerika Serikat untuk memaksakan tuntutan Israel terhadap Beirut.

Menurut seorang politisi Lebanon, Washington berpendapat bahwa Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB, yang menjadi dasar gencatan senjata pasca Perang 33 Hari tahun 2006, telah kehilangan efektivitasnya dan Israel tidak lagi terikat pada ketentuan tersebut.

Kini, Tel Aviv berupaya memaksa Lebanon memasuki perundingan langsung, pertama dalam bidang politik dan kemudian dalam bidang keamanan, sebuah langkah yang sangat mirip dengan “Kesepakatan Keamanan Damaskus”, perjanjian yang pernah disepakati antara Suriah dan Israel dan pada akhirnya memenuhi sepenuhnya tuntutan Tel Aviv.

Menurut laporan koran Al-Akhbar, bahkan nama-nama calon delegasi Lebanon untuk perundingan tersebut telah ditentukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Tujuan akhir dari proses ini adalah memaksakan normalisasi hubungan terhadap Beirut dan kemudian pelucutan total senjata Hizbullah.

Namun, indikasi yang ada menunjukkan bahwa Hizbullah tetap teguh menolak setiap bentuk kompromi dan siap menghadapi tekanan eksternal apa pun.

Pergeseran Strategi AS dan Israel: Pelucutan Senjata ke Dialog

Perubahan pendekatan Amerika Serikat dan Israel, dari pelucutan senjata perlawanan ke dorongan dialog langsung dengan Lebanon, menunjukkan kegagalan proyek mereka untuk melemahkan Hizbullah.

Sementara Washington dan Tel Aviv berusaha memperoleh keuntungan politik dari Beirut dan membuka jalan bagi normalisasi hubungan, perlawanan Lebanon, yang berlandaskan dukungan rakyat dan legitimasi nasional, tetap menjadi penghalang utama bagi keberhasilan tujuan tersebut.

Kini, Lebanon berada di persimpangan bersejarah: di satu sisi tekanan eksternal untuk berdamai, dan di sisi lain keteguhan perlawanan dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan nasional.

Hasil dari konfrontasi ini akan menentukan bukan hanya masa depan Lebanon, tetapi juga keseimbangan kekuatan di seluruh kawasan.(sl)