Transformasi Asia Barat
Dari Eskalasi Konflik di Suriah dan Yaman hingga Peringatan tentang Runtuhnya Bantuan di Gaza
Pars Today – Transformasi luas pekan lalu mencakup masuknya tentara rezim Zionis ke sekitar Quneitra, Suriah, penyerbuan anasir pemerintah al-Jolani ke wilayah Alawi Suriah, dan eskalasi tensi di Yaman selatan, serta peringatan internasional terkait runtuhnya proses bantuan di Gaza, semuanya menunjukkan gejolak di kawasan Asia Barat.
Menurut laporan Pars Today yang dikutip dari IRNA, banyak perkembangan terjadi selama pekan lalu di kawasan Asia Barat. Di antaranya adalah laporan sumber-sumber Zionis mengenai penilaian Israel untuk mengakui kelompok separatis di Yaman Selatan setelah pengakuan terhadap Somaliland, serta pengungkapan penindasan yang dialami para tahanan Palestina di penjara-penjara rezim Zionis dan tindakan tidak manusiawi serta anti-kemanusiaan Menteri Keamanan Dalam Negeri rezim tersebut terhadap para tahanan.
Selain itu, sebuah sumber kerajaan Saudi menyebut upaya para penjajah Zionis untuk memperluas pengaruh di Tanduk Afrika dan Laut Merah sebagai pukulan terhadap “normalisasi hubungan”, ancaman bagi keamanan regional, dan pelanggaran hukum internasional. Sumber-sumber berita juga melaporkan tewasnya tiga polisi Turki dalam bentrokan dengan elemen kelompok teroris ISIS.
Kementerian Luar Negeri Mesir, sebagai tanggapan atas langkah rezim Zionis yang mengakui “Somaliland”, menyerukan diadakannya sidang darurat Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika.
Telah dikonfirmasi secara resmi gugurnya Abu Ubaida, juru bicara sayap militer Gerakan Hamas, bersamaan dengan pengumuman penggantinya. Afrika Selatan memperingatkan bahwa keputusan rezim Zionis untuk mengakui wilayah Somaliland sebagai negara merdeka merupakan “ancaman langsung” bagi perdamaian di Tanduk Afrika. Gerakan Fatah menolak segala upaya untuk membagi Jalur Gaza atau memisahkan sebagian darinya, dan menegaskan bahwa Gaza adalah bagian tak terpisahkan dari tanah Palestina bersama dengan Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Berita lain menyebutkan bahwa sumber lokal melaporkan serangan elemen pemerintahan al-Joulani terhadap kawasan berpenduduk Alawi di Latakia, Suriah, serta perusakan harta benda warga di daerah tersebut.
Selain itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengumumkan persetujuan kontrak senilai 8,6 miliar dolar untuk penjualan jet tempur F-15 buatan Boeing kepada Israel.
Tentara rezim Zionis juga, dengan mengakui kasus bunuh diri puluhan tentaranya, merilis ringkasan data kerugian pada tahun 2025 dan mengakui bahwa 151 tentara tewas sepanjang tahun ini.
Dewan Menteri Arab Saudi, dalam kelanjutan reaksinya terhadap ketegangan yang muncul di Yaman Selatan, menyatakan harapan agar Uni Emirat Arab menanggapi secara positif tenggat waktu 24 jam untuk menarik pasukannya dari wilayah selatan Yaman.
Saluran televisi Al-Mayadeen, mengutip sumbernya, melaporkan bahwa pasukan Dewan Transisi Selatan yang didukung oleh UEA telah mundur dari beberapa wilayah di timur Yaman.
Selain itu, sebuah media Zionis mengutip sumber yang disebutnya “berpengetahuan” dan mengklaim bahwa tenggat waktu dua bulan telah ditetapkan sebagai batas akhir bersama Israel dan Amerika Serikat untuk melucuti senjata Hamas.
Majalah National Interest menulis bahwa pemerintah Amerika, sebelum membuat komitmen finansial baru, harus menangguhkan bantuan militer kepada Israel dan menggunakannya sebagai alat tekanan untuk menghentikan pelanggaran gencatan senjata, mengakhiri serangan militer, dan mencegah Amerika Serikat terseret ke konflik regional baru.
Selain itu, Wakil Komandan Operasi Gabungan Irak mengumumkan bahwa pasukan koalisi internasional yang disebut anti-ISIS akan keluar dari pangkalan Ain al-Asad dalam pekan depan.
Sheikh Maher Hammoud, Ketua Persatuan Ulama Perlawanan Dunia, dengan menyinggung kondisi krisis yang dialami penduduk Gaza akibat tindakan brutal rezim Zionis serta memburuknya situasi mereka di musim dingin, mengkritik sikap pasif dunia Arab. Ia menekankan bahwa di Gaza bahkan kebutuhan hidup paling dasar tidak tersedia, seperti listrik dan alat pemanas di musim dingin serta curah hujan yang tinggi. Menurutnya, warga Palestina di Gaza hidup dalam kondisi sulit di bawah tenda, air hujan merembes ke dalam tenda mereka, sementara mereka juga tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan maupun kebutuhan hidup paling sederhana.
Sebanyak 53 organisasi non-pemerintah internasional melalui sebuah pernyataan bersama memperingatkan bahwa peraturan administratif dan prosedur baru rezim Israel telah membuat aktivitas puluhan lembaga bantuan di Jalur Gaza dan Tepi Barat terancam berhenti total. (MF)