Menteri Perang Israel: Kami tidak akan Meninggalkan Lebanon sampai Hizbullah Dilucuti Senjatanya
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i185602-menteri_perang_israel_kami_tidak_akan_meninggalkan_lebanon_sampai_hizbullah_dilucuti_senjatanya
Pars Today - Israel Katz, Menteri Perang rezim Zionis, dalam kelanjutan dalih-dalihnya untuk tetap menduduki wilayah Lebanon, menyatakan bahwa selama Hizbullah masih memiliki senjata, tentara rezim ini tidak akan keluar dari Lebanon.
(last modified 2026-02-17T13:38:57+00:00 )
Feb 17, 2026 20:37 Asia/Jakarta
  • Menteri Perang Israel, Israel Katz
    Menteri Perang Israel, Israel Katz

Pars Today - Israel Katz, Menteri Perang rezim Zionis, dalam kelanjutan dalih-dalihnya untuk tetap menduduki wilayah Lebanon, menyatakan bahwa selama Hizbullah masih memiliki senjata, tentara rezim ini tidak akan keluar dari Lebanon.

Menurut laporan IRNA pada hari Selasa (17/2/2026) mengutip Sputnik Arab, Katz menegaskan bahwa keberadaan tentara rezim ini di lima titik perbatasan di Lebanon selatan bukanlah bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Namun, Israel memaksakan situasi ini di lapangan dan Amerika Serikat pun menerimanya.

 

Pernyataan Menteri Perang rezim pendudukan ini disampaikan meskipun pada hari Senin pekan lalu, tentara rezim tersebut mengumumkan telah melakukan serangkaian serangan udara terhadap sejumlah titik di Lebanon selatan. Menurut klaim Tel Aviv, serangan tersebut menargetkan infrastruktur yang terkait dengan Hizbullah.

 

Dalam pernyataan tentara pendudukan disebutkan bahwa serangan-serangan ini membidik gudang penyimpanan peralatan perang dan landasan peluncur roket.

 

Rezim Zionis meningkatkan agresinya terhadap Lebanon pada 1 Oktober 2024 (10 Mehr 1403). Setelah dua bulan, pada hari Rabu, 7 Azar, akhirnya mereka menandatangani gencatan senjata dengan mediasi Amerika Serikat, namun secara terus-menerus berulang kali melanggarnya.

 

Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, militer rezim Zionis seharusnya keluar dari Lebanon selatan dalam waktu 60 hari. Akan tetapi, rezim ini, bertentangan dengan hukum internasional, mempertahankan militernya di lima posisi strategis di wilayah tersebut dan tidak meninggalkannya.

 

Kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada November 2024  mengakhiri perang lebih dari satu tahun antara Hizbullah dan Israel. Meskipun demikian, rezim Zionis terus melanjutkan serangannya terhadap Lebanon dan mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan infrastruktur dan kekuatan militer Hizbullah.

 

Menyusul tekanan luas dari Amerika Serikat dan kekhawatiran akan kemungkinan eskalasi konflik, pemerintah Lebanon menyetujui sebuah rencana untuk melucuti senjata Hizbullah sesuai dengan ketentuan kesepakatan. Tentara Lebanon telah memulai implementasi rencana ini, dan tahap pertamanya di wilayah perbatasan dijadwalkan selesai pada akhir tahun lalu. (MF)