Menlu Oman: Tujuan Perang Saat Ini Bukan Hanya Iran, Melainkan Menggambar Ulang Struktur Kawasan
-
adr bin Hamad Al-Busaidi, Menteri Luar Negeri Oman
Pars Today- Menteri Luar Negeri Oman menekankan bahwa tujuan perang saat ini bukanlah hanya Iran, melainkan untuk menggambar ulang struktur kawasan.
Dilaporkan pada hari Rabu (11/3/2026) oleh IRNA, Badr bin Hamad Al-Busaidi, Menteri Luar Negeri Oman, dalam pernyataannya mengatakan: “Ada sebuah rencana untuk menargetkan kawasan, dan dalam rencana ini, Iran bukanlah satu-satunya target. Banyak pihak di kawasan mengetahui hal ini, tetapi mereka percaya bahwa bekerja sama dengan Amerika Serikat akan membuat negara tersebut memperbaiki keputusan dan pendekatannya.”
Ia menambahkan: “Tujuan perang saat ini adalah melemahkan Iran, menggambar ulang kawasan, dan bergerak menuju rekonsiliasi.”
Al-Busaidi mencatat: “Oman tidak akan bergabung dengan Dewan Perdamaian dan tidak akan berdamai dengan Israel.”
Menteri Luar Negeri Oman mengatakan: “Kesultanan Oman terus berupaya untuk menghentikan perang dan menciptakan landasan untuk kembali ke diplomasi, karena kelanjutan perang tidak sejalan dengan kepentingan vital Oman dan kawasan.”
Ia menekankan: “Oman menolak memberikan dukungan atau layanan apa pun yang dapat berkontribusi dalam perang ini atau perang lainnya. Kesultanan Oman tetap teguh pada prinsip-prinsip kebijakan luar negerinya meskipun terjadi perkembangan berbahaya di kawasan.”
Menteri Luar Negeri Oman sebelumnya juga mengumumkan: “Pemenuhan kepentingan regional serta kepentingan Amerika Serikat hanya akan mungkin tercapai melalui gencatan senjata segera dan kembali ke meja perundingan dan diplomasi.”
Ia selanjutnya, sambil merujuk pada konsekuensi berat dari krisis ini, mencatat: “Tingkat kerugian ekonomi dan kemungkinan terjadinya bencana kemanusiaan besar di kawasan adalah dua isu yang sama sekali tidak dapat ditoleransi atau diabaikan.”
Menurut laporan IRNA, agresi militer bersama Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Republik Islam Iran, yang mengakibatkan syahidnya Ayatullah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, dimulai pada subuh hari Selasa, 9 Esfand 1404 (28 Februari 2026). Tindakan ini terjadi di tengah negosiasi tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi oleh beberapa negara di kawasan.
Analis berpendapat bahwa tindakan ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat dalam praktiknya tidak memiliki kepatuhan yang memadai terhadap prinsip-prinsip dialog, membangun kepercayaan, dan penyelesaian sengketa secara damai, serta masih menggunakan opsi militer sebagai alat tekanan politik.
Republik Islam Iran, sebagai tanggapan atas dimulainya agresi militer bersama Amerika Serikat dan rezim Zionis, memberikan respons yang tegas, terarah, dan proporsional terhadap tindakan tersebut. Dalam kerangka tanggapan yang sah ini, posisi militer dan keamanan rezim Zionis di berbagai kota di Palestina yang diduduki, serta pangkalan dan pusat penempatan pasukan Amerika di kawasan, menjadi sasaran serangan rudal, drone, dan udara yang akurat. (MF)