"Kami Dikhianati": Media Israel Mengamuk, Sebut Trump-Araghchi Deal "Kuburan" Bagi Netanyahu
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i191654-kami_dikhianati_media_israel_mengamuk_sebut_trump_araghchi_deal_kuburan_bagi_netanyahu
Pars Today - Para analis rezim Zionis menilai kesepakatan antara Iran dan AS sebagai kekalahan yang sangat memalukan bagi Tel Aviv.
(last modified 2026-06-17T06:02:25+00:00 )
Jun 17, 2026 13:00 Asia/Jakarta
  • Perdana Menteri Zionis Benjamin Netanyahu
    Perdana Menteri Zionis Benjamin Netanyahu

Pars Today - Para analis rezim Zionis menilai kesepakatan antara Iran dan AS sebagai kekalahan yang sangat memalukan bagi Tel Aviv.

Melansir IRNA, 17 Juni 2026, Pars Today melaporkan bahwa pengumuman kesepakatan antara Iran dan AS untuk mengakhiri perang telah terasa sangat pahit bagi pihak Zionis, dan mereka sangat marah serta menunggu publikasi teks kesepakatan setelah penandatanganannya pada hari Jumat (19/6).

Media Israel sebelumnya melaporkan bahwa para pejabat rezim ini khawatir setiap kesepakatan antara AS dan Iran, tanpa mempertimbangkan tuntutan Israel dalam kasus Lebanon, akan membatasi ruang gerak Tel Aviv di front ini.

Yossi Fritter, salah satu analis rezim Zionis, mengatakan, "Netanyahu telah mengakui ketidaktahuannya tentang rincian nota kesepahaman antara AS dan Iran, dan ia berada di puncak kekalahan strategis yang sangat memalukan bagi Israel."

Ben Caspit, analis Israel lainnya, menulis bahwa Netanyahu adalah "arsitek kekalahan" dan mengklaim bahwa ia telah menyelamatkan Israel dari kehancuran oleh Iran, yang menurutnya adalah salah satu dari banyak kebohongannya.

Barak Seri juga menulis dalam kaitannya bahwa Netanyahu telah mengalami penghinaan terbesar dari Trump. Pejabat Israel mengatakan bahwa kesepakatan Washington-Tehran adalah kesepakatan yang buruk bagi Tel Aviv.

Yossi Yehoshua, analis militer terkemuka Zionis, dengan membandingkan situasi saat ini dengan Perang Lebanon Kedua pada tahun 2006, menegaskan bahwa opini publik Israel saat ini mengalami pengalaman frustrasi dan kekalahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan dimensi yang jauh lebih dalam daripada krisis-krisis sebelumnya yang dialami rezim ini.

Komentar para analis Israel ini sangat tajam dan menunjukkan kepanikan mendalam di kalangan elite politik dan militer Tel Aviv.

Pertama, pengakuan bahwa Netanyahu "tidak mengetahui rincian" MoU adalah pukulan telak bagi kredibilitasnya. Sebagai perdana menteri yang selama ini menggembar-gemborkan hubungan dekatnya dengan Trump, ia justru diabaikan dalam proses negosiasi yang paling menentukan bagi keamanan Israel.

Kedua, perbandingan dengan Perang Lebanon 2006 sangat menarik. Pada tahun 2006, Israel dianggap gagal mencapai kemenangan telak melawan Hizbullah. Kini, analis seperti Yehoshua mengatakan bahwa kekalahan ini lebih buruk, karena kali ini, Israel tidak hanya kalah di medan perang, tetapi juga kalah di meja perundingan.

Apa yang tidak dikatakan oleh para analis ini: Mereka mungkin khawatir bahwa MoU ini akan menjadi preseden bagi AS untuk menekan Israel di masa depan. Jika AS bisa memaksa Israel untuk menghentikan perang di Lebanon tanpa mendapatkan apa pun, apa yang akan terjadi pada isu-isu lain, seperti perluasan pemukiman di Tepi Barat atau aneksasi?

Ini adalah momen yang sangat pahit bagi Israel: mereka tidak hanya kalah perang, tetapi juga kehilangan "tameng" diplomatik yang selama ini mereka andalkan dari AS.(Sail)