Reuters: Saudi Hanya Punya Beberapa Hari Sebelum Ekspor Minyak dari Yanbu Terhenti Total
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i196766-reuters_saudi_hanya_punya_beberapa_hari_sebelum_ekspor_minyak_dari_yanbu_terhenti_total
Pars Today - Reuters, mengutip para pembeli dan pedagang minyak Arab Saudi, melaporkan bahwa jika negara ini tidak melanjutkan operasi pipa utamanya ke Laut Merah dalam beberapa hari, cadangan minyak ekspornya akan habis dan penutupan ini dapat menyebabkan hilangnya hingga 4 persen dari pasokan global.
(last modified 2026-09-14T06:43:24+00:00 )
Sep 14, 2026 13:14 Asia/Jakarta
  • Arab Saudi
    Arab Saudi

Pars Today - Reuters, mengutip para pembeli dan pedagang minyak Arab Saudi, melaporkan bahwa jika negara ini tidak melanjutkan operasi pipa utamanya ke Laut Merah dalam beberapa hari, cadangan minyak ekspornya akan habis dan penutupan ini dapat menyebabkan hilangnya hingga 4 persen dari pasokan global.

Melansir ISNA, Senin, 14 September 2026, setiap penurunan lebih lanjut dalam aliran minyak Arab Saudi akan memperburuk krisis kekurangan pasokan global, krisis yang hingga kini telah membawa harga bahan bakar ke level tertinggi, meningkatkan inflasi di seluruh dunia, dan mendorong imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat ke level tertinggi sejak krisis keuangan 2008.

Sejak serangan drone memaksa Arab Saudi menutup pipa raksasa Timur-Barat pada hari Jumat (11/9), Riyadh belum memberikan rincian lengkap tentang besarnya kerusakan atau durasi penutupan pipa.

Sumber-sumber yang berbicara kepada Reuters memberikan estimasi yang berbeda-beda; satu sumber mengatakan perbaikan mungkin memakan waktu lima hingga enam minggu, sementara sumber lain mengklaim pipa dapat diperbaiki lebih cepat dan operasi pemompaan dapat dilanjutkan sebagian selama pekerjaan perbaikan.

Baik Pusat Komunikasi Internasional Pemerintah Arab Saudi maupun Kementerian Energi belum menanggapi permintaan komentar.

Menurut klaim laporan ini, selama 6 bulan terakhir, pipa yang melintasi gurun Jazirah Arab ini telah memungkinkan Arab Saudi menghindari dampak penutupan Selat Hormuz akibat perang yang melumpuhkan ekspor dari tetangga-tetangga kerajaan ini.

Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, menggunakan pipa ini untuk mentransfer sekitar 4 juta barel per hari atau sekitar 4 persen dari pasokan global ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Namun dengan tidak berfungsinya pipa, tiga sumber industri kepada Reuters mengatakan bahwa Yanbu kini hanya memiliki cadangan yang cukup untuk mempertahankan ekspor selama lima hingga tujuh hari.

Sumber keempat mengatakan bahwa Arab Saudi juga memiliki cadangan yang cukup untuk memasok pelanggan selama beberapa hari dari pelabuhan Ain Al-Sukhna di Laut Merah dan Sidi Kerir di Laut Mediterania di Mesir.

Estimasi industri menunjukkan bahwa kapasitas penyimpanan di Yanbu sekitar 35 juta barel, sementara 18 juta barel dapat disimpan di Ain Al-Sukhna dan 20 juta barel di Sidi Kerir.

Keempat sumber ini mencatat bahwa tangki-tangki tidak penuh dan pada akhirnya akan habis kecuali pipa Timur-Barat melanjutkan aktivitasnya.

Badan Energi Internasional (IEA) pada hari Jumat mengumumkan bahwa pasokan minyak Arab Saudi pada bulan Agustus mencapai level terendah dalam lebih dari tiga dekade terakhir akibat penurunan aliran melalui Selat Hormuz dan Laut Merah.

Badan yang mengoordinasikan kebijakan energi negara-negara Barat ini mengumumkan bahwa pasokan minyak global tahun ini akan turun 5,7 juta barel per hari atau sekitar 6 persen. Selain serangan ke pipa, Angkatan Bersenjata Yaman yang mengancam kargo minyak Arab Saudi, pada hari Jumat menguasai Pulau Mayun (Perim) di pintu masuk Laut Merah.

Sebelum perang, kawasan ini memasok hampir 22 juta barel minyak per hari ke dunia. Sumber-sumber industri menyebutkan bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz telah turun menjadi 6 hingga 9 juta barel per hari.

Arab Saudi pekan lalu memberitahu Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahwa produksi minyak negaranya pada bulan Agustus turun menjadi hanya 6,2 juta barel per hari, sementara angka tersebut pada bulan Februari sebelum perang dimulai adalah 10,9 juta barel per hari.

"Reuters melaporkan bahwa Arab Saudi hanya memiliki waktu beberapa hari sebelum ekspor minyak dari Yanbu terhenti total akibat penutupan pipa Timur-Barat yang dilumpuhkan serangan drone pada Jumat. Yanbu hanya memiliki cadangan untuk 5–7 hari. Jika pipa tidak segera beroperasi, hingga 4% pasokan global bisa hilang. Krisis ini memperburuk kekurangan pasokan global, menaikkan harga bahan bakar, inflasi global, dan imbal hasil Treasury AS ke level tertinggi sejak 2008. IEA melaporkan pasokan minyak Saudi pada Agustus berada di level terendah dalam 30+ tahun."(Sail)