Mengapa Partai Demokrat dan Republik Membutuhkan Kebohongan Mengenai “campur tangan Iran dalam pemilu AS”?
https://parstoday.ir/id/news/world-i167426-mengapa_partai_demokrat_dan_republik_membutuhkan_kebohongan_mengenai_campur_tangan_iran_dalam_pemilu_as
Parstoday- Meski ada klaim dari pejabat Amerika, Republik Islam Iran berulang kali menyatakan bahwa Tehran tidak memiliki tujuan dan motif untuk mengintervensi pilpres AS; Karena pilpres AS sebuah masalah internal negara tersebut.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 24, 2024 17:32 Asia/Jakarta
  • Donald Trump-Kamala Harris
    Donald Trump-Kamala Harris

Parstoday- Meski ada klaim dari pejabat Amerika, Republik Islam Iran berulang kali menyatakan bahwa Tehran tidak memiliki tujuan dan motif untuk mengintervensi pilpres AS; Karena pilpres AS sebuah masalah internal negara tersebut.

Dalam sebuah pernyataan anti-Iran, juru bicara kampanye Trump mengklaim bahwa peretas yang terkait dengan Iran mencoba menyusup ke akun pejabat tinggi dalam pemilihan presiden AS pada bulan Juni. Menurut Parstoday, surat kabar Iran, Quds menulis: Meskipun Steven Cheung membuat klaim ini tanpa memberikan bukti, Biro Investigasi Federal AS (FBI) mengumumkan dalam sebuah laporan: "Mereka sedang melakukan penyelidikan terhadap klaim tim kampanye Donald Trump bahwa dokumennya diretas oleh Iran.

 

Dalam hal ini, perwakilan Republik Islam Iran di PBB menolak klaim mengenai peran Tehran dalam meretas tim kampanye pemilu mantan Presiden AS Donald Trump dan menekankan bahwa pemerintah Iran tidak memiliki tujuan atau motif untuk ikut campur dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.

 

Sebelum klaim peretasan dan pencurian beberapa korespondensi internal tim kampanye Trump, para pejabat intelijen Amerika telah menuduh Republik Islam Iran melakukan teror terhadap Trump, serta mengganggu pemilu dan pengaruh negatif Tehran terhadap kampanye pemilu kandidat Partai Republik ini.

 

Taktik umum Trump untuk memenangkan pemilu

 

Dalam sebuah wawancara dengan Quds, Amir Ali Abulfath, seorang pakar masalah Amerika, mengacu pada klaim kampanye Donald Trump bahwa Iran telah meretas dokumennya, mengatakan: Mengingat dekatnya waktu pemilihan presiden Amerika dan atmosfer media yang ada di negara ini, Trump dengan menggunakan teknik pemilunya, mencoba menggerakkan suasana masyarakat Amerika ke arah yang selain membangun citranya di tingkat dunia, juga mempertayakan kemampuan aparat keamanan pemerintahan Biden, khususnya Polisi Federal Amerika (FBI) dan manajemen Partai Demokrat di bidang eksekutif dan pengawasan di Amerika Serikat.

 

Abulfath menjelaskan: Ini adalah metode yang sama yang digunakan Trump saat memenangkan pemilihan presiden AS pada tahun 2016 terkait campur tangan Rusia dalam proses pemilu. Faktanya, dia mencoba untuk mendapatkan lebih banyak suara dari negara-negara terkemuka secara internasional, termasuk Republik Islam Iran, Cina dan Rusia. Klaim kampanye Trump mengenai peretasan dokumen adalah taktik sepele yang tidak boleh dianggap serius.

 

Dia menyatakan: Pada saat yang sama ketika Cheung, juru bicara kampanye pemilu Trump, membuat klaim ini, perwakilan Republik Islam Iran mengumumkan bahwa masalah ini sekedar tuduhan, namun Tehran selain tidak memiliki motivasi untuk ikut campur dalam pemilihan presiden AS, bahkan tidak berminat melawan atau menentang seorang kandidat. Selain itu, delegasi Iran meminta Biro Investigasi Federal (FBI) untuk menyerahkan dokumen klaim tersebut kepada Tehran agar dapat diberikan tanggapan yang tepat. Padahal hingga saat ini belum ada dokumen yang disajikan mengenai keterlibatan Iran dalam peretasan kampanye Trump.

 

Pakar masalah Amerika ini menekankan: Republik Islam Iran memiliki kekuatan yang tidak dapat disangkal dalam ruang siber di dunia, dan menurut pengumuman organisasi keamanan Amerika, Republik Islam Iran dianggap sebagai salah satu kekuatan siber di kancah internasional. Padahal negara seperti Iran yang mempunyai kemampuan tinggi dalam bidang ofensif dan defensif di bidang siber, tidak mempunyai kewajiban untuk melakukan intervensi dan peretasan bidang pemilu di Amerika Serikat karena kemampuannya di bidang tersebut.

 

"Amerika Serikat secara langsung dan tidak langsung telah melakukan campur tangan dalam bidang kudeta, penggulingan pemerintahan, revolusi beludru, dll di lebih dari 80 negara independen di dunia. Saat ini, Amerika sendiri adalah pelanggar dan terdakwa terbesar dalam berbagai pemilu di dunia, dan klaim tuduhan terhadap negara-negara independen lainnya seperti Republik Islam Iran adalah tidak berdasar dan ditolak," papar Abulfath.

 

Ketakutan Trump atas Pengaruh Iran di Kawasan

 

Mohammad Lesani, pakar isu-isu internasional dan media dalam wawancaranya dengan Koran Quds, meyakini: Peran Republik Islam Iran di kawasan Asia Barat, khususnya dalam mendukung rakyat Gaza, cita-cita bangsa Palestina dan gerakan muqawama telah mendorong masing-masing kandidat dari Partai Demokrat dan Republik menggunakan isu ini untuk memenangkan pemilihan presiden, dan Donald Trump juga memandang Iran sebagai kartu besar untuk meraup suara lebih banyak dari pemilih Amerika.

 

Selama 46 tahun terakhir, Republik Islam Iran selalu tidak memberi ijin kepada AS dan sekutu Eropanya untuk membentuk tatanan baru ala Amerika dan pembentukan Timur Tengah baru dengan peran menonjol dan kekuatan ekstra-regionalnya. Menyoroti peran Iran dalam pembangunan global dan memperkenalkan Iran sebagai aktor internasional yang destruktif oleh AS dapat berguna dalam validasi sipil bagi pemerintah Amerika dan tokoh-tokoh nasional, termasuk Trump dan Kamala Harris, papar Lesani.

 

Lesani menjelaskan: Sampai saat ini belum ada dokumen dan bukti klaim pejabat AS terkait intervensi Iran dalam serangan siber yang diajukan, tapi Trump berencana membangun citra legenda dan pahlawan bagi dirinya di mata pendukungnya dan rakyat Amerika melalui pelontaran tudingan ini. (MF)