Warga Jepang: Kami Tak akan Memaafkan AS / Iran: Bicaralah Lebih Lantang Menentang Agresi AS
-
Korban bom nuklir di Jepang
Pars Today - Sebuah jajak pendapat baru di Jepang menunjukkan bahwa separuh dari korban selamat dari bom atom di negara itu "tidak dapat" memaafkan Amerika Serikat atas pengeboman atom di Jepang.
Pada 6 Agustus 1945, sebuah pesawat pengebom B-29 milik militer AS menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima, Jepang, atas perintah Presiden Harry Truman saat itu. Tiga hari kemudian, AS menjatuhkan bom atom kedua di Nagasaki, Jepang. Menurut sumber resmi, sekitar 220.000 orang tewas akibat kedua bom atom tersebut. AS tidak pernah meminta maaf atas penggunaan bom-bom tersebut.
Menurut laporan Pars Today, berdasarkan hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Kantor Berita Kyodo Jepang, 45,7 persen korban selamat dari bom atom di negara tersebut tidak mau memaafkan AS atas pengeboman atom di Hiroshima dan Nagasaki. Hasil survei yang dipublikasikan di situs TRT Global pada hari Minggu menunjukkan bahwa hampir 70 persen korban selamat dari bom atom di Jepang mengkhawatirkan peningkatan risiko nuklir saat negara itu bersiap untuk memperingati tragedi Hiroshima dan Nagasaki.
Wali Kota Hiroshima: Trump Tidak Memahami Pengeboman Nuklir
Di sisi lain, Presiden AS, yang menyerang tiga lokasi di Iran pada akhir Juni dengan tujuan menghancurkan infrastruktur nuklir damai Iran, mengatakan dalam kunjungannya baru-baru ini ke Belanda untuk menghadiri KTT NATO, Saya tidak ingin menggunakan contoh Hiroshima, saya tidak ingin menggunakan contoh Nagasaki, tetapi pada dasarnya keduanya sama. Peristiwa itu mengakhiri perang.
Para pejabat, penyintas bom atom, dan aktivis anti-perang di Jepang bereaksi keras terhadap komentarnya yang membandingkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dengan bom atom Hiroshima dan Nagasaki, dan menyebut perbandingan tersebut kejam, tidak berempati, dan tidak menghormati para korban Perang Dunia II.
Wali Kota Hiroshima Kazumi Matsui bereaksi keras terhadap pernyataan Trump, dan menyebutnya sebagai upaya untuk mengabaikan penderitaan rakyat Jepang. Ia menekankan bahwa penggunaan senjata pemusnah massal, baik di masa lalu maupun saat ini, tidak pernah dapat dibenarkan.
Wali Kota Nagasaki: Membenarkan penggunaan bom atom menghina para korban
Wali Kota Nagasaki, Shiro Suzuki juga mengecam pernyataan tersebut, dengan mengatakan, Penggunaan bom atom tidak pernah dibenarkan dalam keadaan apa pun, dan mengangkatnya kembali sebagai cara untuk mengakhiri perang merupakan penghinaan terhadap ingatan para korban.
Penyintas bom nuklir Jepang: Saya menyaksikan orang terbakar dalam kobaran api
Komunitas penyintas bom nuklir Jepang juga memecah kebisuan dan mengecam pernyataan tersebut dengan amarah. Salah satu penyintas mengatakan kepada wartawan, Saya sendiri menyaksikan orang-orang terbakar dalam kobaran api. Jika seseorang menganggap bom atom sebagai solusi perdamaian adalah tanda ketidaktahuan atau kekejaman.
Dubes Iran untuk Jepang: Bicara Lebih Keras Menentang Agresi AS
Sementara itu, Peyman Saadat, Duta Besar Republik Islam Iran di Tokyo mengecam keras pernyataan Trump dan menyebutnya "tidak dapat diterima." Ia menyebut pernyataan tersebut sebagai "penghinaan" terhadap Jepang dan Iran.
Saadat juga mendesak Jepang, sebagai negara korban bom nuklir, untuk "berbicara lebih lantang" dalam menanggapi serangan militer Israel dan AS terhadap fasilitas nuklir Iran. Merujuk pada Hadiah Nobel Perdamaian yang diberikan kepada Asosiasi Korban Bom Atom Jepang (Hibakusha), ia mencatat bahwa dunia sedang mendengarkan suara Jepang sebagai negara korban bom nuklir.(sl)