Pezeshkian: Pendukung Multilateralisme Harus Bersatu / Italia Larang Israel Ikut Pameran Pariwisata Internasional
-
Presiden Iran Masoud Pezeshkian
Pars Today - Dalam wawancara dengan China Central Television (CCTV), Presiden Republik Islam Iran memuji gagasan Presiden Cina tentang tata kelola global terkait multilateralisme dan mengatakan, "Jika negara-negara pendukung multilateralisme tidak bersatu, pendiri unilateralisme akan mengalahkan mereka."
Menurut laporan Pars Today mengutip IRNA, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam kunjungannya ke Cina untuk berpartisipasi dalam KTT ke-25 Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), dalam wawancara dengan CCTV menjelaskan berbagai aspek hubungan Iran-Cina, perkembangan regional dan internasional, serta isu-isu terkini terpenting antara keduanya dan dunia.
Presiden Iran pertama menyampaikan persepsinya tentang Cina. Menurut Pezeshkian, "Cina saat ini sedang bergerak di jalur pembangunan dengan persatuan, koherensi, dan kepemimpinan yang tegas, dikoordinasikan dengan program-program yang sepenuhnya ilmiah, ahli, dan terarah."
"Cina juga juga telah memulai proses politik yang baik dan berharga untuk mengatasi unilateralisme dan berjuang menuju multilateralisme, yang patut dipuji," tambah Pezeshkian.
Presiden Iran menyinggung kerangka kerja yang telah ditandatangani di SCO dan menekankan bahwa semua itu harus diimplementasikan sepenuhnya dan tidak boleh puas hanya dengan mengeluarkan pernyataan dan mengabaikan beberapa negara yang berada di garis depan dalam menentang unilateralisme AS, maka jelas tidak ada hasil yang tercapai.
Pezeshkian menegaskan, Para pendukung dan pendiri unilateralisme berusaha mempertahankan negara-negara dalam kerangka kerja yang telah mereka rancang dengan paksa, sanksi, dan berbagai cara. Jika kita ingin keluar dari kerangka kerja ini, kita harus mengoperasionalkan dan mengimplementasikan apa yang telah ditulis hari ini dan dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, dan yang akan ditulis di masa mendatang untuk melawan unilateralisme ini. Ini berarti kita dapat berinteraksi satu sama lain, berdagang, mengabaikan sanksi yang dijatuhkan oleh pihak lain, dan menjunjung tinggi keadilan, kesetaraan, dan hukum dalam hubungan kita. Kita juga harus berusaha berbagi pembangunan dan kemajuan secara global. Inilah yang harus dilakukan.
Pemimpin Ansarullah Yaman: Israel bahaya besar bagi negara Islam
Pars Today - Pemimpin Ansarullah Yaman menyampaikan pidato pada peringatan Revolusi 21 September Yaman dan menyebut rezim Zionis sebagai bahaya besar terhadap kawasan dan kekayaannya.
Menurut laporan Pars Today mengutip Mehr, Abdul Malik Al-Houthi, Pemimpin Ansarullah Yaman dalam pidatonya mengatakan, "Kami bersyukur kepada Allah atas kemenangan bersejarah dan agung ini. Allah telah memberkati bangsa kita pada tanggal 21 September. Kami mengucapkan selamat kepada seluruh rakyat Yaman yang terkasih atas perayaan ini, terutama para pelopor yang berperan penting dalam kemenangan ini. Inilah kemenangan yang Allah berkati bagi bangsa kita."
Abdul Malik Al-Houthi menambahkan, Revolusi 21 September adalah pencapaian besar yang Allah raih melalui tangan rakyat ini. Revolusi ini memiliki ciri-ciri yang agung dan khas. Revolusi 21 September tidak membutuhkan propaganda media palsu, melainkan didasarkan pada fakta-fakta yang nyata.
"Ciri khas revolusi ini adalah keasliannya dan kebebasannya dari segala bentuk ketergantungan asing. Revolusi 21 September adalah revolusi sejati bagi rakyat Yaman yang bersumber dari keinginan murni rakyat Yaman dan tidak ada campur tangan asing di dalamnya," tegas pemimpin Ansarullah Yaman.
Pemimpin Ansarullah Yaman menyatakan, "Musuh Israel merupakan bahaya besar bagi Umat Islam dan bergerak dengan kedok mengubah Timur Tengah. Konspirasi Israel tidak terbatas pada Gaza, tetapi juga keserakahan akan kekayaan negara-negara Teluk Persia yang melimpah. Musuh rakus akan kesucian Umat, dan ancamannya mencakup Masjid Al-Aqsa, Mekah, dan Madinah."
"Musuh Israel mengambil posisi yang jelas terhadap Mesir, Yordania, dan Irak. Mereka menyerang Republik Islam Iran dan Qatar. Serangan terhadap Qatar merupakan pelajaran bagi semua negara di negara ini, terutama negara-negara Teluk," imbuhnya.
Italia menolak partisipasi Israel di pameran pariwisata internasional
Pars Today - Sebagai protes terhadap agresi berdarah Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza, Italia telah melarang rezim Zionis berpartisipasi dalam pameran pariwisata internasional "TTG Travel Experience 2025", yang dijadwalkan akan diselenggarakan di Rimini Oktober mendatang.
Menurut laporan Pars Today mengutip IRNA, setelah mendapat tekanan dari pemerintah kota Rimini, otoritas Italia memutuskan untuk melarang Israel berpartisipasi dalam pameran pariwisata internasional tersebut, yang dijadwalkan akan diselenggarakan di Rimini pada 8-10 Oktober (16-18 Oktober), karena perang genosida yang sedang berlangsung oleh rezim pendudukan Israel di Jalur Gaza.
Wali Kota Rimini, Jamil Sadgholwad mengatakan bahwa keputusan untuk melarang rezim Zionis dari pameran itu diambil karena genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Di sisi lain, Kelompok Pameran Italia (IEG), penyelenggara pameran, menekankan dalam sebuah pernyataan bahwa, mengingat perang dan kehancuran yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, kehadiran rezim Zionis di ruang pameran tidak pantas secara moral dan profesional.
Pernyataan itu mencatat bahwa keputusan ini dibuat berdasarkan laporan media dan sikap otoritas Italia, yang meyakini bahwa "mempromosikan zona perang, yang hancur, dan mematikan sebagai tujuan wisata tidak dapat diterima secara moral dan profesional".
Keputusan untuk mengecualikan Israel dari pameran pariwisata internasional "TTG Travel Experience 2025" dibuat dalam konteks protes solidaritas Palestina yang sedang berlangsung di Italia dan seruan untuk menghentikan kerja sama dengan Israel serta menjatuhkan sanksi kepada rezim ini atas agresinya di Gaza.(sl)