Baghaei: Sanksi AS atas Iran Kejahatan terhadap Kemanusiaan / India Ketua Bergilir BRICS Tahun 2026
https://parstoday.ir/id/news/world-i179754-baghaei_sanksi_as_atas_iran_kejahatan_terhadap_kemanusiaan_india_ketua_bergilir_brics_tahun_2026
Pars Today - Setelah berpartisipasi dalam upacara peluncuran film dokumenter Parvaz-e Parvaneh-ha, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran menyebut sanksi kejam AS terhadap Iran sebagai puncak kekejaman, ketidakpedulian, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
(last modified 2025-12-11T09:26:48+00:00 )
Nov 07, 2025 17:30 Asia/Jakarta
  • Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran
    Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran

Pars Today - Setelah berpartisipasi dalam upacara peluncuran film dokumenter Parvaz-e Parvaneh-ha, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran menyebut sanksi kejam AS terhadap Iran sebagai puncak kekejaman, ketidakpedulian, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Menurut laporan Mehr, Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran yang berpartisipasi dalam upacara peluncuran film dokumenter Parvaz-e Parvaneh-ha pada Kamis (06/11/2025) malam, yang mengisahkan kehidupan yang menyakitkan dan perjuangan tanpa henti dua ilmuwan yang menderita penyakit kupu-kupu atau lupus.

Ia menulis di media sosialnya mengenai hal ini, Malam ini, saya menghadiri acara peluncuran film dokumenter Parvaz-e Parvaneh-ha di Aula Vahdat, bersama dengan Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam yang terhormat.

Di satu sisi, film ini mengisahkan kesabaran, kegigihan, dan tekad Poladin Zahra dan Mohammad Mehdi, saudara kandung yang menderita penyakit AB (kupu-kupu), untuk belajar dan berkembang, dan di sisi lain, film ini menggambarkan rasa sakit dan penderitaan yang tak terbayangkan yang dialami pasien kupu-kupu dan keluarga mereka.

Sifat kejam dan tidak manusiawi dari sanksi AS terhadap Iran tidaklah cukup karena pasien kupu-kupu, seperti banyak pasien lain yang tak tersembuhkan, selalu menjadi sasaran utama sanksi.

Mencegah pengiriman pembalut khusus untuk pasien EB menunjukkan tingginya kekejaman dan ketidakpedulian para penegak sanksi dan penegak hukum.

Presiden Kolombia: Trump Anti-Kemanusiaan

Pars Today - Presiden Kolombia mengatakan bahwa ketidakhadiran Presiden AS Donald Trump dari Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP30) menunjukkan bahwa ia antikemamusiaan.

Menurut laporan IRNA mengutip Anadolu, Presiden Kolombia Gustavo Petro mengatakan dalam pidatonya di konferensi ini pada Kamis (06/11/2025) malam, "Ketidakhadiran Trump di sini berarti dia antikemanusiaan. Biarkan dia sendiri. Pengabaian adalah hukuman terburuk. Kapan pun dia ingin bicara, kita akan bicara, tetapi tentang kehidupan."

Petro mengkritik dukungan Trump terhadap bahan bakar fosil dan tenggat waktu yang ditetapkan presiden AS bagi anggota NATO untuk meningkatkan anggaran militer, seraya menambahkan, "Masalah dalam pertahanan dan militer bukanlah Rusia atau musuh, tetapi perubahan iklim."

Petro mengutuk tindakan dan ancaman militer Trump di Amerika Latin, termasuk terhadap Kuba, Venezuela, dan Kolombia, dan menyebut serangan AS terhadap kapal-kapal di Karibia dan Samudra Pasifik sebagai "eksekusi di luar hukum" dan pendekatan anti-imigrasi presiden AS sebagai "kebijakan antimigrasi yang diciptakan oleh Nazi."

Presiden Kolombia memperingatkan para pemimpin Eropa bahwa keselarasan mereka dengan kebijakan Trump untuk meningkatkan anggaran militer dengan mengorbankan perubahan iklim membahayakan keluarga mereka.

Ia menggambarkan kegagalan mengatasi perubahan iklim sebagai "kegagalan kolektif umat manusia" dan mengkritik "lobi-lobi serakah minyak, batu bara, dan gas".

Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP30) akan diselenggarakan di Belém, Brasil, dari 10 hingga 21 November 2025. Ini adalah pertama kalinya KTT tersebut diselenggarakan di wilayah Amazon.

India Ketua Bergilir BRICS Tahun 2026

Pars Today - Stasiun televisi BRICS TV dalam laporannya mengumumkan bahwa India akan memegang jabatan ketua bergilir kelompok BRICS pada tahun 2026 Masehi.

Menurut laporan IRNA pada Kamis (06/11/2025), stasiun televisi BRICS TV mengutip kantor berita BelTA melaporkan bahwa Presiden Belarus, sebagai negara mitra BRICS, menyatakan kesiapan negaranya untuk menjamin keberhasilan program-program kepemimpinan India atas kelompok BRICS pada tahun 2026.

Berdasarkan laporan ini, Alexander Lukashenko dalam pertemuannya dengan Ashok Kumar, Duta Besar India di Minsk, menegaskan, “Kami berkomitmen untuk melakukan segala upaya demi keberhasilan masa kepemimpinan New Delhi atas kelompok BRICS.”

Presiden Belarus juga menyampaikan apresiasi kepada India atas dukungannya terhadap upaya Belarus untuk menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) dan memperoleh status mitra dalam kelompok BRICS.

Lukashenko menambahkan bahwa nilai perdagangan antara Belarus dan India dalam sembilan bulan pertama tahun ini mencapai sekitar 605 juta dolar AS, yang menunjukkan peningkatan 74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Presiden Belarus menegaskan, "Meskipun demikian, angka tersebut belum mencerminkan potensi ekonomi sebenarnya dari kedua negara, dan Belarus serta India dapat meningkatkan volume perdagangan bilateral hingga 2–3 miliar dolar AS."

Laporan ini juga menyebutkan bahwa Presiden Belarus mengundang Perdana Menteri India, Narendra Modi, untuk melakukan kunjungan resmi ke Minsk.

Dijelaskan pula bahwa Belarus berstatus sebagai negara mitra BRICS dan secara resmi mulai berpartisipasi dalam kegiatan kelompok tersebut sejak awal tahun 2025.

Saat ini, Republik Islam Iran, Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Etiopia, Uni Emirat Arab, dan Indonesia merupakan 10 negara anggota BRICS.

Kelompok ini juga telah membentuk kategori baru dengan sebutan “mitra” bagi negara-negara yang berminat menjalin kerja sama.

Pada tahun 2024, bersamaan dengan bergabungnya Iran secara resmi ke BRICS, Rusia menjabat sebagai ketua bergilir kelompok tersebut.

Untuk tahun 2025, Brasil memegang posisi kepemimpinan bergilir itu.

Presiden Lebanon: Tindakan Israel di Selatan Lebanon Kejahatan Murni

Pars Today - Presiden Lebanon mengumumkan pada Kamis (06/11/2025) malam, "Apa yang dilakukan Israel di Lebanon selatan adalah kejahatan murni."

Menurut laporan IRNA yang mengutip stasiun televisi Al-Mayadeen, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyatakan bahwa setiap kali Lebanon menyatakan kesiapan untuk berdialog dan menyelesaikan perbedaan dengan Israel secara damai, rezim Zionis justru meningkatkan pelanggarannya terhadap kedaulatan Lebanon.

Aoun menegaskan bahwa Israel dengan bangga mengakui ketidakpatuhannya terhadap Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB dan terus melanggar komitmennya berdasarkan kesepakatan gencatan senjata.

Presiden Lebanon menambahkan bahwa sejak diberlakukannya gencatan senjata, Israel tidak pernah berupaya menunjukkan kesediaannya terhadap solusi negosiasi apa pun.

Menurut laporan Al-Mayadeen, jet-jet tempur Israel menyerang sebuah gedung di kota kecil Kafr Dunin di selatan Lebanon.

Rezim Zionis pada Kamis sore melancarkan gelombang baru serangan terhadap beberapa wilayah di selatan Lebanon, dengan dalih bahwa serangan itu menargetkan posisi Hezbollah.

Reporter Al Jazeera melaporkan bahwa Israel melakukan dua serangan udara terhadap wilayah Aaita El Jabal’ dan Tayr Diba di selatan Lebanon, sementara daerah Al-Taybeh juga dibombardir oleh jet-jet tempur Israel.

Selain itu, koresponden Al-Mayadeen menyebutkan bahwa pesawat-pesawat tempur Israel terbang rendah di berbagai wilayah selatan Lebanon.

Sumber-sumber Lebanon mengatakan bahwa kendaraan-kendaraan darurat dikerahkan menuju lokasi-lokasi yang menjadi sasaran serangan.

Sebelumnya, militer Israel memperingatkan warga di wilayah selatan Lebanon dan mengklaim akan menyerang infrastruktur militer Hezbollah di berbagai area sebagai upaya untuk menghadapi langkah kelompok tersebut dalam melanjutkan aktivitasnya di selatan Lebanon.(sl)