Kolombia Hentikan Pertukaran Intelejen dengan AS / Trump Klaim Ingin Suriah Jadi Negara yang Sukses
Presiden Kolombia telah memerintahkan pasukan keamanan negaranya untuk menghentikan pertukaran intelijen dengan badan-badan intelijen Amerika Serikat selama serangan Washington terhadap kapal-kapal di Karibia terus berlanjut.
Reuters melaporkan Presiden Kolombia Gustavo Petro mengatakan dalam sebuah pesan di media sosial X, merujuk pada sejarah kerja sama kedua negara dalam memerangi perdagangan narkoba, "Perang melawan narkoba harus tunduk pada hak asasi manusia rakyat Karibia."
Presiden Kolombia menambahkan, "Penghentian pembagian intelijen akan terus berlanjut selama masih ada serangan rudal terhadap kapal-kapal di Karibia."
Keputusan Petro muncul setelah Inggris, menurut laporan CNN, menghentikan pembagian intelijen dengan Amerika Serikat karena kekhawatiran bahwa informasi yang diberikan kepada Washington dapat digunakan untuk melakukan serangan mematikan terhadap tersangka perdagangan narkoba.
Laporan ini menyatakan bahwa para pejabat Inggris yakin bahwa serangan-serangan ini melanggar hukum internasional.
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk menyebut serangan tersebut "tidak dapat diterima" dan menyerukan penyelidikan independen atas "pembunuhan di luar hukum".
Amerika Serikat telah melakukan beberapa penggerebekan terhadap kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba dalam beberapa pekan terakhir dengan klaim bahwa kapal-kapal tersebut berangkat dari Venezuela.
Dengan dalih "perang narkoba", Amerika Serikat telah mengerahkan delapan kapal perang, 1.200 rudal, satu kapal selam nuklir, tiga kapal perusak, dan sekitar 4.500 tentara, termasuk 2.200 marinir, ke Karibia selatan.
Jumlah korban tewas akibat penggerebekan angkatan laut AS terhadap kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba telah mencapai 76 orang sejak operasi dimulai pada awal September.
Klaim Trump: Kami ingin Suriah menjadi negara yang sangat sukses
Sementara itu, setelah bertemu dengan Presiden Suriah Abu Muhammad al-Julani, memujinya dan pentingnya negara tersebut, Presiden AS Donald Trump mengklaim: "Kami ingin Suriah menjadi negara yang sangat sukses dan kami yakin pemimpin ini mampu melakukannya." Trump menyatakan bahwa Suriah adalah negara penting di Asia Barat (Timur Tengah) dan akan memainkan peran penting bagi masa depan kawasan ini, seraya menambahkan: "Julani memiliki hubungan yang sangat baik dengan Turki dan Presidennya Recep Tayyip Erdogan, dan kami juga bekerja sama dengan Israel untuk meningkatkan hubungan dengan Suriah."
Pertemuan ini terjadi setelah dalam beberapa tahun terakhir, Julani telah menjadi pemimpin kelompok teroris "Hayat Tahrir al-Sham" (HTS) di Suriah dan pernah dimasukkan dalam daftar "Teroris Global yang Ditunjuk Khusus" (SDGT) oleh AS, yang kemudian dihapus oleh Washington dari daftar tersebut beberapa waktu lalu.(PH)