Mencermati Judul di Media Dunia | Dari penggambaran Iran hingga Trump yang Mempercantik seorang Teroris
https://parstoday.ir/id/news/world-i180208-mencermati_judul_di_media_dunia_dari_penggambaran_iran_hingga_trump_yang_mempercantik_seorang_teroris
Pars Today – Media-media Barat melalui mekanisme seleksi dan pengulangan kata kunci, menentukan kerangka interpretasi dan bahkan pemahaman publik tentang sifat peristiwa demi kepentingan mereka sendiri.
(last modified 2025-11-12T12:11:17+00:00 )
Nov 12, 2025 19:09 Asia/Jakarta
  • Mencermati Judul di Media Dunia | Dari penggambaran Iran hingga Trump yang Mempercantik seorang Teroris

Pars Today – Media-media Barat melalui mekanisme seleksi dan pengulangan kata kunci, menentukan kerangka interpretasi dan bahkan pemahaman publik tentang sifat peristiwa demi kepentingan mereka sendiri.

Media-media Barat dalam banyak judul beritanya, dengan bertumpu pada pemilihan kata-kata tertentu, berusaha menata suatu peristiwa sedemikian rupa agar dapat memanfaatkan istilah-istilah yang selaras dengan kebijakan mereka secara maksimal. Dalam tulisan ini dari Pars Today, dibahas beberapa judul berita yang bernuansa berpihak di sejumlah media:

 

Euronews: “Kapal induk terbesar di dunia tiba di Amerika Latin; Venezuela menempatkan 200.000 tentara untuk menghadapi ancaman

 

Tampaknya judul ini, dengan memilih kata-kata “menghadapi” dan “200.000 tentara” di samping deskripsi tentang kapal induk Amerika Serikat, membentuk sebuah narasi tentang Venezuela sebagai negara yang tidak stabil, ekstrem, dan cenderung bereaksi secara militer berlebihan. Sementara alasan tindakan Venezuela sebagai respons terhadap pemicu perang dan campur tangan Washington dalam urusan Caracas sepenuhnya disembunyikan. Judul ini sebenarnya dapat ditulis sebagai berikut: “Venezuela menempatkan 200.000 tentara sebagai tanggapan atas kehadiran militer Amerika Serikat.”

 

Reuters: “Seorang pejabat mengatakan Iran sedang mencari kesepakatan nuklir damai dengan Amerika Serikat.

 

Dalam judul ini, penulis tampaknya berupaya menempatkan Iran pada posisi lemah dan menggambarkannya sebagai pihak yang memohon untuk bernegosiasi dengan Washington. Sementara di sisi lain, Amerika Serikat ditampilkan sebagai pihak pengambil keputusan. Penggunaan frasa “sedang mencari” menunjukkan bahwa Iran adalah pihak yang “memohon” atau “meminta.” Judul yang lebih netral untuk berita ini seharusnya dapat disusun sebagai berikut: “Iran menegaskan kembali komitmennya terhadap kesepakatan nuklir damai.”

 

Fox News: “Tentara Israel, dalam ‘pelanggaran gencatan senjata lainnya’ di Gaza, menewaskan seorang teroris.”

 

Dalam judul ini, kata “teroris” sangat mencolok dan tampak dimaksudkan untuk membenarkan tindakan “pembelaan diri yang sah” demi kepentingan rezim Zionis. Padahal, penggunaan istilah tersebut memiliki muatan nilai tertentu dan secara sengaja dipakai oleh media Amerika ini untuk melabeli para pejuang Palestina sebagai teroris. Selain itu, penggunaan ungkapan “menewaskan” juga bersifat merendahkan dan tidak pantas digunakan untuk menggambarkan para pejuang Palestina.

 

Fox News: “Trump, di tengah upaya perdamaian regional, akan menjadi tuan rumah bagi Presiden Suriah dalam sebuah pertemuan bersejarah di Gedung Putih

 

Dalam menelaah kata-kata yang membentuk berita ini, perlu diperhatikan istilah “di tengah” dan “upaya” — dua kata yang menyoroti kesibukan Presiden Amerika Serikat dalam mewujudkan perdamaian. Dari judul ini dapat disimpulkan bahwa penulis, melalui pemilihan katanya, berusaha menanamkan kesan kepada pembaca bahwa Donald Trump adalah seorang “pencinta perdamaian” dan diplomat aktif yang terlibat dalam upaya kemanusiaan untuk menciptakan perdamaian di kawasan yang dilanda krisis. Pembingkaian semacam ini menutupi segala motivasi lain (seperti tujuan geopolitik, kepentingan ekonomi, atau unjuk kekuatan) dan menggambarkan tindakannya sebagai sesuatu yang secara hakiki “baik.”

 

Kata lain yang patut dicermati adalah “Presiden” yang digunakan untuk merujuk pada Suriah. Penggunaan istilah ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Jolani dianggap secara sah dan resmi sebagai Presiden Suriah — padahal ia adalah penguasa yang naik ke tampuk kekuasaan melalui kekerasan dan teror. (MF)