Transformasi Jerman
Trilogi Diplomatik Berlin: Kemandirian dari AS, Komitmen pada Ukraina, dan Mengritik Zionis
-
Kanselir Jerman dan Presiden Amerika Serikat
Pars Today - Sementara hubungan transatlantik memasuki fase tegang dengan dipblikasikannya Dokumen Keamanan Nasional AS yang baru, Jerman secara bersamaan menunjukkan peran yang lebih aktif dalam perimbangan keamanan dan politik dunia dengan memperkuat kerja sama pertahanan dengan Ukraina dan secara terbuka mengkritik pemukiman Israel.
Dalam beberapa hari terakhir, serangkaian posisi dan tindakan Jerman pada tiga poros AS, Ukraina, dan Asia Barat telah menghadirkan gambaran baru tentang orientasi keamanan dan diplomatik Berlin. Dari kritik keras Kanselir Jerman terhadap pendekatan baru Washington hingga pengungkapan rencana luas untuk mendukung Ukraina dan penentangan terbuka terhadap kebijakan pemukiman Israel, semua ini menunjukkan bahwa Jerman mencoba untuk mendefinisikan posisi yang lebih independen dalam kebijakan luar negeri Eropa.
Paket berita dari Pars Today ini telah meneliti orientasi keamanan dan diplomatik pemerintah Jerman dalam beberapa hari terakhir, sebagai berikut:
Kritik tajam Berlin terhadap dokumen keamanan nasional AS
Dalam reaksi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap dokumen strategi keamanan nasional AS yang baru, Kanselir Jerman Friedrich Merz menggambarkan beberapa bagiannya sebagai "tidak dapat diterima" bagi Eropa.
Merz menekankan bahwa dalam beberapa kasus, dokumen itu memperkenalkan Eropa sebagai pihak yang membutuhkan "penyelamatan demokrasi" dari AS. Sebuah kesan yang, menurutnya, "tidak ada hubungannya dengan realitas politik Eropa".
Mencatat bahwa dokumen itu tidak jauh berbeda dari posisi Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya pada Konferensi Keamanan Munich, Kanselir Jerman mengatakan bahwa Eropa harus bertindak "lebih independen" di bidang keamanan.
Ia menyebut tuduhan Washington tentang pembatasan kebebasan berekspresi di Eropa "tidak benar" dan menekankan bahwa pendekatan ini menyoroti perlunya memperkuat kemandirian pertahanan Eropa.
Rencana 10 poin Berlin untuk industri pertahanan Ukraina
Dalam langkah simbolis, bertepatan dengan kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ke Berlin, Jerman meluncurkan rencana komprehensif 10 poin untuk mentransformasi kerja sama pertahanan dengan Ukraina.
Rencana itu digambarkan bertujuan untuk menciptakan "industri pertahanan yang kuat" di Ukraina yang tidak hanya akan berfungsi untuk pertahanan saat ini tetapi juga sebagai "bagian penting dari jaminan keamanan masa depan" terhadap Rusia.
Rincian pakta ambisius itu mencakup investasi bersama, integrasi pasar, peninjauan jaminan investasi federal Jerman, pembelian bersama peralatan (seperti drone Ukraina untuk European Sky Shield), pertukaran ahli, dan pembentukan "Rumah Kebebasan Ukraina" di Berlin sebagai kantor penghubung industri pertahanan.
Langkah ini mengirimkan pesan yang jelas tentang dukungan berkelanjutan Eropa untuk Ukraina, terlepas dari perkembangan politik di Washington.
Mengutuk, sikap tegas Jerman atas perkembangan di Asia Barat
Pemerintah Jerman mengutuk pembangunan permukiman Israel yang terus berlanjut di Tepi Barat, dan menyebutnya sebagai penghalang bagi proses perdamaian dan stabilitas di kawasan itu dan menyerukan penghentiannya segera.
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman menyatakan “keprihatinan mendalam” atas persetujuan pembangunan 30.000 unit permukiman baru pada tahun 2025, dan menyebut langkah-langkah itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB.
Berlin menekankan bahwa pembangunan permukiman Israel yang terus berlanjut di Tepi Barat akan mencegah tercapainya solusi melalui negosiasi.
Singkatnya, Jerman sedang mencari peran global baru.
Di satu sisi, Jerman merupakan mitra penting bagi Amerika Serikat, dan di sisi lain, Jerman merupakan pendukung Ukraina yang teguh dan jangka panjang. Pemerintah Merz tampaknya sedang mendefinisikan “jalur Eropa yang independen” berdasarkan kepentingan keamanan benua dan loyalitas terhadap tatanan internasional berdasarkan supremasi hukum, tetapi menjauhkan diri dari beberapa orientasi unilateral Washington.
Keberhasilan strategi ini akan menjadi ujian kunci bagi masa depan Uni Eropa dalam tatanan global.(sl)