Akankah Eropa Beralih ke Iran dan Yaman untuk Melindungi Greenland dari AS?
Pernyataan berulang Donald Trump tentang perlunya Amerika Serikat untuk memperoleh Greenland, bahkan dengan kekerasan, dan respons lemah Eropa terhadap tindakan Amerika Serikat yang melampaui batas telah menuai kritik luas baik di dalam maupun di luar Benua Hijau.
Reaksi Eropa yang lemah dan pasif terhadap klaim berlebihan Trump bahwa Greenland harus dianeksasi oleh Amerika Serikat, yang hanya berupa tindakan pamer seperti mengirim 13 tentara dari Jerman dan 15 tentara dari Prancis ke Greenland, telah menyebabkan ejekan dari pengguna media sosial dan opini publik global.
Mengingat perlawanan luar biasa Iran dan Yaman terhadap serangan AS, terutama serangan rudal Iran terhadap pangkalan AS di Ain al-Assad dan al-Udeid, dan konfrontasi dengan kapal dan jet tempur AS oleh perlawanan Yaman yang menyebabkan penarikan Trump dari perang di Yaman, mungkinkah Eropa akan menggunakan metode efektif untuk melindungi Greenland dari AS, seperti metode yang digunakan Iran dan Yaman melawan AS?
Pertanyaan Mendasar
Sekilas, pertanyaan apakah Uni Eropa mungkin akan menggunakan Iran dan Yaman untuk melindungi Greenland dari tekanan AS tampak ironis atau berlebihan. Tetapi pada tingkat yang lebih dalam, pertanyaan ini menunjukkan realitas geopolitik yang penting: perbedaan mendasar antara cara aktor yang berbeda menghadapi kekuatan AS.
Iran dan Yaman telah menunjukkan pola perlawanan yang tangguh dan gigih terhadap tekanan dan serangan langsung AS dalam beberapa tahun terakhir, sementara Eropa sering bereaksi dengan hati-hati, lambat, dan sangat pasif, bahkan pada isu-isu seperti Greenland, yang secara langsung menyangkut kepentingannya. Membandingkan kedua pendekatan ini memberikan gambaran yang jelas tentang kesenjangan antara “kemampuan untuk melawan” dan “kemauan untuk melawan” dalam sistem internasional.
Eropa dan Greenland
Greenland, meskipun secara politik merupakan bagian dari Denmark, memiliki kepentingan geopolitik yang sangat besar bagi Amerika Serikat. Lokasinya yang strategis di Arktik, sumber daya alamnya yang melimpah, dan perannya dalam persaingan kekuatan besar telah menjadikan wilayah ini sebagai titik sensitif.
Ketika Amerika Serikat pernah secara terbuka mengumumkan keinginannya untuk membeli Greenland, reaksi Eropa sebagian besar berupa kejutan, ejekan, dan pernyataan diplomatik. Tidak ada pencegahan, tidak ada ancaman balasan, dan tidak ada demonstrasi kekuatan. Eropa lebih memilih untuk menangani masalah ini dengan bahasa diplomatik daripada dengan alat-alat keras.
Perlawanan Iran dan Yaman
Sebaliknya, Iran dan Yaman telah menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir bahwa mereka tidak akan mundur menghadapi tekanan langsung AS, tetapi justru akan memberikan kerugian besar pada Washington dengan tindakan balasan. Insiden 12 Januari 2016 dan penangkapan tentara Amerika yang memasuki perairan Iran dengan dua kapal, serta serangan Iran terhadap pangkalan Ain al-Assad setelah pembunuhan Jenderal Soleimani, yang merupakan serangan langsung pertama oleh pemerintah terhadap pangkalan Amerika dalam beberapa dekade terakhir, adalah contoh nyata dari pendekatan berbasis perlawanan Iran terhadap Amerika.
Serangan rudal terhadap pangkalan udara Al-Udeid juga merupakan respons keras Iran terhadap pemboman fasilitas nuklirnya oleh AS. Tindakan ini mengirimkan pesan yang jelas: Iran siap untuk melakukan konfrontasi langsung untuk membela kepentingannya dan menerima konsekuensinya. Di Yaman, pasukan Ansarullah telah menunjukkan dengan serangan drone dan rudal terhadap target Amerika dan sekutunya di Laut Merah dan Palestina yang diduduki bahwa mereka dapat mengubah persamaan kekuatan bahkan dalam kondisi pengepungan dan perang gesekan.
Kerusakan serius pada armada AS di Laut Merah, termasuk hilangnya dua pesawat tempur F-18 dari kapal induk Harry S. Truman di Laut Merah, adalah akibat dari respons tergesa-gesa dan panik pasukan AS terhadap serangan rudal dan pesawat tak berawak Yaman.
Faktor-faktor di Balik Perbedaan PerilakuPerbedaan perilaku ini berakar pada beberapa faktor. Pertama, Eropa telah lama kekurangan identitas politik yang koheren dan independen, serta pemimpin yang kuat seperti Jenderal de Gaulle yang mampu melawan Trump yang suka menindas. Kedua, Eropa sangat bergantung pada Amerika Serikat karena struktur politik dan ekonominya.
Keamanan Eropa dalam beberapa dekade setelah Perang Dunia II dibentuk oleh NATO dan kehadiran militer AS. Ekonomi Eropa juga terjalin dengan AS di banyak bidang. Oleh karena itu, Eropa pada praktiknya tidak dapat mengadopsi kebijakan agresif terhadap Washington, meskipun kepentingannya mengharuskannya. Ketergantungan struktural ini membatasi kemauan politik Eropa dan mengubahnya menjadi aktor yang lebih mengandalkan alat-alat lunak dan diplomatik.
Sebaliknya, Iran dan Yaman tidak hanya tidak memiliki ketergantungan struktural pada AS, tetapi pada dasarnya telah mendefinisikan identitas politik dan keamanan mereka berdasarkan perlawanan terhadap pengaruh dan arogansi asing. Setelah Revolusi Islam, Iran mendasarkan kebijakan luar negerinya pada kemerdekaan dan menghadapi hegemoni kekuatan besar. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah perang, Yaman juga menemukan identitas politik baru di mana perlawanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya memiliki tempat sentral. Perbedaan identitas ini menjelaskan perbedaan perilaku.
Faktor kedua adalah perbedaan struktur pengambilan keputusan. Eropa adalah kumpulan negara-negara dengan kepentingan yang berbeda. Pengambilan keputusan di Uni Eropa lambat, kompleks, dan membutuhkan konsensus. Dalam struktur seperti itu, respons yang cepat dan tegas hampir tidak mungkin. Tetapi Iran dan Yaman memiliki struktur pengambilan keputusan yang lebih terpusat yang memungkinkan respons yang cepat dan terkoordinasi. Perbedaan struktural ini menjelaskan kesenjangan antara "kapasitas respons" dan "kecepatan respons."
Pertanyaan utama
Namun, pertanyaan utamanya adalah apakah Eropa dapat atau harus mengambil inspirasi dari model perlawanan Iran dan Yaman terhadap AS. Jawaban singkatnya adalah Eropa pasti tidak akan mengikuti model tersebut karena, terlepas dari masalah kepemimpinan yang kuat, struktur ekonomi dan keamanannya tidak memungkinkan kemampuan untuk secara langsung menghadapi AS. Bahkan pada isu-isu seperti JCPOA, di mana Eropa secara terbuka menentang kebijakan AS, Eropa gagal mengambil tindakan praktis yang efektif.
Tetapi ini tidak berarti bahwa perbandingan antara kedua model tersebut tidak berguna. Sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa dalam sistem internasional, aktor-aktor yang memiliki kemauan untuk melawan, meskipun mereka lebih terkekang secara ekonomi atau militer, dapat mengubah persamaan kekuatan. Iran dan Yaman, dengan mengandalkan kemauan politik dan pencegahan asimetris, telah mampu memberikan kerugian besar pada Amerika Serikat dan memaksa Washington untuk mundur dari posisi sebelumnya, sementara Eropa, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang sangat besar, dalam banyak kasus mengambil posisi yang lemah dan pasif dalam menghadapi tekanan Amerika karena kurangnya kemauan politik dan ketergantungannya pada Amerika Serikat.
Greenland dan Pendekatan yang BerbedaMasalah Greenland adalah contoh nyata dari realitas ini. Jika negara seperti Iran berada di posisi Denmark, reaksinya akan sangat berbeda. Tetapi Eropa terpaksa bergerak melalui jalur diplomatik dan hukum, dan paling banyak, jalur ekonomi dan perdagangan seperti pengumuman tarif timbal balik, meskipun jalur-jalur ini memiliki efektivitas terbatas terhadap kekuatan Amerika. Perbedaan pendekatan ini mencerminkan perbedaan filosofi politik, struktur kekuasaan, dan persepsi ancaman.
Pada akhirnya, pertanyaan apakah Eropa akan menggunakan Iran dan Yaman untuk melindungi Greenland memiliki jawaban yang jelas: tidak. Tetapi pertanyaan ini merupakan jendela untuk memahami mengapa beberapa aktor dapat melawan AS, sementara aktor yang lebih asertif dengan sejarah kolonialisme dan provokasi perang lebih memilih untuk mundur. Untuk mengubah situasi ini, Eropa perlu mendefinisikan kembali perannya dalam sistem internasional; peran di mana ketergantungan keamanan pada AS dikurangi dan kemauan politik untuk membela kepentingan independen diperkuat. Sampai transformasi ini terjadi, Eropa akan tetap menjadi aktor yang lebih banyak menggunakan bahasa diplomasi daripada tindakan praktis dalam menghadapi tekanan AS.
Ironi dari cerita ini
Di sela-sela insiden ini, pengguna media sosial dengan cepat mulai beraksi dan menciptakan skenario imajiner namun ironis. Beberapa menulis: Jika Eropa ingin bereaksi dengan kecepatan dan intensitas yang sama terhadap klaim AS tentang Greenland, mereka mungkin akan membentuk "komite untuk mempelajari kemungkinan konsekuensi dari pembelian dan penjualan pulau-pulau air dingin" pada tahun 2050 dan mungkin mengeluarkan pernyataan "keprihatinan mendalam" pada tahun 2060. Kelompok lain dengan sinis mengatakan: Pengiriman 13 tentara Jerman dan 15 tentara Prancis ke Greenland sangat efektif sehingga AS mungkin akan meminta untuk membeli pulau itu secara bertahap karena takut.
Beberapa juga menulis dengan bercanda: Jika Eropa ingin mendapatkan bantuan dari Iran dan Yaman, mereka mungkin harus terlebih dahulu mengadakan pertemuan selama 27 jam untuk mencapai kesepakatan tentang "apakah kata bantuan memiliki konotasi militer atau tidak." Yang lain menyarankan agar Eropa, sebagai demonstrasi kekuatan, mengirim delegasi gabungan menteri lingkungan, budaya, dan pariwisata ke Greenland untuk menggunakan "kekuatan lunak" untuk melawan tindakan Amerika yang berlebihan; Mungkin dengan mengadakan festival musik di pantai yang membeku, Washington akan berubah pikiran.
Pada akhirnya, Eropa masih berharap untuk melindungi Greenland dengan mengirimkan beberapa personel militer, beberapa pernyataan diplomatik, dan mungkin beberapa cangkir kopi ke pertemuan-pertemuan di Brussel. Seolah-olah dalam benak Eropa, cara terbaik untuk melawan tindakan Amerika yang berlebihan adalah dengan mengadakan cukup banyak pertemuan sampai pihak lain mundur karena kelelahan mereka sendiri.(PH)