Berakhirnya "New Start" dan Bayang-bayang Berat Persaingan Nuklir terhadap Keamanan Global
https://parstoday.ir/id/news/world-i185084-berakhirnya_new_start_dan_bayang_bayang_berat_persaingan_nuklir_terhadap_keamanan_global
Pars Today - Dengan mendekatnya waktu berakhirnya "New START" antara Amerika Serikat dan Rusia, kerangka hukum terakhir yang membatasi gudang senjata nuklir dua kekuatan besar dunia ini akan segera berakhir; sebuah perkembangan yang meningkatkan kekhawatiran tentang dimulainya era baru persaingan senjata dan pelemahan arsitektur keamanan internasional.
(last modified 2026-02-05T14:30:45+00:00 )
Feb 05, 2026 21:23 Asia/Jakarta
  • Perjanjian New START
    Perjanjian New START

Pars Today - Dengan mendekatnya waktu berakhirnya "New START" antara Amerika Serikat dan Rusia, kerangka hukum terakhir yang membatasi gudang senjata nuklir dua kekuatan besar dunia ini akan segera berakhir; sebuah perkembangan yang meningkatkan kekhawatiran tentang dimulainya era baru persaingan senjata dan pelemahan arsitektur keamanan internasional.

"New START" yang akan berakhir pada hari Kamis, 5 Februari 2026, merupakan satu-satunya perjanjian kontrol senjata nuklir yang masih berlaku antara Washington dan Moskow. Perjanjian ini, yang ditandatangani pada tahun 2010 dan mulai berlaku pada tahun 2011, memainkan peran penting dalam membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis dan menciptakan transparansi antara kedua negara. Kini, dengan berakhirnya perjanjian tersebut, masa depan kontrol senjata nuklir terkatung-katung dalam ketidakpastian.

 

"New START "; Pilar Pengendalian Gudang Senjata Nuklir

 

Menurut ketentuan dalam New START, Amerika Serikat dan Rusia berkomitmen untuk membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang ditempatkan mereka menjadi 1.550 hulu ledak; angka yang menunjukkan pengurangan signifikan dibandingkan dengan perjanjian sebelumnya. Selain itu, mekanisme seperti pertukaran data, pengumuman pergerakan secara resmi, dan inspeksi lapangan diatur untuk menghindari salah interpretasi dan kesalahan perhitungan.

 

Perjanjian ini diperpanjang pada Februari 2021, di hari-hari terakhir sebelum masa berlakunya habis, dengan keputusan pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Joe Biden untuk memperpanjangnya selama lima tahun lagi; namun, perkembangan politik dan keamanan dalam beberapa tahun terakhir menghalangi dialog untuk memperpanjang atau menggantinya kembali.

 

Akhir dari Kerja Sama Nuklir Washington-Moskow

 

Para analis berpendapat bahwa berakhirnya START Baru pada dasarnya menandakan berakhirnya kerja sama terstruktur dalam pengendalian senjata antara kedua negara yang memiliki gudang senjata nuklir terbesar di dunia; sebuah kerja sama yang berakar dari akhir Perang Dingin dan membantu mengurangi ketegangan strategis.

 

Beberapa pengamat berharap bahwa berakhirnya perjanjian ini akan mendorong kedua pihak untuk terlibat dalam negosiasi baru; namun, kelompok lainnya memperingatkan bahwa tanpa adanya batasan hukum apapun, hal ini bisa memicu persaingan senjata baru dan bahkan mendorong negara-negara lain untuk memperluas kemampuan nuklir mereka.

 

Peringatan tentang Keruntuhan Tata Keamanan

 

Sejalan dengan itu, "Paus Leon XIV", pemimpin Katolik dunia, mengingatkan tentang kondisi dunia yang rapuh dan meminta Amerika Serikat serta Rusia untuk menemukan cara untuk memperpanjang atau menggantikan perjanjian ini guna menghindari perlombaan senjata baru. Laksamana "Tony Radakin", mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Inggris, juga memperingatkan bahwa kerangka keamanan tradisional dunia berada di ambang kehancuran.

 

"Dmitry Medvedev", mantan Presiden Rusia dan penandatangan New START, menggambarkan berakhirnya perjanjian ini sebagai "mencemaskan"; meskipun Moskow telah menangguhkan partisipasinya sejak Februari 2023 dan secara bersamaan menyatakan akan tetap mematuhi pembatasan jumlah hulu ledak.

 

Perbedaan Pendapat Mengenai Perjanjian Pengganti

 

Di sisi lain, "Donald Trump", Presiden Amerika Serikat, menunjukkan reaksi yang lebih kurang signifikan terhadap berakhirnya perjanjian tersebut dan mengatakan bahwa Washington akan mencari "kesepakatan yang lebih baik." Amerika Serikat menegaskan bahwa setiap perjanjian di masa depan harus melibatkan Tiongkok, sementara Rusia menginginkan kehadiran kekuatan nuklir Eropa seperti Prancis dan Inggris dalam kerangka semacam itu.

 

Meskipun telah ada pertemuan sebelumnya antara Presiden Amerika Serikat dan Rusia, hingga kini belum ada kemajuan menuju kesepakatan baru. Para ahli mengatakan bahwa meskipun masih ada kemungkinan untuk menghidupkan kembali pembicaraan, berakhirnya START Baru menandakan bahwa dunia memasuki periode yang lebih tidak stabil dan lebih berisiko dalam bidang keamanan strategis. (MF)