Empat Perkembangan Diplomatik: Dari Dukungan Putin untuk Kuba hingga Kebuntuan dalam Proyek Pertahanan Eropa
-
Presiden Rusia, Vladimir Putin
Pars Today – Bersamaan dengan eskalasi tensi internasional di berbagai bidang, empat perkembangan diplomatik penting terjadi dalam beberapa hari terakhir, masing-masing mewarnai lanskap perubahan global. Perkembangan tersebut secara berurutan meliputi kecaman Rusia terhadap sanksi Amerika Serikat terhadap Kuba, kelanjutan negosiasi tidak langsung Iran-Amerika Serikat di Jenewa, berakhirnya putaran ketiga pembicaraan trilateral mengenai Ukraina, dan ketidakjelasan nasib proyek bersama pesawat te
Putin: Sanksi Baru terhadap Kuba Tidak Dapat Kami Terima
Menurut laporan Pars Today, Vladimir Putin, Presiden Rusia, pada hari Rabu dalam pertemuannya dengan Bruno Rodríguez Parrilla, Menteri Luar Negeri Kuba, di Moskow, mengutuk sanksi baru Amerika Serikat terhadap Kuba. Ia menegaskan bahwa Moskow menganggap tindakan ini tidak dapat diterima dan senantiasa berdiri di samping rakyat Kuba untuk membela kedaulatan serta kemerdekaan negara tersebut. Putin, dengan merujuk pada hubungan panjang kedua negara, menyatakan, "Rusia dan Kuba memiliki hubungan istimewa yang telah berkembang secara historis. Kami selalu berada di sisi Kuba dalam perjuangannya untuk kemerdekaan, untuk hak mengikuti jalur pembangunannya sendiri, dan kami selalu mendukung rakyat Kuba."
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, sebelumnya telah memblokir pengiriman minyak mentah Venezuela ke Kuba dan mengancam akan memberlakukan tarif terhadap semua negara yang memasok minyak ke Kuba.
Reaksi Washington terhadap Negosiasi Jenewa; AS: Kami Tidak Melakukan Praduga atas Hasil Dialog dengan Iran
Dalam perkembangan lain, Tommy Pigott, Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, menyusul digelarnya putaran kedua negosiasi tidak langsung Tehran-Washington di Jenewa, menyatakan bahwa negaranya tidak melakukan praduga atas hasil dialog dengan Iran, namun di saat yang bersamaan menekankan kembali tuntutan-tuntutan sebelumnya, termasuk pembatasan nuklir.
Tommy Pigott, Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, pada hari Rabu waktu setempat dalam wawancara dengan jaringan Newsmax, menjawab pertanyaan apakah ia dapat berkomentar mengenai pernyataan Iran bahwa kemajuan telah dicapai dalam negosiasi, dengan mengatakan, "Situasinya berubah-ubah dan kami tidak ingin melakukan praduga atas hasil negosiasi dengan Iran."
Pigott, dalam lanjutannya, merujuk pada kehadiran Amerika di kawasan dan kembali menegaskan, "Kami menginginkan sebuah kesepakatan."
Putaran kedua negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung pada hari Selasa di kota Jenewa, Swiss, dan berakhir setelah sekitar tiga jam 30 menit perundingan diplomatik intensif. Putaran negosiasi ini, seperti putaran sebelumnya, berlangsung secara tidak langsung dengan mediasi Kesultanan Oman. Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, memimpin delegasi perunding Iran. Di sisi lain, Steve Witkoff, utusan khusus, dan Jared Kushner hadir dari pihak Amerika Serikat dalam dialog tersebut. Putaran pertama negosiasi tidak langsung Tehran-Washington telah berlangsung pada hari Jumat di Muskat. Dalam dialog tersebut, delegasi perunding Iran dan Amerika menyampaikan serangkaian pandangan, pertimbangan, dan pendekatan satu sama lain melalui Badr al-Busaidi, Menteri Luar Negeri Oman. Berdasarkan laporan, dialog ini telah memasuki "fase teknis" dan tim Iran hadir dalam putaran negosiasi ini dengan didampingi para ahli nuklir, hukum, dan ekonomi.
Berakhirnya Negosiasi Trilateral Jenewa tentang Ukraina
Dalam perkembangan ketiga, hari kedua dari putaran ketiga negosiasi trilateral Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat berakhir pada hari Rabu di Jenewa. Sumber-sumber berita melaporkan tidak adanya penandatanganan dokumen apa pun di antara para pihak. Vladimir Medinsky, asisten Presiden Rusia dan kepala delegasi Rusia, menggambarkan dialog ini sebagai "sulit namun konstruktif dan profesional". Berdasarkan laporan, hari pertama negosiasi berlangsung selama enam jam dan hari kedua sekitar dua jam. Maria Zakharova, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, mengenai pentingnya negosiasi ini mengatakan, "Setiap langkah yang dapat mengarah pada penyelesaian situasi memiliki arti yang sangat penting." Laporan menunjukkan bahwa para pihak telah mencapai kemajuan dalam masalah teknis, namun perbedaan pendapat mengenai masalah teritorial masih tetap ada.
Ketidakjelasan Masa Depan Proyek Bersama Pesawat Tempur Prancis dan Jerman
Dalam perkembangan keempat, Friedrich Merz, Kanselir Jerman, dengan pernyataan bahwa Berlin tidak serta merta membutuhkan jenis pesawat tempur generasi baru yang sama seperti yang diinginkan Prancis, membuat nasib proyek bersama "Future Combat Air System" (FCAS) menjadi semakin tidak jelas. Merz menambahkan, "Prancis, di generasi pesawat tempur berikutnya, membutuhkan pesawat yang mampu membawa senjata nuklir dan beroperasi dari kapal induk. Ini bukan sesuatu yang saat ini kami butuhkan di militer Jerman."
Proyek Future Combat Air System (FCAS) dimulai pada tahun 2017 (1396) untuk menggantikan jet Rafale Prancis dan pesawat Eurofighter yang digunakan Jerman dan Spanyol pada tahun 2040. Para analis berpendapat bahwa proyek yang dimulai dengan partisipasi tiga negara ini, dalam praktiknya telah mengalami kemandekan akibat perbedaan pendapat antara perusahaan Prancis Dassault Aviation dan perusahaan Airbus. (MF)