Legislator AS Ramai-ramai Menentang Kebijakan Haus Perang Trump terhadap Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i185742-legislator_as_ramai_ramai_menentang_kebijakan_haus_perang_trump_terhadap_iran
Pars Today – Gelombang penentangan terhadap kebijakan haus perang Donald Trump, presiden Amerika Serikat terhadap Iran mulai terbentuk di antara anggota kongres negara ini.
(last modified 2026-02-19T09:49:13+00:00 )
Feb 19, 2026 16:44 Asia/Jakarta
  • Trump dan kebijakan haus perang terhadap Iran
    Trump dan kebijakan haus perang terhadap Iran

Pars Today – Gelombang penentangan terhadap kebijakan haus perang Donald Trump, presiden Amerika Serikat terhadap Iran mulai terbentuk di antara anggota kongres negara ini.

Seiring dengan meningkatnya spekulasi mengenai kemungkinan aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran, sejumlah senator dan anggota Kongres berpengaruh di Amerika Serikat dengan tegas menolak petualangan militer Donald Trump terhadap Iran melalui unggahan di media sosial. Para legislator yang sebagian besar berasal dari Partai Demokrat dan Republik ini, pada hari Kamis, merujuk pada konsekuensi bencana dari perang semacam itu dan menuntut penghentian segera kebijakan-kebijakan tersebut serta penghormatan terhadap kewenangan Kongres dalam memutuskan untuk memasuki perang.

 

Anggota Kongres AS: Tidak untuk Perang dengan Iran

 

Don Beyer, anggota DPR dari Partai Demokrat negara bagian Virginia, merujuk pada keluarnya Trump dari Perjanjian Nuklir (JCPOA) pada tahun 2018. Ia menulis di media sosial X, "Trump mengancam bahwa Amerika akan berperang dengan Iran kecuali mereka menandatangani kesepakatan seperti kesepakatan sebelumnya." Ia menegaskan, "Tidak untuk perang dengan Iran."

 

Sementara itu, Pramila Jayapal, anggota DPR dari Partai Demokrat negara bagian Washington, dengan merujuk pada Konstitusi, menolak setiap aksi militer tanpa izin Kongres dan menuntut penghentian eskalasi ketegangan.

 

Pramila Jayapal, anggota DPR dari Partai Demokrat

 

Jim McGovern, anggota DPR dari Partai Demokrat negara bagian Massachusetts, juga dengan menekankan prioritas dalam negeri, menyatakan bahwa perang dengan Iran bertentangan dengan keinginan rakyat Amerika. Ia berkata, "Rakyat Amerika menginginkan harga yang lebih rendah dan layanan kesehatan yang lebih baik, bukan perang."

 

Kekhawatiran akan Pengulangan Kesalahan Masa Lalu di Asia Barat

 

Sejumlah legislator Amerika juga memperingatkan akan pengulangan kesalahan masa lalu dengan merujuk pada pengalaman pahit perang-perang sebelumnya. Jason Crow, anggota DPR dari Partai Demokrat negara bagian Colorado dan seorang veteran perang, dengan mengingatkan pemboman tujuh negara oleh Trump, menegaskan bahwa rakyat Amerika telah lelah dengan konflik tak berujung. Andy Kim, Senator dari Partai Demokrat negara bagian New Jersey, juga bertanya dalam sebuah unggahan, "Apa yang akan diperoleh dari perang dengan Iran? Apakah itu akan membuat Anda lebih aman?" Ia menuduh Trump menyeret negara ke ambang perang tanpa alasan dan rencana yang jelas.

 

Bahkan tokoh-tokoh dari Partai Republik pun bergabung dalam penolakan ini. Thomas Massie, anggota DPR dari Partai Republik negara bagian Kentucky, menuntut pemungutan suara di Kongres mengenai setiap aksi militer dan menyatakan, "Saya akan memilih 'America First' yang berarti memilih menentang lebih banyak perang di Asia Barat (Timur Tengah)."

homas Massie, anggota DPR dari Partai Republik negara bagian Kentucky

 

Marjorie Taylor Greene, mantan anggota DPR dari Partai Republik, juga dengan merujuk pada hasil pemilu 2024, menekankan keinginan rakyat untuk mengakhiri perang-perang di luar negeri.

 

Analisis: Perang untuk Netanyahu Bencana bagi Amerika

 

Para pakar masalah strategis juga menilai gerakan ini menguntungkan kepentingan rezim Zionis. David Pine, pakar keamanan nasional, menggambarkan tindakan ini sebagai "perang agresif Amerika yang tidak dapat dibenarkan atas nama Benjamin Netanyahu," Perdana Menteri Israel. Ia memperingatkan bahwa petualangan semacam itu dapat menyebabkan kekalahan Amerika dan ketidakstabilan ekonomi. Ia juga merujuk pada kemampuan Iran untuk memblokade Selat Hormuz dan dampaknya terhadap kenaikan harga minyak. (MF)