Ratusan Warga Berlin Demo Tolak Agresi AS-Zionis ke Iran dan Lebanon
-
Demonstrasi di Berlin menolak agresi AS-Zionis ke Iran dan Lebanon
Pars Today - Ratusan orang di Berlin, Minggu (19 April 2026), turun ke jalan mengecam agresi AS dan rezim Zionis terhadap Iran dan Lebanon.
Melaporkan dari laman Al Jazeera, IRNA pada Senin, 20 April 2026, para demonstran di Berlin yang diguyur hujan membawa bendera Palestina, Lebanon, dan Iran, serta meneriakkan yel-yel menentang agresi AS dan rezim Zionis ke wilayah Lebanon dan Iran.
Riyadh Arif, seorang aktivis politik, dalam video yang dirilis jaringan ini mengatakan bahwa meskipun hujan deras, demonstrasi di Berlin terus berlangsung. "Karena hujan di sini tidak sebanding dengan hujan yang jatuh di atas tenda-tenda para pengungsi," ujarnya.
"Ibu kota Jerman sebelumnya telah menjadi saksi gelombang protes anti-kolonial," lanjutnya.
Demo di Depan Parlemen Jerman
Arif menambahkan bahwa rakyat kini berada di jalan-jalan ibu kota, di depan gedung parlemen Jerman.
Sebelumnya, pada 5 April lalu, ratusan warga Jerman dan aktivis perdamaian menggelar demonstrasi besar di jalan-jalan Berlin, mengecam agresi militer rezim Zionis dan AS terhadap Iran, serta menegaskan solidaritas mereka dengan bangsa dan pemerintah Iran.
Aksi demonstrasi ini dimulai dari Stasiun Kereta Api Utama Berlin (Europaplatz). Para peserta berarak di sepanjang jalan utama menuju Kedutaan Besar AS di dekat Gerbang Brandenburg.
Pameran Foto Syuhada Minab di Berlin
Pada hari Sabtu (18 April), pameran peringatan syuhada Sekolah Shajarah Tayyibah, Minab, digelar di pusat kota Berlin. Acara ini dihadiri sejumlah warga Iran dan disambut hangat oleh warga Jerman.
Pameran berlangsung di Alexanderplatz, di depan gedung pemerintahan negara bagian Berlin. Foto-foto anak-anak syuhada Minab dipajang bersama simbol-simbol kehidupan sehari-hari mereka, termasuk tas sekolah. Acara ini bertujuan mengingatkan dimensi kemanusiaan dari perang baru-baru ini dan berhasil menarik perhatian para pejalan kaki serta warga Jerman.
Latar Belakang: Perang 40 Hari dan Gencatan Senjata
Perang Ramadan, serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran, dimulai pada 28 Februari 2026. Setelah 40 hari, Presiden AS Donald Trump, Selasa malam (7 April 2026), dalam pernyataannya di Truth Social, mengumumkan kemundurannya.
Pada dini hari 8 April, kedua pihak menyepakati gencatan senjata dua minggu dengan mediasi Pakistan untuk mengadakan negosiasi guna mengakhiri perang. Namun, ketamakan AS dalam negosiasi Islamabad menghalangi tercapainya kerangka kerja bersama dan kesepakatan.
Ratusan warga Berlin hujan-hujanan turun ke jalan. Bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk menyatakan: kami tidak setuju dengan perang yang dilakukan atas nama kami.
Mereka membawa bendera Iran, Lebanon, Palestina. Mereka meneriakkan perlawanan terhadap agresi. Di tengah panggung politik yang didominasi retori perang, suara rakyat di Berlin ini adalah pengingat bahwa tidak semua warga Barat mendukung petualangan militer pemerintah mereka.
Pameran foto anak-anak syuhada Minab di pusat Berlin juga bukan sekadar acara biasa. Itu adalah upaya menyentuh hati nurani: bahwa perang bukan hanya tentang rudal dan selat, tetapi tentang tas sekolah yang tidak akan pernah dipakai lagi.
Pertanyaannya: apakah para pemimpin di Washington dan Tel Aviv mendengar teriakan ini? Atau mereka akan terus bermain api, sementara rakyat di kedua sisi samudra membayar harga yang mahal?(sl)