Diplomat PBB yang Mundur: Serangan AS ke Sekolah di Iran = Kejahatan Perang!
-
Foto anak-anak syuhada Minab
Pars Today – Mohamad Safa, seorang diplomat yang mengundurkan diri dari PBB, merespons serangan kriminal militer AS terhadap sekolah-sekolah di Iran dan menegaskan bahwa tindakan ini adalah kejahatan perang.
Menurut laporan Pars Today mengutip IRNA, 1 Mei 2026, dalam pesannya di X, Safa mengunggah ulang foto-foto anak-anak Iran yang gugur dalam serangan brutal AS dan rezim Zionis, seraya menulis:
"Bayangkan jika Iran membom Washington dan membunuh murid-murid di sekolah. Apa yang akan kalian sebut itu? Teroris."
"AS dan Israel membom Tehran dan membunuh murid-murid di sekolah. Mengapa kalian menyebutnya serangan pre-emptive?"
"Membom sekolah, menurut hukum humaniter internasional, adalah kejahatan perang."
Konteks Tragedi:
Pada serangan 28 Februari 2026, saat Iran justru sedang dalam negosiasi serius dengan AS, Amerika dan rezim Zionis melancarkan agresi ke sejumlah titik di berbagai kota Iran.
Dalam serangan biadap itu, 168 murid dan staf pengajar di Sekolah Shajarah Tayyibah, Minab, gugur secara tragis.
Secara total, menurut Nasser Siraj, Sekretaris Dewan Hak Asasi Iran, sepanjang perang ini:
383 anak tewas (7 di bawah 1 tahun, 255 usia 1-12 tahun, 121 usia 12-18 tahun)
2.115 anak terluka (70 di antaranya balita di bawah 2 tahun)
Tentang Mohamad Safa:
Ia adalah perwakilan utama Palestine Voluntary Association (PVA) di PBB, sebuah organisasi dengan status konsultatif khusus di ECOSOC. Safa sebelumnya mengumumkan pengunduran dirinya dari semua aktivitas di PBB, menuduh pejabat tinggi PBB "melayani lobi yang kuat, bukan PBB" dan tidak sanggup menyaksikan apa yang terjadi.
Seorang diplomat PBB yang mengundurkan diri karena muak dengan institusinya sendiri memberikan perspektif jernih: Bom di sekolah adalah kejahatan perang, apa pun alasannya. Serangan ke Minab yang menewaskan 168 anak sekolah bukanlah "kesalahan operasional" atau "kerusakan tambahan", ini adalah kebijakan yang berdampak pada generasi paling tidak berdosa.
Safa mengajukan pertanyaan moral yang sederhana tetapi menusuk: jika Iran yang mengebom sekolah di AS, akan disebut teroris. Namun ketika AS yang melakukannya, disebut "pre-emptive strike". Ini bukan tentang hukum, ini tentang standar ganda yang dibungkus jargon militer. Sementara PBB diam, Safa memilih bicara. Namun apakah dunia mendengar? Atau hanya memilih untuk menutup mata lagi?(sl)