Jepang Uji Rudal Pertama Kali di Luar Negeri Sejak PD II, Bidik Sasaran di Laut Filipina
https://parstoday.ir/id/news/world-i189526-jepang_uji_rudal_pertama_kali_di_luar_negeri_sejak_pd_ii_bidik_sasaran_di_laut_filipina
Pars Today - Sebuah media Filipina melaporkan uji coba rudal Jepang di wilayah negaranya, sebuah langkah yang dilakukan seiring dengan semakin dalamnya kerja sama pertahanan Tokyo di Asia Timur, yang dinilai sebagai indikasi perubahan pendekatan keamanan dan penguatan deterensi di kawasan. Ini adalah pertama kalinya sejak Perang Dunia II, Jepang melakukan uji coba rudal di luar wilayahnya sendiri.
(last modified 2026-06-04T09:25:21+00:00 )
May 06, 2026 14:08 Asia/Jakarta
  • Rudal antikapal Tipe 88 Jepang
    Rudal antikapal Tipe 88 Jepang

Pars Today - Sebuah media Filipina melaporkan uji coba rudal Jepang di wilayah negaranya, sebuah langkah yang dilakukan seiring dengan semakin dalamnya kerja sama pertahanan Tokyo di Asia Timur, yang dinilai sebagai indikasi perubahan pendekatan keamanan dan penguatan deterensi di kawasan. Ini adalah pertama kalinya sejak Perang Dunia II, Jepang melakukan uji coba rudal di luar wilayahnya sendiri.

Dilansir IRNA, 6 Mei 2026, jaringan televisi Filipina ABC-CBN hari ini di Facebook menulis bahwa Jepang melaksanakan uji coba rudalnya dalam rangka latihan bersama "Balikatan" di wilayah Filipina, langkah yang beriringan dengan pendalaman kerja sama pertahanan antara Tokyo dan Manila, mengirimkan sinyal jelas tentang penguatan deterensi dan perubahan bertahap peran militer Jepang.

Langkah ini terjadi di tengah kunjungan Shinjiro Koizumi, Menteri Pertahanan Jepang, ke Manila untuk menghadiri latihan multilateral Balikatan. Ia bertemu dengan Gilberto Teodoro Jr., mitranya dari Filipina, serta Ferdinand Marcos Jr., Presiden negara tersebut.

Latihan "Balikatan", yang melibatkan pasukan AS, Filipina, Jepang, Kanada, dan beberapa negara lain, merupakan salah satu latihan militer tahunan terbesar di kawasan. Dalam latihan ini, untuk pertama kalinya pasukan Jepang menembakkan rudal antikapal Tipe 88 dan menghantam sebuah kapal tua milik AL Filipina yang sudah dinonaktifkan.

Berdasarkan laporan NHK Jepang, para pejabat senior Jepang dan Filipina dalam pertemuan itu menyatakan keprihatinan terhadap apa yang mereka sebut sebagai "tindakan koersif dan agresif Tiongkok" di perairan yang disengketakan, serta menekankan penolakan mereka terhadap setiap upaya sepihak mengubah status quo dengan kekerasan.

Koizumi dan Teodoro juga sepakat membentuk gugus tugas bersama untuk mengkaji transfer peralatan pertahanan. Berdasarkan kesepakatan ini, kemungkinan transfer kapal perusak kelas Abukuma yang telah dipensiunkan serta pesawat patroli TC-90 ke Filipina akan dikaji.

Hal ini menyusul revisi kebijakan pertahanan Jepang dan pelonggaran pembatasan ekspor persenjataan, perubahan signifikan yang menunjukkan pergeseran Tokyo dari posisi tradisional pasca-Perang Dunia II menuju peran yang lebih aktif di bidang keamanan.

Perkembangan ini dapat dianalisis dalam konteks persaingan geopolitik yang semakin intensif di kawasan Samudra Hindia-Pasifik. Laut Cina Selatan, sebagai salah satu jalur perdagangan terpenting dunia, menjadi lokasi sengketa teritorial antara Beijing, Manila, Hanoi, dan Kuala Lumpur. Benturan berulang antara pasukan laut dan penjaga pantai Tiongkok-Filipina dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan ketegangan dan kekhawatiran akan konflik tak terduga.

Sementara itu, Tiongkok bereaksi negatif terhadap perluasan kerja sama militer antara Jepang, Filipina, dan sekutu Barat, memandang langkah-langkah tersebut sebagai bagian dari upaya menahan kekuatan Beijing yang terus tumbuh. Namun para pejabat Tokyo dan Manila menekankan bahwa kerja sama ini bersifat defensif dan deterensif, serta ditujukan untuk menjaga stabilitas dan keamanan kawasan.

Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, menyaksikan langsung pengerahan kekuatan militer terbesarnya sejak era Perang Dunia II di Filipina. Rudal Tipe 88 ditembakkan, kapal perusak tua dihancurkan, dan wacana alih teknologi serta kapal perang ke Manila digulirkan. Poros Tokyo-Manila-Washington yang tadinya "defensif" kini berubah wujud menjadi koalisi penangkal yang konkret. Tiongkok bukan lagi sekadar ancaman deklarasi. Dan di perairan Sulu hingga Scarborough Shoal, gelombang baru persaingan geopolitik telah dimulai.(Sail)