Wawancara Pars Today dengan Ranjan Solomon, Analis India
Sekutu Baru? Keheningan India soal Kapal Dena Buktikan Ia Tak Berdaya di Hadapan AS!
-
Ranjan Solomon, analis India
Pars Today - Ranjan Solomon, analis India, percaya bahwa tenggelamnya kapal perusak Iran "Dena" lebih dari sekadar peristiwa militer, adalah simbol dari kelanjutan dominasi kekuatan-kekuatan besar dan tantangan terhadap tatanan internasional. Menurutnya, insiden ini di negara-negara Dunia Selatan dianggap sebagai peringatan tentang ketidaksetaraan kekuasaan dan kerapuhan aturan internasional.
Dalam wawancara eksklusif dengan Pars Today, Ranjan Solomon, analis politik dan peneliti India, mengkaji dimensi politik, geopolitik, dan media dari tenggelamnya kapal perusak Iran "Dena" serta konsekuensinya bagi tatanan internasional.
Solomon percaya bahwa tindakan Amerika Serikat ini lebih dari sekadar konfrontasi militer, dan telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tentang unilateralisme, kredibilitas tatanan berbasis aturan, peran media Barat, dan keterbatasan kemandirian strategis India di bawah tekanan geopolitik. Ia juga mengevaluasi konsekuensi peristiwa ini bagi negara-negara Global Selatan, hubungan Iran-India, dan posisi Amerika Serikat dalam opini publik global.
Teks lengkap wawancara ini adalah sebagai berikut:
Pars Today - Tenggelamnya kapal perusak Iran "Dena" oleh kapal selam Amerika, terutama setelah kembalinya kapal ini dari latihan perang maritim internasional di India, membawa pesan politik yang berat. Pesan politik dan simbolis seperti apa yang disampaikan peristiwa ini kepada opini publik dunia, terutama bagi negara-negara 'Global Selatan'?
Tenggelamnya kapal perusak Iran "Dena" memiliki konsekuensi yang melampaui ranah militer. Secara politis dan simbolis, insiden ini oleh banyak negara Global Selatan ditafsirkan sebagai manifestasi dari kelanjutan dominasi militer kekuatan-kekuatan besar, bahkan di perairan internasional dan di luar zona perang resmi. Fakta bahwa kapal ini tepat sasaran setelah kembali dari latihan perang maritim multinasional di India memberikan dimensi geopolitik yang lebih dalam pada peristiwa ini; ini menunjukkan bahwa ketika persaingan strategis yang lebih besar sedang berlangsung, partisipasi dalam diplomasi internasional dan kerja sama militer tidak selalu melindungi negara-negara non-Barat dari tindakan paksaan.
Bagi banyak masyarakat di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, serangan ini membangkitkan ingatan historis tentang intervensi, kedaulatan yang tidak setara, dan penerapan hukum internasional yang selektif. Negara-negara yang lahir dari kolonialisme masih sensitif terhadap tindakan yang tampaknya memperkuat gagasan bahwa beberapa kekuatan menganggap diri mereka berhak untuk bertindak di luar norma-norma global yang diterima dan akuntabilitas internasional. Dalam hal ini, insiden kapal perusak Dena tidak hanya dianggap sebagai serangan terhadap Iran, tetapi juga sebagai peringatan bagi aktor-aktor independen regional yang berusaha menjalankan kebijakan luar negeri yang mandiri di luar kerangka strategis Barat.
Muatan simbolis ini menjadi lebih kuat ketika Iran semakin mendefinisikan ulang dirinya sebagai bagian dari perlawanan Global Selatan yang lebih luas terhadap unilateralisme dan diplomasi berbasis sanksi. Oleh karena itu, penghancuran kapal Iran di perairan internasional bergema secara politis di antara bangsa-bangsa yang sebelumnya juga telah mengkritik apa yang mereka sebut sebagai "militerisasi tatanan dunia oleh kekuatan-kekuatan dominan."
Peristiwa ini juga merusak kredibilitas istilah yang sering diulang oleh Barat, yaitu 'tatanan internasional berbasis aturan'. Banyak pengamat mengajukan pertanyaan mendasar: jika perairan internasional tidak lagi aman dari ketegangan militer dan unilateralisme, lalu aturan apa yang sebenarnya mengatur sistem global? Bagi sebagian besar Global Selatan, jawabannya semakin menunjukkan bahwa tatanan ini tidak bergantung pada hukum internasional itu sendiri, tetapi pada distribusi kekuatan militer dan politik yang tidak setara.
Pars Today - Mengapa media Barat memilih pendekatan yang simplistik dan mengkategorikan serangan ini hanya sebagai 'ketegangan militer'? Sebaliknya, mengapa banyak pihak di Asia dan Dunia Selatan menekankan pada kesyahidan awak kapal Iran dan dimensi kemanusiaan dari insiden ini? Haruskah opini publik dan masyarakat internasional membedakan dan menganalisis serangan ini sebagai bagian dari perang media yang lebih luas dan monopoli Barat atas narasi global?
Reaksi media yang kontradiktif mencerminkan kesenjangan geopolitik dan ideologis yang dalam dalam sistem informasi global. Sebagian besar liputan media Barat tentang tenggelamnya kapal perusak Dena pada dasarnya membingkai peristiwa tersebut dalam kerangka strategi militer, pencegahan (deteren), manajemen ketegangan, dan persaingan geopolitik. Dalam jenis literatur dan wacana ini, penderitaan manusia seringkali terpinggirkan oleh bahasa teknis dan birokratis dari kalkulasi keamanan dan keseimbangan strategis.
Sebaliknya, media dan opini publik di sebagian Asia, Asia Barat, Afrika, dan Amerika Latin memiliki fokus yang jauh lebih kuat pada konsekuensi kemanusiaan dari serangan ini. Kematian awak kapal Iran tidak hanya dilihat sebagai korban operasional dalam konfrontasi strategis, tetapi mereka dipandang sebagai manusia yang hidupnya dikorbankan untuk tatanan internasional yang sangat termiliterisasi. Di banyak masyarakat yang sejarahnya terkait dengan kolonialisme, invasi, sanksi, atau pendudukan, perang tidak dialami sebagai latihan geopolitik yang abstrak, tetapi sebagai trauma manusia yang nyata dan hidup.
Perbedaan pendekatan ini melampaui sekadar selera atau prioritas editorial; ini mengungkap ketidaksetaraan yang terus berlanjut dalam 'kekuatan mendongeng global'. Lembaga media Barat masih mendominasi sebagian besar ruang informasi internasional, dan karena itu, mereka memiliki pengaruh dan kekuatan besar dalam mendefinisikan bahasa yang digunakan untuk menafsirkan konflik. Istilah-istilah seperti 'serangan bedah', 'ketegangan', atau 'pencegahan' sering berfungsi untuk mendepolitisasi kekerasan, mereduksi tragedi kemanusiaan hingga tingkat kosakata strategis.
Pada saat yang sama, jaringan media alternatif di seluruh Global Selatan semakin menantang monopoli ini. Negara-negara dan masyarakat yang secara historis mengalami intervensi asing tidak lagi bersedia menerima pembingkaian Barat sebagai narasi yang netral atau adil. Oleh karena itu, insiden kapal perusak Dena menjadi bagian dari perjuangan yang lebih luas; perjuangan untuk menentukan siapa yang mengendalikan narasi global dan penderitaan serta ketidakadilan siapa yang diakui.
Bagi banyak pihak di Dunia Selatan, penekanan pada kesyahidan awak kapal Iran adalah penegasan pandangan etis melawan budaya media yang sering menormalisasi kekerasan yang dilakukan oleh negara-negara kuat. Jadi, perdebatan ini bukan hanya tentang jurnalisme, tetapi tentang perspektif yang bersaing tentang keadilan, ingatan historis, dan legitimasi politik dalam urusan dunia.
Pars Today - Beberapa analis percaya bahwa tujuan serangan ini bukan hanya militer, tetapi Amerika Serikat juga berupaya memperluas kampanye tekanan dan perang psikologisnya terhadap Iran dari Teluk Persia ke perairan internasional. Apa penilaian Anda? Dan mengapa tindakan AS ini dapat dianggap sebagai kesalahan strategis bagi Washington?
Sangat mungkin bahwa serangan ini, selain tujuan militer, juga memiliki tujuan psikologis dan politis. Perang modern saat ini sama-sama bergantung pada hasil medan perang dan dilakukan melalui pengiriman pesan, intimidasi, dan pemajuan narasi. Dengan menargetkan kapal Iran di luar teater operasi biasanya di Teluk Persia, Washington kemungkinan berusaha mengirimkan pesan bahwa kedalaman strategis Iran, bahkan di ruang internasional yang lebih luas, rentan.
Tindakan semacam itu sering dilakukan dengan tujuan memperkuat doktrin pencegahan (deteren) dan memamerkan dominasi militer. Namun, sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada kekuatan paksaan dapat membuahkan hasil yang sepenuhnya kontraproduktif. Alih-alih mengisolasi Iran, insiden ini justru dapat membangkitkan gelombang simpati terhadap Teheran di antara bangsa-bangsa dan pemerintah-pemerintah yang sebelumnya juga telah mengkritik intervensi Barat dan standar ganda dalam urusan internasional.
Serangan ini juga membawa risiko merusak kredibilitas internasional dan inklusivitas Amerika Serikat. AS selalu mempromosikan dirinya sebagai pembela tatanan global, stabilitas maritim, dan hukum internasional; tetapi ketika kekuatan militer diterapkan secara sepihak di perairan internasional, banyak negara melihat kontradiksi yang jelas antara prinsip-prinsip yang diklaim Washington dan perilaku strategisnya. Hal ini melemahkan otoritas moral yang sampai batas tertentu menjadi sandaran kepemimpinan global AS.
Dari perspektif strategis, insiden ini dapat mempercepat proses koordinasi politik dan militer yang lebih erat di antara negara-negara yang mencari alternatif untuk struktur keamanan yang didominasi AS. Negara-negara yang sebelumnya telah curiga terhadap unilateralisme AS mungkin akan semakin memperdalam kerja sama timbal balik untuk mengurangi kerentanan mereka terhadap tekanan Barat.
Faktor penting lainnya adalah persepsi psikologis. Superioritas militer tidak secara otomatis menghasilkan legitimasi politik. Di banyak wilayah Global Selatan, penggunaan kekuatan militer yang menghancurkan terhadap negara-negara yang lebih lemah atau di bawah sanksi sering menghasilkan rasa jijik, bukan rasa hormat. Oleh karena itu, insiden kapal perusak Dena mungkin telah memperkuat sentimen anti-Amerika melampaui perbatasan Iran itu sendiri.
Karena alasan inilah serangan ini pada akhirnya dapat menjadi kesalahan strategis bagi Washington. Tindakan militer taktis terkadang dapat menimbulkan biaya geopolitik jangka panjang dengan menghancurkan kepercayaan, meningkatkan perlawanan, dan memperkuat mentalitas bahwa sistem internasional diatur oleh aturan tidak setara yang dipaksakan oleh kekuatan, bukan oleh konsensus internasional yang sejati.
Pars Today - Mengapa respons India, meskipun ada klaim tentang 'kemandirian strategisnya', begitu hati-hati dan lemah? Sehingga banyak pengamat menilai reaksi ini tidak memiliki keaslian dan ketegasan politik. Pertanyaan yang muncul di kalangan adalah: apakah New Delhi telah terikat oleh kalkulasi geopolitik dan pengaruh Amerika Serikat?
Respons hati-hati India terhadap tenggelamnya kapal perusak Iran "Dena" telah memicu banyak kritik; karena New Delhi telah lama mempromosikan dirinya sebagai aktor global yang independen dan berkomitmen pada 'kemandirian strategis'. Sejak era Jawaharlal Nehru dan pembentukan Gerakan Non-Blok, India telah mengembangkan citra berdasarkan solidaritas anti-kolonial, diplomasi berdaulat, dan ketahanan terhadap dominasi kekuatan besar.
Namun, insiden kapal perusak Dena mengungkap kontradiksi yang semakin meningkat antara identitas diplomatik tradisional India dengan aliansi geopolitiknya saat ini. Kapal Iran ini, tepat sebelum insiden, berpartisipasi dalam latihan perang maritim yang dihosting India, dan ini membuat serangan selanjutnya terhadapnya menjadi sangat signifikan secara politis bagi New Delhi. Banyak pengamat mengharapkan reaksi yang lebih keras; reaksi yang dapat diwujudkan dalam bentuk kecaman diplomatik, permintaan pertanggungjawaban pelaku serangan, atau pembelaan yang lebih tegas terhadap stabilitas maritim dan hukum internasional.
Namun sebaliknya, India mengambil sikap konservatif yang secara nyata menghindari kritik langsung terhadap Washington. Tingkat kehati-hatian ini mencerminkan realitas perubahan kebijakan luar negeri India. Selama dua dekade terakhir, hubungan India dengan Amerika Serikat telah berkembang secara dramatis melalui perjanjian pertahanan, kerja sama intelijen, pembelian persenjataan, inisiatif kawasan Indo-Pasifik, dan koordinasi strategis yang sebagian besar ditujukan untuk menahan dan menyeimbangkan kekuatan terhadap China.
Meskipun India masih berbicara dengan retorika multipolaritas dan diplomasi independen, integrasi negaranya yang semakin meningkat ke dalam kerangka strategis Barat telah menciptakan batasan yang jelas baginya. Dari sudut pandang banyak pengamat di seluruh Global Selatan, respons New Delhi yang diam dan lunak menunjukkan bahwa setiap kali kepentingan strategis langsung AS dipertaruhkan, ruang gerak independen India menjadi lebih sempit.
Hal ini sangat sensitif karena India di masa lalu mempertahankan hubungan dekatnya dengan Iran meskipun ada tekanan Barat. Iran memainkan peran kunci dalam keamanan energi India dan ambisi negara itu untuk terhubung ke jalur komunikasi regional – terutama melalui proyek Pelabuhan Chabahar. Namun demikian, tekanan sanksi AS dan ketergantungan India yang meningkat pada kemitraan ekonomi dan militer Barat secara bertahap telah mempersempit ruang untuk interaksi yang terbuka dan independen dengan Teheran.
Oleh karena itu, insiden kapal perusak Dena berubah menjadi lebih dari sekadar konfrontasi maritim sederhana. Peristiwa ini menjadi ujian politik yang lebih besar; ujian untuk mengukur apakah kemandirian strategis India di saat tekanan geopolitik masih autentik atau lebih bersifat slogan. Bagi banyak pengamat di Asia, Afrika, dan Asia Barat, keheningan India kurang mirip dengan 'netralitas' dan lebih merupakan indikasi keraguan dan kesulitan yang dihadapi oleh kekuatan regional yang tunduk pada realitas pengaruh AS.
Lama setelah asap dari peristiwa ini menghilang di atas Samudra Hindia, makna dan implikasi politik dari insiden Dena akan tetap ada. Bagi banyak pihak di seluruh Global Selatan, pertanyaannya bukan lagi apakah 'kekuasaan' mendominasi sistem internasional; tetapi pertanyaannya adalah: apakah umat manusia masih dapat membangun dunia di mana 'hukum' mencegah demonstrasi kekuasaan yang berlebihan, sebelum kekuasaan itu sendiri menghancurkan hukum?
Pandangan, analisis, dan evaluasi yang disajikan dalam wawancara ini hanyalah mencerminkan pendapat pribadi narasumber dan tidak serta merta mencerminkan posisi, kebijakan, atau pandangan Pars Today.