Dari "Shock" ke "Erosi Panjang": Bagaimana Pasar Global Membaca Perang Iran-AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i191318-dari_shock_ke_erosi_panjang_bagaimana_pasar_global_membaca_perang_iran_as
Pars Today - Setelah ketegangan di Asia Barat memanas menyusul serangan agresif Amerika terhadap Iran, para investor semakin dihadapkan pada kemungkinan berlanjutnya situasi ini, dan pasar secara bertahap mulai memperhitungkan skenario "pergeseran panjang" (long-term attrition).
(last modified 2026-07-16T10:11:38+00:00 )
Jun 11, 2026 15:16 Asia/Jakarta
  • Pasar saham global
    Pasar saham global

Pars Today - Setelah ketegangan di Asia Barat memanas menyusul serangan agresif Amerika terhadap Iran, para investor semakin dihadapkan pada kemungkinan berlanjutnya situasi ini, dan pasar secara bertahap mulai memperhitungkan skenario "pergeseran panjang" (long-term attrition).

Melansir IRNA, 11 Juni 2026, putaran konflik terbaru dimulai setelah Komando Pusat Amerika (CENTCOM) pada Rabu (10/6) malam melancarkan serangan agresif ke wilayah Iran dan mendapat respons dari Tehran.

Sementara itu, CNBC melaporkan, Kamis (11/6), bahwa meskipun indeks berjangka di pasar AS mengalami kenaikan, pasar Asia umumnya ditutup melemah. Minyak yang pada hari Kamis naik sekitar 2 persen, masih diperdagangkan di bawah $100 per barel.

Media tersebut menulis, "Tantangan utama bagi investor mungkin bukanlah kejutan jangka pendek, tetapi sebuah dunia di mana biaya energi tetap tinggi dan biaya pinjaman juga stabil di level yang tinggi."

Menurut laporan ini, dengan setiap putaran serangan baru, kemungkinan tercapainya solusi diplomatik tampak semakin kecil, dan pasar bersiap untuk konflik yang lebih panjang. Hasil dari situasi ini mungkin bukan kejatuhan pasar secara tiba-tiba, tetapi perubahan yang lebih struktural: yaitu dunia di mana investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk menerima risiko geopolitik, bahkan setelah berita utama meredup.

Billy Leung, ahli strategi investasi di perusahaan manajemen investasi Global X ETFs, berpendapat bahwa investor tidak lagi menganggap krisis ini sebagai sekadar kejutan inflasi sementara. Menurutnya, pasar sedang mendefinisikan ulang dan memberi harga baru pada biaya modal (cost of capital) dalam lingkungan dengan risiko geopolitik yang lebih tinggi.

Ia mengatakan kepada CNBC, "Era di mana orang bisa membeli hampir semua aset dan mendapat untung dari kenaikannya telah berakhir. Dengan meningkatnya biaya energi dan naiknya biaya riil modal, akan semakin sulit bagi perusahaan untuk mencapai target profitabilitas."

Benjamin Jones, kepala riset global perusahaan Invesco, juga menyatakan bahwa skenario dasar perusahaannya tetap pada "mempertahankan status quo", situasi yang mencakup serangan-serangan sporadis dan terbatas, bukan perang habis-habisan.

Dalam wawancaranya dengan CNBC, ia mencatat, "Pasar saham sejauh ini mengikuti pola tradisional dalam merespons krisis geopolitik. Awalnya terjadi penjualan panik (sell-off), kemudian pasar pulih kembali."

Jones menambahkan, "Hal ini sekali lagi mengingatkan para investor bahwa dalam banyak situasi, mempertahankan posisi investasi dan bertahan di pasar adalah respons terbaik terhadap volatilitas jangka pendek."(Sail)