Gagal Terus Diulang: Mengapa Trump Kembali ke Strategi yang Sudah Beberapa Kali "Jebol"?
https://parstoday.ir/id/news/world-i191344-gagal_terus_diulang_mengapa_trump_kembali_ke_strategi_yang_sudah_beberapa_kali_jebol
Pars Today - Donald Trump sekali lagi melanggar gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan-serangan baru AS terhadap target-target di dalam Iran, termasuk infrastruktur sipil, terjadi hanya beberapa hari setelah presiden AS berbicara tentang akan segera tercapainya kesepakatan.
(last modified 2026-06-12T06:12:55+00:00 )
Jun 12, 2026 13:11 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump

Pars Today - Donald Trump sekali lagi melanggar gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan-serangan baru AS terhadap target-target di dalam Iran, termasuk infrastruktur sipil, terjadi hanya beberapa hari setelah presiden AS berbicara tentang akan segera tercapainya kesepakatan.

Melansir Pars Today, 11 Juni 2026, respons Iran juga cepat dan langsung. Pangkalan-pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania menjadi sasaran serangan rudal dan drone. Siklus berulang ini memunculkan pertanyaan mendasar: Mengapa Trump, meskipun telah berulang kali mengalami kegagalan, masih terus menggunakan solusi militer terhadap Iran?

Jawabannya harus dicari dalam kombinasi antara perhitungan politik, mentalitas pribadi Trump, dan keterbatasan struktural kekuatan AS.

Trump memandang politik luar negeri lebih sebagai arena pamer kekuatan daripada sebagai wadah untuk mengelola kompleksitas geopolitik. Dalam pandangannya, setiap krisis harus berakhir dengan seorang pemenang dan seorang pecundang. Pandangan yang berakar pada pengalaman bisnis dan kepribadiannya ini telah membuatnya menganggap tekanan militer sebagai alat untuk memaksakan kehendak politik.

Namun, Republik Islam Iran selama empat dekade terakhir telah berulang kali menunjukkan bahwa ia tidak akan menunjukkan perilaku tunduk di bawah tekanan eksternal. Empat puluh hari perang dan lebih dari tiga bulan gencatan senjata yang rapuh telah menghasilkan hasil yang sama seperti yang pernah diamati dalam kebijakan "tekanan maksimum". Serangan militer tidak hanya gagal membuat Iran mundur, tetapi juga telah memperkuat kohesi internal, solidaritas sosial, dan tekad politik untuk melakukan perlawanan.

Pernyataan Amir Saeid Iravani, perwakilan Iran di PBB, adalah cerminan dari realitas ini: bahwa Iran tidak menerima negosiasi di bawah tekanan dan tidak menganggap ancaman militer sebagai faktor yang dapat mengubah perhitungannya.

Dari perspektif strategis, Trump juga dihadapkan pada sebuah kontradiksi fundamental. Ia ingin memaksa Iran menerima kesepakatan politik melalui penggunaan kekuatan militer. Namun, setiap serangan militer justru menghancurkan ruang politik yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan tersebut. Pengalaman tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa setiap kali ada celah diplomasi yang terbuka, aksi militer AS atau rezim Zionis langsung menutupnya. Karena itulah, banyak analis percaya bahwa hambatan terbesar dalam jalan menuju kesepakatan bukanlah posisi Tehran, tetapi ketidakstabilan pengambilan keputusan di Washington.

Faktor lain dari pengulangan kebijakan yang gagal ini kembali pada keterbatasan nyata kekuatan AS. Washington tetaplah kekuatan militer terbesar di dunia, tetapi kekuatan militer tidak serta-merta berarti kemampuan untuk memaksakan hasil politik. Perang di Afghanistan, Irak, dan kini konfrontasi dengan Iran sekali lagi mengungkapkan kebenaran ini: AS dapat membombardir target-target, tetapi ia tidak dapat menghancurkan tekad politik suatu negara. Terutama dalam kasus Iran, yang selama beberapa dekade telah membangun berbagai struktur pencegahan (deterrence) dan mampu meningkatkan biaya konflik bagi pihak lawan.

Di tengah semua ini, posisi geopolitik Iran juga memiliki arti penting. Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik rawan energi paling kritis di dunia. Setiap eskalasi ketegangan di kawasan ini akan segera berdampak pada pasar energi global, ekonomi internasional, dan bahkan situasi politik pemerintah AS. Karena itulah banyak pakar Amerika memperingatkan bahwa setiap aksi militer baru terhadap Iran dapat menyebabkan kenaikan harga energi dan memperburuk tekanan ekonomi pada warga negara AS.

Di sisi lain, pengulangan serangan militer juga telah merusak kredibilitas internasional AS. Di saat yang sama Washington berbicara tentang tatanan internasional berbasis aturan, ia dituduh melanggar gencatan senjata dan menyerang infrastruktur sipil. Kontradiksi ini telah memperdalam jurang antara klaim moral AS dan perilaku aktualnya, serta mengikis sebagian dari soft power negara tersebut.

Namun demikian, Trump terus kembali ke jalur ini karena opsi-opsi alternatif memiliki biaya politik yang tinggi baginya. Menerima kenyataan bahwa tekanan militer tidak mampu mengubah perilaku Iran berarti mengakui kegagalan salah satu landasan terpenting kebijakannya. Oleh karena itu, Gedung Putih kadang-kadang, alih-alih meninjau ulang asumsi-asumsinya, justru berusaha mengulang kebijakan yang sama dengan intensitas yang lebih besar, sebuah pendekatan yang dalam literatur strategis disebut sebagai "eskalasi untuk mengkompensasi kegagalan" (escalation to compensate for failure).

Namun masalah utamanya adalah lingkungan strategis kawasan saat ini berbeda dengan masa lalu. Iran, setelah perang-perang terbaru, tidak hanya mempertahankan kapasitas deterensinya, tetapi menurut banyak pengamat, telah memasuki fase di mana ia melampaui posisi defensif semata dan telah memperoleh lebih banyak inisiatif dalam mengelola krisis.

Dalam kondisi seperti ini, setiap serangan baru AS tidak akan mengubah perilaku Tehran, tetapi justru akan meningkatkan biaya yang harus ditanggung Washington. Karena itu, pertanyaan utamanya bukan lagi "mengapa Iran tidak menyerah?", tetapi "mengapa Trump masih terus berpegang pada strategi yang menurut bukti lapangan, pengalaman historis, dan bahkan sebagian elite politik AS, telah gagal?"

Selama jawaban atas pertanyaan ini belum jelas, siklus serangan, respons balasan, dan eskalasi krisis akan terus berlanjut. Sebuah siklus yang, alih-alih menjadi tanda kekuatan, justru mengekspresikan kebuntuan strategis Amerika Serikat dalam menghadapi Iran.

Analisis ini panjang dan berbobot, tapi intinya sederhana: AS tidak bisa memenangkan perang melawan Iran, dan Trump tidak bisa mengakui kekalahan. Akhirnya yang terjadi adalah "escalation to compensate for failure", sebuah istilah bagus untuk "menggali lubang lebih dalam karena sudah terlanjur masuk".(Sail)