"Hari-Hari Kelam Ekonomi Global": FT Hitung Kerugian Perang Iran, dari BBM AS hingga PHK di Asia
-
Dampak Perang terhadap Iran bagi ekonomi dunia
Pars Today - Financial Times (FT) dalam sebuah laporan mengupas kerugian regional dan global akibat perang Iran, menulis bahwa dampaknya, mulai dari pasar minyak hingga biaya rekonstruksi, akan terus terlihat secara bertahap selama bertahun-tahun mendatang.
Melansir IRNA, 16 Juni 2026, surat kabar Inggris itu dalam laporannya menulis, "Operasi" terhadap Iran seharusnya menjadi kampanye kilat dan menakjubkan; operasi yang dimulai dengan serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari (9 Esfand 1404). Namun Iran, dengan menembakkan ribuan rudal dan drone ke seluruh Timur Tengah, berhasil membuat perang ini menemui jalan buntu; artinya, tidak ada kemenangan telak yang diraih oleh pihak yang memulai perang.
Menurut media ini, ribuan warga sipil, terutama di Iran dan Lebanon, kehilangan nyawa. Sementara itu, dampak ekonomi yang mencengangkan dari perang ini dan gangguan pada jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, menyebar jauh melampaui Asia Barat. AS dan Iran kemarin sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz. Nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara dijadwalkan ditandatangani pada hari Jumat, 19 Juni (29 Khordad) di Swiss.
Negara-negara Teluk Persia di Bawah Serangan
Berbeda dengan konflik-konflik sebelumnya dengan Israel, Iran kali ini mengarahkan sebagian besar serangan balasannya ke negara-negara tetangganya di Teluk Persia; negara-negara yang menjadi tuan rumah bagi pangkalan-pangkalan vital AS di kawasan ini.
Uni Emirat Arab (UEA), yang para pemimpinnya dianggap sebagai sekutu regional terdekat AS dan Israel, mengalami kerusakan paling parah akibat serangan Iran. Setidaknya 45 persen dari serangan Iran ke pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk Persia ditujukan ke UEA.
Sejak gencatan senjata diumumkan pada awal April, Kuwait dan Bahrain juga menjadi sasaran dalam baku tembak antara Iran dan AS. Kedua negara ini menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer penting AS dan merupakan anggota terkecil di Dewan Kerja Sama Teluk Persia.
Menurut perkiraan kelompok riset Rystad Energy, biaya perbaikan dan pemulihan infrastruktur energi negara-negara Teluk Persia yang rusak atau hancur antara akhir Februari hingga awal April mencapai sekitar 58 miliar dolar AS.
Kerugian yang Dialami Iran
Menurut klaim Financial Times, "AS dan Israel menyerang ribuan target di seluruh Iran. Meskipun sulit menentukan secara pasti besaran kerugian, dampak serangan ini akan bertahan selama bertahun-tahun. Selain target militer, infrastruktur sipil dan ekonomi vital Iran, termasuk jembatan, pabrik baja, dan yang terbaru, dua fasilitas penyimpanan air, mengalami kerusakan parah atau hancur total. Membangun kembali semua ini akan membutuhkan investasi miliaran dolar."
Pemerintah Iran memperkirakan kerugian ekonomi pada enam minggu pertama perang mencapai sekitar 270 miliar dolar AS; angka yang hampir setara dengan total Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut pada tahun ini.
Biaya Perang bagi Amerika Serikat
Washington harus mengeluarkan biaya besar untuk mengganti persediaan rudalnya, memindahkan kembali peralatan militer ke dan dari Asia Barat, serta memperbaiki pangkalan dan peralatan yang menjadi sasaran serangan Iran.
Pejabat Pentagon pada pertengahan Mei mengumumkan bahwa perang ini telah menghabiskan biaya 29 miliar dolar AS bagi AS, meskipun tidak jelas bagaimana Pentagon menghitung angka tersebut !
Lembaga think tank American Enterprise Institute memperkirakan biaya perang hingga gencatan senjata pada bulan April setidaknya 25 miliar dolar AS dan meyakini angka tersebut bisa mencapai 34 miliar dolar AS.
Warga AS juga merasakan biaya perang ini di pompa bensin. Harga rata-rata per galon bensin naik dari sekitar 2,90 dolar AS sebelum perang menjadi 4 dolar AS, dan di beberapa negara bagian seperti California mencapai sekitar 6 dolar AS per galon.
Selat Hormuz yang Tertutup
Perang ini secara efektif melumpuhkan jalur air energi terpenting di dunia, karena Iran mengambil alih kendali penuh atas jalur pelayaran vital di Selat Hormuz dan mengganggu lalu lintas kapal-kapal dagang di Teluk Persia.
Sebelum konflik dimulai, sekitar 100 kapal melintasi selat ini setiap hari. Data dari perusahaan jasa pelayaran Lloyd's List Intelligence menunjukkan bahwa antara 18 Mei dan 7 Juni, hanya 127 kapal yang melewati jalur ini.
Dampak pada Asia
Benua Asia, yang memasok hampir 60 persen kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah, merasakan dampak penutupan Selat Hormuz lebih dari wilayah lain dan mengalami pukulan paling berat.
Banyak negara terpaksa beralih ke sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kekurangan. Vietnam, yang sebagian besar minyaknya diimpor dari Kuwait, beralih ke Amerika Serikat dan Nigeria. Filipina, yang telah mendeklarasikan keadaan darurat energi, untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir membeli minyak dari Rusia. Baik Filipina maupun Sri Lanka memberlakukan minggu kerja empat hari bagi pegawai negeri untuk menghemat energi.
Perkembangan ini telah memperdalam krisis ekonomi di Asia. Bank Pembangunan Asia pekan lalu memberi tahu Financial Times bahwa saat ini ada 15 negara yang mengajukan pinjaman darurat untuk menghadapi guncangan energi.
Ekonomi Global Juga Tidak Kebal
Meskipun Asia adalah wilayah pertama yang merasakan dampak perang ini, efek berantainya kemungkinan akan terasa dalam dan bertahan lama di seluruh dunia. Bank Dunia pada Kamis pekan lalu menurunkan prakiraan pertumbuhan ekonomi untuk dua pertiga negara di dunia akibat perang ini. Bank ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan turun dari sekitar 2,9 persen pada tahun 2025 menjadi 2,5 persen pada tahun 2026.
Angka-angka dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang juga menurunkan prakiraan mereka untuk tahun 2026 dibandingkan dengan Desember 2025, menunjukkan bahwa ekonomi-ekonomi besar Eropa akan menghadapi perlambatan pertumbuhan yang signifikan.
Banyak pemerintah telah memangkas pajak energi untuk mengurangi tekanan kenaikan harga minyak dan gas bagi konsumen. Jerman adalah salah satu negara tersebut, mengalokasikan paket bantuan senilai 1,6 miliar euro untuk rumah tangga dan bisnis melalui pengurangan pajak diesel dan bensin sebesar 17 sen per liter.
Laporan Financial Times ini adalah pengakuan diam-diam bahwa perang Iran telah menjadi "lubang hitam" ekonomi bagi semua pihak. Angka 270 miliar dolar untuk Iran dan 29 miliar dolar untuk AS hanyalah puncak gunung es. Biaya rekonstruksi, inflasi, dan hilangnya kepercayaan pasar adalah "cicilan" yang akan terus membayangi dunia selama bertahun-tahun.
Yang menarik, laporan ini justru menyoroti betapa Asia (khususnya negara berkembang) menjadi "korban tak terlihat" dari perang yang tidak mereka pilih. Filipina dan Sri Lanka harus menerapkan minggu kerja empat hari, Vietnam beralih ke pemasok minyak baru, dan 15 negara Asia mengajukan pinjaman darurat, semua karena konflik di ujung dunia yang lain.
Ironisnya, Trump merayakan "kemenangan" dengan membuka kembali Selat Hormuz ke kondisi sebelum perang. Namun, laporan ini mengingatkan kita bahwa yang ia rayakan adalah kembalinya ke "normal" yang sama yang memicu perang itu sendiri.(Sail)