Misteri "Planet Pink" Terpecahkan: Awan Garam Menyelimuti Dunia Asing Seukuran Jupiter
-
Planet Pink
Pars Today - Teleskop Luar Angkasa James Webb untuk pertama kalinya berhasil menangkap spektrum cahaya dari planet GJ 504 b. Temuan ini mengungkap bahwa atmosfer objek yang dingin dan redup, yang terletak sekitar 57 tahun cahaya dari Bumi, diselimuti oleh lapisan awan garam. Ini adalah bukti langsung pertama yang menunjukkan keberadaan awan semacam ini di atmosfer sebuah planet ekstrasurya.
Melansir IRNA, 26 Juni 2026, Pars Today melaporkan bahwa situs Space Daily dalam sebuah laporan menyatakan:
Salah satu dunia terdingin yang pernah berhasil difoto di sekitar bintang lain telah menjadi misteri selama lebih dari satu dekade bagi para astronom. Mereka dapat melihat titik merah muda redup dari GJ 504 b (dikenal sebagai "planet merah muda" atau "planet pink"), tetapi cahayanya terlalu redup untuk mengidentifikasi komposisi atmosfernya. Kini, Teleskop Luar Angkasa James Webb untuk pertama kalinya telah menangkap spektrumnya. Penjelasan terbaik untuk spektrum ini adalah atmosfer yang diselimuti awan garam.
Penemuan ini, yang diterbitkan oleh para peneliti dari Northwestern University dalam jurnal The Astronomical Journal, digambarkan sebagai bukti langsung pertama dari keberadaan awan garam di atmosfer sebuah objek dingin. Keberadaan awan jenis ini telah diprediksi oleh para ilmuwan lebih dari 15 tahun yang lalu, tetapi belum ada data nyata yang mengonfirmasinya. Ini adalah pertama kalinya awan semacam ini digunakan untuk menjelaskan spektrum sebuah planet.
Planet yang Dingin dan Misterius
Planet GJ 504 b pertama kali berhasil difoto secara langsung pada tahun 2013. Planet ini mengorbit sebuah bintang yang mirip dengan Matahari, pada jarak sekitar 57 tahun cahaya dari Bumi, dan sejak awal sudah terlihat aneh.
Kebanyakan planet yang berhasil difoto secara langsung memiliki suhu sekitar seribu Kelvin (sekitar 727°C) atau lebih. Panas ini merupakan sisa dari proses pembentukannya. Namun, suhu GJ 504 b hanya sekitar 564 Kelvin (sekitar 290°C), lebih mirip suhu oven panas daripada bintang muda.
Suhu yang sangat dingin ini menarik, tetapi juga menjadi masalah. Semakin dingin suatu objek, semakin sedikit cahaya yang dipancarkannya. Karena itu, upaya berulang kali untuk menangkap spektrum planet ini dengan teleskop terbesar di Bumi selalu gagal. Para peneliti hanya bisa mengukur kecerahannya, tanpa bisa mendapatkan "sidik jari" spektral yang akurat dari cahayanya.
Hanya Beberapa Jam dengan James Webb
Apa yang selama bertahun-tahun tidak mungkin dilakukan oleh teleskop berbasis darat, Teleskop James Webb berhasil melakukannya hanya dalam beberapa jam. Dengan menggunakan instrumen sensitifnya, para peneliti menangkap spektrum planet, dan dengan pemrosesan data yang cermat serta penghilangan cahaya menyilaukan dari bintang induknya, mereka berhasil mengisolasi cahaya planet itu sendiri.
Spektrum yang diperoleh sangat kaya, menunjukkan adanya uap air, gas karbon, dan senyawa sulfur di atmosfer planet ini.
Awan Garam: Kunci Pemecah Misteri
Awan garam tidak terlihat secara langsung. Keberadaan mereka terungkap ketika data tidak cocok dengan model atmosfer tanpa awan. Ketika para peneliti menyimulasikan atmosfer planet tanpa awan, satu-satunya cara untuk mencocokkan pengamatan adalah dengan menggunakan kondisi yang secara fisik tampak mustahil. Namun, ketika awan ditambahkan ke dalam model, semua ketidaksesuaian itu hilang.
Tim peneliti menguji tiga jenis awan yang berbeda, dan menemukan bahwa awan garam paling cocok dengan data spektral yang ditangkap oleh James Webb. Dalam model ini, lapisan awan garam terletak di atas atmosfer, meredam efek molekul-molekul di bawahnya. Hasil akhirnya adalah cahaya yang persis sesuai dengan apa yang direkam oleh James Webb.
Awan garam mungkin terdengar aneh, tetapi pada suhu seperti ini, awan tersebut sepenuhnya alami. Di atmosfer yang terlalu dingin untuk membentuk awan batu dan logam (yang umum di dunia yang lebih panas), garam-garam keluar dari gas dan berubah menjadi kabut, persis seperti uap air yang berubah menjadi awan di Bumi. Teori ini telah ada selama bertahun-tahun dalam literatur ilmiah, tetapi spektrum GJ 504 b adalah kasus pertama di mana kabut ini diperlukan untuk menjelaskan apa yang dilihat teleskop.
Sebuah Langkah Menuju Dunia yang Lebih Dingin
Signifikansi penemuan ini melampaui sekadar rasa ingin tahu ilmiah. Jupiter, planet raksasa di tata surya kita sendiri, memiliki awan amonia, tetapi teleskop saat ini tidak dapat mendeteksi awan semacam itu di planet-planet yang jauh. GJ 504 b adalah sebuah langkah ke arah itu: sebuah dunia yang cukup dingin sehingga berperilaku seperti planet-planet raksasa di sekitar kita, dan dengan alat yang tepat serta kesabaran yang cukup, akhirnya cukup terang untuk mengungkap rahasianya.
Selama lebih dari satu dekade, GJ 504 b hanyalah sebuah titik merah muda redup di langit. Kini, Teleskop James Webb telah memecahkan kode spektralnya. Penemuan awan garam di dunia yang dingin ini bukan hanya pencapaian teknis, ini adalah bukti bahwa bahkan planet yang paling redup dan jauh pun dapat mengungkap rahasia mereka dengan instrumen yang tepat.
Awan garam telah diprediksi oleh para ilmuwan selama bertahun-tahun, tetapi belum pernah terkonfirmasi secara langsung. Temuan ini memberikan validasi penting bagi model-model atmosfer planet ekstrasurya dan membuka jalan bagi studi lebih lanjut tentang dunia-dunia yang lebih dingin dan lebih mirip dengan planet-planet di tata surya kita.
Teleskop James Webb terus membuktikan kemampuannya yang luar biasa. Dengan menangkap spektrum GJ 504 b hanya dalam beberapa jam, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh teleskop darat selama bertahun-tahun, Webb menunjukkan bahwa kita berada di era baru dalam eksplorasi planet ekstrasurya.
Penemuan ini mengingatkan kita bahwa alam semesta masih penuh dengan misteri, dan bahwa dengan teknologi yang tepat dan kesabaran, kita dapat mengungkap rahasia dunia yang jauh. Ini juga menunjukkan bahwa sains terus maju, bahkan di tengah berbagai krisis dan konflik di Bumi.(Sail)