Kasus Baru Kekerasan ICE: Pemuda 26 Tahun Tewas di Maine, Otoritas Dipenuhi Kontradiksi
-
Kasus penembakan imigran di AS
Pars Today - Menyusul pembunuhan seorang pemuda imigran Kolombia akibat tembakan petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE)—yang merupakan kasus keempat semacam ini tahun ini—Departemen Keamanan Dalam Negeri, dengan membenarkannya, menyatakan alasan tindakan ini adalah kekhawatiran keamanan.
Menurut laporan Pars Today yang mengutip IRNA, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, 12 jam setelah terbunuhnya seorang pemuda di negara bagian Maine oleh pasukan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE), mengatakan bahwa petugas menembak karena kekhawatiran tentang keselamatan publik.
Jasad korban, seorang pemuda berusia 26 tahun bernama Joan Sebastian Guerrero dari Kolombia, segera setelah itu diidentifikasi oleh salah satu tetangganya.
Washington Post, dengan meliput berita terbunuhnya imigran keturunan Kolombia ini, menulis: Setelah penembakan oleh seorang petugas Imigrasi dan Bea Cukai, Jaksa Agung Negara Bagian Maine memulai penyelidikan dan bersamaan dengan itu, reaksi terhadap kebijakan imigrasi Donald Trump, Presiden AS, semakin intensif.
Berdasarkan laporan Washington Post, petugas Imigrasi dan Bea Cukai dalam beberapa minggu terakhir telah meningkatkan penegakan hukum imigrasi dan target mereka adalah menangkap 2.000 imigran setiap hari.
Chellie Pingree, anggota Kongres dari Partai Demokrat di Negara Bagian Maine, dalam menanggapi pembunuhan imigran ini, dalam sebuah video menyatakan bahwa ia "sangat terganggu dan marah" dengan laporan-laporan tentang keterlibatan petugas Imigrasi dan Bea Cukai. Ia menambahkan bahwa ia akan mengupayakan untuk merilis rincian lebih lanjut tentang insiden ini, termasuk apakah petugas memiliki kamera di seragam mereka atau tidak.
Penembakan fatal terhadap pemuda Kolombia berusia 26 tahun ini terjadi beberapa hari setelah pembunuhan seorang imigran Meksiko di Houston. (MF)