Meski Tak Bergantung pada Minyak Timur Tengah, AS Tetap Terkena Dampak Perang Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i193172-meski_tak_bergantung_pada_minyak_timur_tengah_as_tetap_terkena_dampak_perang_iran
Pars Today - Amerika adalah produsen minyak terbesar di dunia, dan dari total minyak impornya, hanya sekitar delapan persen yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Lalu, mengapa harga minyak dan bensin di Amerika melambung tinggi?
(last modified 2026-08-10T17:11:34+00:00 )
Jul 15, 2026 10:52 Asia/Jakarta
  • Harga bensin di AS
    Harga bensin di AS

Pars Today - Amerika adalah produsen minyak terbesar di dunia, dan dari total minyak impornya, hanya sekitar delapan persen yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Lalu, mengapa harga minyak dan bensin di Amerika melambung tinggi?

Sebagaimana dilaporkan IRNA dari USA Today, 15 Juli 2026, bersamaan dengan dimulainya kembali baku tembak antara Amerika dan Iran serta meningkatnya kembali kekhawatiran tentang keamanan transportasi energi melalui Selat Hormuz, harga minyak kembali meningkat. Pada hari Senin (13/7), harga minyak mentah Brent, salah satu indeks utama pasar minyak global, naik sebesar 2,39 dolar AS atau sekitar tiga persen, menjadi 78,40 dolar AS per barel.

Data dari Asosiasi Mobil Amerika (AAA) menunjukkan bahwa harga rata-rata bensin di negara itu juga mencapai 3,87 dolar AS per galon, lebih dari 70 sen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terjadi ketika gencatan senjata yang rapuh antara Iran dan Amerika (setelah ketidakpatuhan Washington terhadap nota kesepahaman Islamabad dan serangan ke bagian-bagian selatan Iran) tampaknya telah runtuh.

Mengapa Perang Iran Menaikkan Harga Bensin di Amerika?

Hingga bulan Januari, Amerika memproduksi lebih dari 13 juta barel minyak mentah per hari. Negara ini kini lebih banyak mengekspor minyak daripada mengimpornya. Namun, konsumsi domestik minyak juga sangat tinggi, dan Amerika masih mengimpor sekitar 6 juta barel minyak per hari, yang hanya sebagian kecil dari kawasan Teluk Persia.

Penulis artikel menulis, "Melihat data dan angka ini, mungkin Anda berpikir bahwa perang di Timur Tengah seharusnya tidak berdampak pada harga bensin di Amerika. Namun, anggapan itu salah."

Mark Zandi, ekonom utama di lembaga pemeringkat kredit Moody's Analytics, awal tahun ini mengatakan kepada USA Today bahwa "pasar minyak adalah pasar global. Jadi, minyak secara harfiah selalu mengalir ke tempat dengan harga tertinggi. Jika sebuah kapal tanker bisa menjual minyaknya lebih mahal di Malaysia daripada di Rotterdam (Belanda) atau Rio de Janeiro (Brasil), maka wajar jika ia mengarahkan kemudinya ke Malaysia."

Ketika Amerika memulai serangan udaranya terhadap Iran, harga minyak di seluruh dunia melonjak tajam. Berdasarkan indeks West Texas Intermediate (WTI), harga minyak mentah naik dari sekitar 67 dolar AS pada 27 Februari menjadi sekitar 105 dolar AS pada 30 Maret.

Penyebab kenaikan ini adalah gangguan besar-besaran pada pasokan minyak di kawasan, gangguan yang berfluktuasi antara penutupan Selat Hormuz oleh Tehran, meningkatnya risiko pengiriman minyak melalui laut, serta kerusakan pada infrastruktur industri minyak di kawasan tersebut.

Perang Iran membawa risiko serius pada pasokan minyak ke wilayah yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, termasuk sebagian Asia dan Eropa. Akibatnya, harga minyak di seluruh dunia, termasuk Amerika, melonjak tajam.

James Cox, salah satu manajer di perusahaan jasa keuangan Harris Financial Group, sebelumnya menjelaskan bahwa "semua orang bersaing untuk membeli minyak yang sama di pasar global, tidak peduli apakah minyak itu diproduksi di Texas, Iran, Arab Saudi, atau Rusia."

Amerika adalah produsen minyak terbesar di dunia, tetapi pada saat yang sama juga merupakan konsumen terbesarnya, dan produsen Amerika juga merupakan bagian dari pasar global.

Menurut Zandi, "produksi dan konsumsi minyak di Amerika hampir seimbang, tetapi pada akhirnya produsen Amerika juga menjual minyak mereka kepada siapa pun yang menawarkan harga tertinggi. Mereka adalah pedagang."

Pantai Barat Amerika lebih rentan terhadap guncangan minyak Timur Tengah dibandingkan wilayah lain di negara itu, karena sebagian besar minyak yang dikonsumsinya berasal dari kawasan tersebut.

Kate Gordon, CEO perusahaan California Forward, mengatakan bahwa "hal ini adalah salah satu alasan kenaikan harga bensin di California dan melonjaknya hingga 5,93 dolar AS per galon".

Penulis artikel mengklaim bahwa "meskipun demikian, California dan negara bagian lain di AS dapat tenang karena perang Iran tidak menyebabkan kelangkaan bensin di Amerika. Situasi ini tidak seperti krisis minyak tahun 1970-an. Namun, menurut para ekonom, perang Iran bagi konsumen Amerika lebih merupakan tekanan ekonomi tambahan daripada krisis. Para pengemudi membayar lebih banyak untuk membeli bensin, sementara perusahaan-perusahaan minyak mendapatkan keuntungan lebih besar dari penjualan minyak mereka."

Beberapa negara yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah terpaksa menjatah bahan bakar, mengurangi hari kerja menjadi empat hari, atau menerapkan kerja jarak jauh. Beberapa pemerintah juga meminta warganya untuk mengurangi penggunaan pendingin ruangan (AC) dan lebih banyak menggunakan transportasi umum.

Nikolay Rusanov, profesor ekonomi di Universitas Pennsylvania, sebelumnya mengatakan bahwa "dapat dikatakan bahwa ekonomi AS secara keseluruhan sampai batas tertentu terlindungi dari guncangan ini karena negara itu sendiri adalah salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Namun, hal ini tidak membantu konsumen di pompa bensin."

Kapan Harga Bensin Akan Turun?

Harga bensin dalam beberapa bulan terakhir mengalami fluktuasi besar, dan bahkan setelah pengumuman gencatan senjata yang rapuh pada 8 April, tetap berada di level tinggi. James Cox mengatakan bahwa "bahkan jika gencatan senjata ini bertahan, selama tidak ada sumber pasokan minyak baru yang masuk ke pasar, harga minyak dan bensin akan tetap tinggi."

Kate Gordon juga mengatakan bahwa perang Iran telah merusak atau mengganggu sebagian infrastruktur minyak di Timur Tengah, dan "membangun kembali fasilitas-fasilitas ini akan memakan waktu bertahun-tahun. Sampai saat itu, pasokan minyak global akan tetap terbatas."

USA Today pada akhirnya mengutip pernyataan Zandi, "Keadaannya tidak akan kembali seperti dulu, setidaknya tidak tahun ini."(Sail)