Perang di Hormuz; Mengingatkan Kita pada Fakta Pahit: Dunia Masih Butuh Minyak
https://parstoday.ir/id/news/world-i194576-perang_di_hormuz_mengingatkan_kita_pada_fakta_pahit_dunia_masih_butuh_minyak
Pars Today - Sebuah media yang berbasis di Bangladesh dalam sebuah laporan menulis bahwa kelanjutan krisis di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab menunjukkan bahwa dunia masih belum memiliki pengganti yang cepat dan praktis untuk minyak dan gas yang melimpah dan murah dari Timur Tengah. Semakin lama perang di kawasan ini berlangsung, semakin besar biayanya bagi ekonomi-ekonomi pengimpor energi.
(last modified 2026-08-09T04:03:58+00:00 )
Aug 09, 2026 11:02 Asia/Jakarta
  • Selat Hormuz dan jalur perdagangan
    Selat Hormuz dan jalur perdagangan

Pars Today - Sebuah media yang berbasis di Bangladesh dalam sebuah laporan menulis bahwa kelanjutan krisis di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab menunjukkan bahwa dunia masih belum memiliki pengganti yang cepat dan praktis untuk minyak dan gas yang melimpah dan murah dari Timur Tengah. Semakin lama perang di kawasan ini berlangsung, semakin besar biayanya bagi ekonomi-ekonomi pengimpor energi.

Sebagaimana dilaporkan IRNA, Sabtu, 8 Agustus 2026, surat kabar berbahasa Inggris Business Standard yang terbit di Dhaka dalam laporan ini menulis, "Setiap konflik besar di kawasan Teluk Persia membangkitkan ketakutan yang sama. Bukan hanya karena kenaikan harga minyak, tetapi juga karena pertanyaan apakah kawasan yang memasok sekitar sepertiga minyak mentah laut (yang diangkut melalui laut) dunia masih dapat menjadi fondasi ekonomi global."

Namun, kali ini pertanyaannya lebih dalam. Jika perang berlangsung lama dan terus merusak fasilitas produksi, terminal ekspor, atau jalur pelayaran vital, apakah era minyak Timur Tengah mendekati akhirnya? Apakah dunia siap untuk sepenuhnya meninggalkan minyak, gas, dan Timur Tengah, dan terus bertahan tanpa mereka?

Ekonomi modern dibentuk berdasarkan bahan bakar fosil yang melimpah dan murah. Batubara menjadi mesin Revolusi Industri, tetapi setelah Perang Dunia II, minyak melampauinya ketika para produsen Teluk Persia dengan cepat meningkatkan produksi mereka. Kemudian giliran gas alam, yang menjadi bahan bakar penting untuk pembangkit listrik, industri, dan rumah tangga. Minyak dan gas secara keseluruhan masih merupakan lebih dari setengah konsumsi energi dunia, meskipun energi terbarukan tumbuh dengan cepat.

Apakah Era Minyak Benar-Benar Menurun?

Meskipun diharapkan abad ke-21 menjadi milik energi terbarukan, bahan bakar fosil mungkin akan tetap menjadi bagian dominan dari keranjang energi dunia selama beberapa dekade mendatang. Bahkan dengan listrik yang semakin bersih, minyak dan gas masih tak terelakkan untuk transportasi, industri berat, petrokimia, dan pemanasan.

Energi terbarukan sedang berkembang pesat, tetapi listrik hanya memenuhi sebagian dari kebutuhan energi dunia. Industri penerbangan masih bergantung pada bahan bakar jet. Industri pelayaran masih terutama menggunakan minyak. Industri petrokimia membutuhkan minyak mentah. Mesin berat dan industri pertahanan juga masih bergantung pada produk minyak.

Menurut media ini, meskipun pangsa minyak secara bertahap menurun, signifikansi strategisnya tetap besar, dan meskipun transisi energi telah dimulai, masih ada jalan panjang untuk diselesaikan. Globalisasi modern dibentuk berdasarkan energi yang melimpah dan murah. Keunggulan nyata Teluk Persia tidak pernah hanya minyak, tetapi minyak yang melimpah dan berbiaya rendah.

Bisakah Dunia Mengganti Minyak Teluk Persia?

Negara-negara Teluk Persia menyediakan lebih dari seperlima produksi minyak mentah dunia dan sekitar 10 persen produksi gas alam dunia. Kawasan ini memiliki sekitar 33 persen dari cadangan minyak yang dapat dipulihkan dan 21 persen dari cadangan gas alam dunia.

Sebagian besar minyak dan gas alam cair Teluk Persia melewati Selat Hormuz, dan ini membuat pasokan energi global sangat bergantung pada stabilitas jalur laut di kawasan ini. Sekarang perang telah menyebar ke Laut Merah, koridor perdagangan laut penting lainnya juga menghadapi ancaman baru.

Minyak dan barang-barang yang keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz, untuk mencapai Laut Merah dan Terusan Suez, harus melintasi Semenanjung Arab dan biasanya juga melewati Bab al-Mandab. Jika keamanan kedua rute terancam, sekitar seperlima pasokan minyak global dan praktis sepersepuluh dari pasokan gas alam akan hilang.

Menurut media ini, beberapa pemasok potensial alternatif termasuk Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Guyana, dan Norwegia. Beberapa dari negara-negara ini sebelumnya telah meningkatkan produksi dan ekspor mereka, tetapi kendala fisik tetap ada. Karena kapasitas produksi, penyimpanan, dan infrastruktur ekspor tidak dapat dibangun dan ditingkatkan dalam semalam.

Mungkin produsen-produsen ini akan mendapat manfaat dari kekurangan pasokan dalam jangka pendek, tetapi mereka masih jauh dari kemampuan untuk segera mengkompensasi defisit besar pasokan minyak Teluk Persia. Rusia dan Venezuela juga bisa menjadi pilihan alternatif yang lebih baik, jika sanksi tidak membatasi produksi dan ekspor mereka.

Globalisasi modern dibentuk berdasarkan energi yang melimpah dan murah, dan Teluk Persia menyediakan energi itu. Jika perang berlangsung lama dan sanksi terus-menerus mendorong harga minyak ke 120 hingga 150 dolar per barel selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dunia akan menghadapi inflasi yang lebih tinggi, biaya transportasi laut yang lebih mahal, dan kenaikan harga pangan, pupuk, dan bahan baku, dan perdagangan global akan melambat. Konsekuensi dari situasi seperti itu akan jauh lebih parah bagi ekonomi-ekonomi kecil.

Minyak dan gas yang langka dan mahal akan mempercepat transisi ke mobil listrik, energi terbarukan, dan opsi-opsi baru seperti hidrogen, tetapi transisi sebesar itu membutuhkan waktu beberapa dekade.

Sementara itu, kekurangan energi dan harga tinggi bahkan dapat membalikkan tren global menuju energi bersih. Batubara saat ini juga sedang kembali, karena negara-negara beralih kembali ke sana untuk meningkatkan produksi listrik. Pemerintah sering kembali ke bahan bakar fosil di masa krisis, bahkan jika mereka terus berinvestasi dalam energi bersih dalam jangka panjang. Industri kecerdasan buatan, yang membutuhkan banyak listrik dan benar-benar "melahapnya", telah mendorong AS untuk berinvestasi lebih banyak dalam energi nuklir.

Bahwa dunia akan segera beralih dari minyak dan gas tidaklah mungkin, dan menjauh dari Timur Tengah sebagai pemasok termurah dan paling dapat diandalkan dari sumber daya ini tampaknya bahkan lebih tidak realistis. Setiap gangguan jangka panjang di Selat Hormuz, Bab al-Mandab, atau Terusan Suez dapat memperburuk guncangan harga dan konsekuensinya akan menyebar melampaui kawasan; meningkatkan inflasi, memperlambat perdagangan, dan menunda pemulihan ekonomi di negara maju dan berkembang.

Media ini selanjutnya menulis bahwa ada tanda-tanda harapan bahwa diplomasi masih dapat mengatasi ketegangan dan konflik. AS mengaku siap untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran. Jika proses ini berlanjut, pembukaan kembali Selat Hormuz mungkin terjadi. Arab Saudi juga, meskipun membentuk koalisi internasional untuk apa yang disebut sebagai penguatan keamanan maritim, telah meminta pengendalian diri dari pemerintahan Donald Trump.(Sail)