Mengapa Pentagon Meminta Percepatan Produksi Persenjataan?
Pentagon memerintahkan perusahaan-perusahaan militer Amerika Serikat untuk mempercepat produksi dan pengiriman senjata.
Menurut Pars Today, Steve Feinberg, Wakil Menteri Perang Amerika Serikat, dalam sebuah memo kepada para pimpinan industri pertahanan negara tersebut mengatakan bahwa mereka memiliki waktu 21 hari untuk menyampaikan rencana guna mempercepat pengiriman secara signifikan dan lebih agresif atau meningkatkan produksi kemampuan-kemampuan vital. Ia menambahkan: “Siklus pengembangan yang berlangsung selama bertahun-tahun tidak dapat diterima. Kita harus secara drastis mempercepat program kita dan memperluas kapasitas produksi kita sekarang.”
Arahan tersebut dikeluarkan ketika Pentagon berupaya mengisi kembali persediaan senjata, termasuk rudal Patriot dan THAAD.
Tampaknya, alasan utama dikeluarkannya perintah mendesak ini adalah penurunan tajam persediaan amunisi Amerika Serikat akibat perang selama lima bulan dengan Iran. Berdasarkan laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS), persediaan rudal Patriot secara global dari sekitar 2.200 unit sebelum perang telah berkurang setidaknya 65 persen menjadi kurang dari 827 unit. Persediaan rudal THAAD juga turun dari 452 menjadi kurang dari 278 unit.
Sejumlah sumber bahkan melaporkan penurunan hingga 80 persen pada rudal pencegat sistem pertahanan rudal utama THAAD. Angka-angka ini menunjukkan bahwa perang modern dapat menguras persediaan amunisi strategis hingga tingkat yang berbahaya hanya dalam beberapa minggu, sementara penggantiannya membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Selain itu, Pentagon khawatir bahwa jika terjadi krisis lain di kawasan, persediaan yang tersedia tidak akan mencukupi untuk merespons. Kekurangan rudal pencegat dapat memaksa pasukan Amerika Serikat dan sekutunya mengambil risiko lebih besar untuk menghemat amunisi, sehingga meningkatkan kemungkinan rudal dan drone musuh menembus pertahanan.
Perintah Feinberg tidak hanya terbatas pada rudal Patriot dan THAAD. Berdasarkan laporan, sistem lainnya, termasuk “Next Generation Interceptor” (NGI), sistem rudal permukaan-ke-udara NASAMS, radar pertahanan udara bergerak, serta sistem pelacakan rudal berbasis antariksa, juga akan mendapat percepatan pengiriman. Pentagon juga telah menandatangani perjanjian kerangka dengan perusahaan-perusahaan besar seperti Lockheed Martin dan Northrop Grumman untuk meningkatkan produksi komponen-komponen penting rudal Patriot PAC-3 dan THAAD.
Namun, perjanjian-perjanjian tersebut tidak mengikat dan bergantung pada pendanaan dari Kongres. Sementara Pentagon mengajukan anggaran sebesar 1,5 triliun dolar, rancangan undang-undang belanja pertahanan senilai 1,15 triliun dolar masih tertahan di Kongres dan kemungkinan akan menunda upaya memperluas produksi senjata secara cepat. Tom Karako, direktur proyek pertahanan rudal di Center for Strategic and International Studies, mengatakan dalam hal ini: “Hampir tidak ada kontrak yang ditandatangani, dan itulah masalahnya.”
Tampaknya, penerbitan arahan oleh Pentagon ini akan menimbulkan sejumlah dampak.
Pertama, hal ini menunjukkan perubahan strategi Kementerian Perang Amerika Serikat dari penekanan pada kualitas semata menuju prioritas pada kecepatan produksi dan penimbunan amunisi.
Kedua, hal ini meningkatkan tekanan terhadap basis industri pertahanan Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun menghadapi penurunan kapasitas produksi massal, kekurangan tenaga kerja terampil, dan kerentanan rantai pasokan. Para pakar memperingatkan bahwa Amerika Serikat masih bergantung pada impor untuk sejumlah material strategis, termasuk tungsten, dan membangun kapasitas alternatif untuk menggantikan sumber-sumber dari China akan membutuhkan waktu beberapa tahun. Dalam hal ini, pemerintah Amerika Serikat melalui penerbitan perintah eksekutif baru mewajibkan kontraktor pertahanan untuk memasok mineral-mineral penting dari sumber domestik atau negara-negara sekutu, serta membatasi cakupan pengecualian terhadap kewajiban tersebut.
Ketiga, perintah ini menunjukkan bahwa perang dengan Iran telah menjadi “ujian besar” bagi industri pertahanan Amerika Serikat dan telah mengungkap kelemahan strukturalnya.
Pada tingkat makro, percepatan produksi senjata dapat berarti meningkatnya ketegangan militer dan semakin intensifnya perlombaan senjata dengan China dan Rusia. Hal ini terjadi ketika basis industri pertahanan Amerika Serikat telah melemah karena berbagai faktor, termasuk outsourcing selama beberapa dekade dan terkikisnya kapasitas produksi dalam negeri. Dengan kembalinya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat dan upaya memperkuat industri dalam negeri Amerika Serikat, termasuk sektor militer dan pertahanan, kekuatan industri kini kembali menjadi pusat persaingan kekuatan-kekuatan besar.
Pada akhirnya, keberhasilan arahan ini bergantung pada kerja sama industri pertahanan, pengesahan anggaran oleh Kongres, dan kemampuan Pentagon dalam mengelola rantai pasokan. Mengingat pasokan rudal Patriot diperkirakan tidak akan mampu memenuhi permintaan yang ada hingga sekitar tahun 2030, tampaknya Amerika Serikat menghadapi tantangan strategis yang jauh melampaui sekadar perintah administratif dan membutuhkan peninjauan mendasar terhadap keseluruhan arsitektur pertahanan dan industri negara tersebut.