Hasil Perang Iran: AS Melemah, Iran Kian Perkasa—Senator AS Akui Kekalahan Trump
https://parstoday.ir/id/news/world-i194706-hasil_perang_iran_as_melemah_iran_kian_perkasa_senator_as_akui_kekalahan_trump
Pars Today - Seorang Senator AS mengakui bahwa dengan berlanjutnya perang, AS semakin lemah dan Iran semakin kuat.
(last modified 2026-08-10T13:59:48+00:00 )
Aug 10, 2026 20:58 Asia/Jakarta
  • Senator Demokrat Chris Murphy
    Senator Demokrat Chris Murphy

Pars Today - Seorang Senator AS mengakui bahwa dengan berlanjutnya perang, AS semakin lemah dan Iran semakin kuat.

Senator Demokrat Chris Murphy mengakui bahwa Donald Trump, Presiden AS, telah kalah dalam perang, dan dengan berlanjutnya konflik militer, Amerika Serikat semakin lemah dan Iran semakin kuat. Senator dari negara bagian Connecticut ini, dalam wawancaranya dengan NBC News pada hari Minggu, menyatakan: "Saya akan mendukung kesepakatan untuk mengakhiri perang ini dan membuka kembali Selat Hormuz. Saya siap untuk mendukung kesepakatan buruk untuk mengakhiri perang ini dan membuka kembali selat, karena satu-satunya kesepakatan yang ada pada saat ini adalah kesepakatan yang buruk dan mengerikan."

 

Murphy, yang juga anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menambahkan: "Trump menghadapi pilihan-pilihan yang lemah, jadi ia harus menemukan cara untuk menstabilkan pasar dan mengurangi biaya bagi warga Amerika biasa." Ia menekankan: "Perang harus diakhiri, karena setiap hari perang berlanjut, AS semakin lemah, Iran semakin kuat, dan rakyat di sini di AS menghadapi masalah dengan meningkatnya harga-harga."

 

Pernyataan senator Demokrat terkemuka AS ini bukan sekadar sikap partisan, tetapi penilaian strategis dari perang yang telah berlangsung hampir enam bulan. Untuk memahami kedalaman analisis ini, kita harus melihat dari tiga sudut pandang: erosi militer, biaya-biaya ekonomi, dan kebuntuan strategis, untuk melihat penyebab-penyebab kemunduran AS dan pada saat yang sama, kebangkitan Iran dalam konflik ini.

 

Tiga Pilar Kemunduran AS dalam Perang Melawan Iran:

 

  1. Erosi Militer dengan Mengosongnya Gudang Amunisi dan Kerentanan Strategis: Perang modern dengan intensitas tinggi memiliki konsumsi amunisi presisi yang sangat tinggi. Murphy dalam wawancara ini mengungkapkan bahwa AS telah kehilangan hampir 80 persen dari rudal-rudal pencegatnya dan sebagian besar rudal-rudal Tomahawk-nya. Ini berarti sistem-sistem pertahanan AS dan sekutu-sekutunya menghadapi kekosongan yang serius. Menurut Murphy, "pengembangan militer yang berlebihan ini memberi keberanian kepada Rusia dan Tiongkok untuk membayangkan hal-hal yang sebelumnya tidak dapat mereka bayangkan, karena kita tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri kita sendiri dan sekutu-sekutu kita." Dengan kata lain, perang yang dirancang untuk menahan Iran, secara praktis telah mengurangi kemampuan AS untuk menghadapi ancaman-ancaman lain di dunia.

 

  1. Biaya-biaya Ekonomi dari Medan Perang hingga Meja Makan Rakyat Amerika: Konsekuensi-konsekuensi ekonomi perang, melampaui anggaran Pentagon, telah mencapai kehidupan sehari-hari warga Amerika. Murphy menekankan bahwa setiap hari perang berlanjut, berarti barang-barang menjadi lebih mahal bagi keluarga-keluarga Amerika. Ia menjelaskan situasi dengan contoh yang jelas: tahun ini, biaya penyediaan makanan sekolah untuk setiap siswa meningkat 4.000 dolar dibandingkan tahun sebelumnya, yang sebagian besar disebabkan oleh perang ini. Penutupan Selat Hormuz, yang dilalui hampir seperlima minyak dunia, secara langsung menaikkan harga energi dan memicu inflasi menyeluruh di AS. Berdasarkan jajak pendapat, sekitar 70 persen warga AS menuntut pengakhiran perang, dan banyak keluarga berada di ambang kebangkrutan finansial.

 

  1. Kebuntuan Strategis dengan Terperangkap dalam Rawa Tanpa Pintu Keluar: Setelah enam bulan konflik dengan Iran, situasi telah berubah menjadi kebuntuan total. Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Gabungan Militer AS, secara rahasia memperingatkan Gedung Putih bahwa harus ada "jalan keluar" dan menerima bahwa eskalasi tindakan-tindakan militer tidak hanya tidak bermanfaat, tetapi dengan kekuatan udara semata, tujuan-tujuan yang ditetapkan tidak dapat dicapai. AS selama periode ini mengalami hampir 40 hari pemboman berat, dua bulan blokade laut dan kelanjutannya setelah jeda singkat, penandatanganan nota kesepahaman sementara, dan 13 hari serangan-serangan terarah yang berkelanjutan, tetapi tidak satu pun dari taktik-taktik ini yang mampu membuat Tehran berlutut. Kolonel Purnawirawan Angkatan Darat AS, Daniel Davis, dalam sebuah analisis menulis: "AS telah kalah dalam perang dengan Iran di tingkat strategis. Tindakan apa pun yang kita lakukan setelah ini, tidak dapat membalikkan hasil ini."

 

Sementara itu, Iran dalam perang ini memperoleh tiga pilar penguatan kekuatan:

 

  1. Tuas Geopolitik dengan Penguasaan atas Selat Hormuz: Senjata terkuat Iran dalam pertempuran ini bukanlah rudal, tetapi posisi geografisnya. Dalam menghadapi superioritas udara dan laut AS, Iran menggunakan alat asimetrisnya yang paling efektif, yaitu kontrol atas Selat Hormuz, secara efektif. Tehran telah menyatakan dengan jelas bahwa selama persyaratan Iran tidak diterima, selat ini tidak akan dibuka. Persyaratan-persyaratan ini adalah pencabutan sanksi, penghentian perang, pengakhiran blokade pelabuhan-pelabuhan Iran, kompensasi kerusakan perang, dan pembebasan tanpa syarat aset-aset Iran yang diblokir.

 

  1. Ketahanan Militer dengan Pemanfaatan Kota-kota Rudal Bawah Tanah dan Kemampuan Perang Kelelahan: Strategi militer Iran didasarkan pada satu prinsip utama: AS tidak dapat menghancurkan sepenuhnya infrastruktur militer dan nuklirnya dengan serangan udara. Iran selama dua dekade, telah membangun jaringan luas fasilitas-fasilitas bawah tanah, yaitu "kota-kota rudal," yang merupakan tempat penyimpanan, peluncuran, dan bahkan produksi berkelanjutan drone-drone jarak jauh dan rudal-rudal balistik. Menurut Davis, "tidak ada operasi pemboman konvensional, betapa pun intens dan panjangnya, yang mampu menghancurkan semua fasilitas bawah tanah Iran." Kedalaman strategis ini memungkinkan Iran, tanpa kehilangan kekuatan responsnya, untuk membawa perang ke tahap yang akan sangat mahal bagi AS.

 

  1. Peningkatan Status Geopolitik dari Aktor Regional menjadi Rival Global: Kelanjutan perang, tidak hanya mempertahankan kekuatan Iran di dalam negeri, tetapi juga mengubah persamaan-persamaan regional. Para analis percaya bahwa strategi AS di Asia Barat telah gagal dan perang ini telah berubah menjadi "bencana strategis yang besar." Iran tidak hanya tidak melemah, tetapi juga mengisi banyak kekosongan intelijen dan pengaruh regional, dan statusnya semakin meningkat.

 

Hal yang lebih penting adalah pembentukan tergesa-gesa koalisi pertahanan trilateral Arab Saudi, Turki, dan Pakistan, yang oleh beberapa pengamat diartikan sebagai tanda "pelarian" AS dari Asia Barat. Belum lama berselang, AS dengan jaringan luas pangkalan-pangkatannya hadir di kawasan ini, tetapi hari ini, baik para pesaing maupun mantan sekutu, meninjau kembali keberlanjutan dan efektivitas kehadiran AS di kawasan.

 

Secara keseluruhan, harus dikatakan bahwa pernyataan terang-terangan Senator Murphy penting karena ia mengungkapkan sebuah kenyataan yang tidak mau diterima oleh banyak politisi AS. Kenyataan ini adalah bahwa superioritas militer yang diklaim AS dalam perang dengan Iran tidak berubah menjadi kemenangan strategis. Perang ini tidak hanya gagal mencapai tujuan-tujuan yang dinyatakan Trump, tetapi melalui erosi militer, tekanan ekonomi, dan kebuntuan strategis, telah menjadi faktor yang mempercepat kemunduran AS, dan pada saat yang sama, Iran, dengan memanfaatkan tuas geopolitik, ketahanan militer, dan peningkatan status regional, ditempatkan pada posisi yang jauh lebih kokoh. (MF)