Foreign Affairs: Trump Perang Tanpa Strategi—Gagal di 5 Titik, AS Kini Terjebak di Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i194750-foreign_affairs_trump_perang_tanpa_strategi_gagal_di_5_titik_as_kini_terjebak_di_iran
Pars Today – Foreign Affairs mengatakan bahwa Donald Trump menderita kekalahan karena tidak mematuhi aturan-aturan untuk memasuki perang.
(last modified 2026-09-15T14:43:49+00:00 )
Aug 11, 2026 18:27 Asia/Jakarta
  • Trump
    Trump

Pars Today – Foreign Affairs mengatakan bahwa Donald Trump menderita kekalahan karena tidak mematuhi aturan-aturan untuk memasuki perang.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, majalah Foreign Affairs dalam sebuah laporan yang mengkaji perang AS melawan Iran dari perspektif "Doktrin Powell" menulis bahwa keputusan Donald Trump untuk memulai perang, bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dirancang untuk menentukan waktu dan cara AS memasuki perang. Beberapa poin utama dari laporan ini adalah sebagai berikut:

 

1- Apa itu Doktrin Powell?

 

Doktrin ini berakar pada pengalaman perang Vietnam dan operasi AS di Lebanon, dan didasarkan pada prinsip bahwa AS tidak boleh memasuki perang tanpa kebutuhan dan tujuan yang jelas.

 

Berdasarkan doktrin ini, sebelum menggunakan kekuatan militer, kepentingan vital AS harus ditentukan, tujuan-tujuan politik dan militer harus didefinisikan dengan jelas, sumber daya yang cukup untuk kemenangan harus dialokasikan, dukungan Kongres dan opini publik harus diperoleh, dukungan internasional harus ada, dan yang terpenting, jalan keluar dari perang harus ditentukan sejak awal. Tidak satu pun dari ini yang dipatuhi dalam perang melawan Iran.

 

2- Tujuan-Tujuan yang Tidak Jelas

 

Faktor pertama kekalahan Trump adalah bahwa ia mengajukan berbagai tujuan, dari penghancuran rudal-rudal Iran hingga perubahan pemerintahan, sementara banyak dari tujuan-tujuan ini tidak dapat dicapai dengan sumber daya yang dialokasikan untuk perang.

 

3- Tidak Adanya Strategi Keluar

 

Faktor kedua adalah bahwa pemerintahan Trump sebelum dimulainya perang tidak menentukan bagaimana dan dalam kondisi apa perang akan berakhir. Foreign Affairs percaya bahwa saat ini satu-satunya jalan keluar yang tersisa bagi Trump adalah harapan akan runtuhnya pemerintahan Iran; sebuah skenario yang tampaknya tidak mungkin.

 

4- Perang Sebelum Diplomasi

 

Faktor ketiga adalah bahwa serangan-serangan dimulai sementara negosiasi AS dan Iran masih berlangsung dan semua alat-alat tekanan ekonomi juga belum digunakan. Dari sudut pandang Foreign Affairs, penggunaan kekuatan militer sebagai solusi terakhir, salah satu prinsip utama Doktrin Powell, tidak dipatuhi.

 

5- Mengabaikan Sekutu

 

Alasan keempat kekalahan ini adalah bahwa Trump memasuki perang tanpa konsultasi yang cukup dengan sekutu-sekutu AS; sementara negara-negara kawasan menanggung biaya terbesar dari serangan-serangan Iran. Hasilnya adalah dukungan negara-negara Arab Teluk terhadap perang menurun dan bahkan beberapa dari mereka menolak untuk bekerja sama dalam pembukaan Selat Hormuz.

 

6- Tidak Adanya Definisi yang Jelas tentang Kemenangan

 

Menurut tulisan Foreign Affairs, pemerintahan Trump tidak mampu menentukan apa sebenarnya arti "kemenangan." Tujuan-tujuan awal dengan cepat berubah dan Trump, dari penghancuran kemampuan rudal Iran, beralih ke pembelaan hak Iran untuk mempertahankan rudal-rudal jarak jauhnya. Perubahan-perubahan yang sama ini tidak meninggalkan kriteria yang jelas untuk mengakhiri perang.

 

7- Kesimpulan

 

Foreign Affairs menyimpulkan bahwa Trump, dengan mengabaikan prinsip-prinsip Doktrin Powell, tidak menciptakan model perang baru, tetapi menciptakan jalan bagi erosi kekuatan AS. (MF)