Krisis Kepercayaan AS-Teluk: Pangkalan Militer Amerika Kini Jadi 'Perisai Retak' di Mata Sekutu
https://parstoday.ir/id/news/world-i195140-krisis_kepercayaan_as_teluk_pangkalan_militer_amerika_kini_jadi_'perisai_retak'_di_mata_sekutu
Pars Today - Menurut laporan Washington Post, ketidakpuasan terhadap AS di kalangan sekutu-sekutunya di selatan Teluk Persia semakin meningkat.
(last modified 2026-08-18T12:05:47+00:00 )
Aug 18, 2026 18:59 Asia/Jakarta
  • Pangkalan militer AS
    Pangkalan militer AS

Pars Today - Menurut laporan Washington Post, ketidakpuasan terhadap AS di kalangan sekutu-sekutunya di selatan Teluk Persia semakin meningkat.

Menurut laporan Pars Today, Washington Post melaporkan bahwa ketidakpuasan terhadap AS di kalangan sekutu-sekutunya di selatan Teluk Persia semakin meningkat. Para pejabat negara-negara ini semakin menilai kinerja Trump dalam perang dengan Iran sebagai tidak dapat diprediksi dan tidak stabil, dan mengajukan pertanyaan apakah Washington dapat mencapai akhir diplomatis untuk konflik ini.

 

Para pejabat negara-negara Arab, setelah berbulan-bulan serangan rudal dan drone Iran, memperdebatkan nilai melanjutkan menjadi tuan rumah bagi pangkalan-pangkalan militer AS. Tetapi karena mereka bergantung pada AS untuk pasokan senjata dan intelijen, saat ini mereka tidak memiliki alternatif untuk kerja sama. Salah satu pejabat Teluk menyatakan: "Apa pun yang kami lakukan, kami tidak bisa mengatakan tidak kepada AS."

 

Masalah keraguan tentang manfaat pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Arab selatan Teluk Persia, sebenarnya adalah pembedahan dari sebuah kontradiksi strategis mendalam yang akhir-akhir ini sangat terlihat di kalangan sekutu-sekutu tradisional Arab Washington. Laporan yang dipublikasikan Washington Post tentang ketidakpuasan yang meningkat di kalangan pejabat Arab, bukan sekadar berita biasa tentang perbedaan-perbedaan diplomatik, tetapi narasi tentang krisis kepercayaan di tingkat fundamental; sebuah krisis yang berakar pada perubahan sifat kekuatan AS dan ketidakmampuan negara ini dalam memberikan jaminan yang dapat diandalkan kepada sekutu-sekutunya.

 

Apa yang terjadi akhir-akhir ini di kalangan keamanan negara-negara Teluk, melampaui perhitungan militer biasa dan telah berubah menjadi pertanyaan eksistensial tentang biaya-manfaat dari aliansi yang tidak setara. Sekutu-sekutu Arab AS untuk pertama kalinya setelah beberapa dekade, dengan suara yang tidak terlalu keras tetapi sangat bermakna, mengajukan pertanyaan apakah menjadi tuan rumah bagi pangkalan-pangkalan militer AS masih berfungsi sebagai perisai keamanan, atau telah berubah menjadi faktor peningkatan kerentanan?

 

Di satu sisi, ketergantungan persenjataan dan intelijen negara-negara ini pada AS sangat dalam sehingga setiap pemutusan darinya, bahkan dalam jangka pendek, akan berarti runtuhnya struktur pertahanan mereka. Sistem-sistem pertahanan canggih, jaringan-jaringan radar, data-data satelit, dan bahkan siklus-siklus pemeliharaan dan perbaikan peralatan militer, semuanya terkait dengan kehadiran teknis dan logistik AS. Ketergantungan eksistensial ini, sebagaimana diakui secara terbuka oleh salah satu pejabat Teluk, telah mencabut kemampuan mereka untuk mengatakan "tidak," tetapi di sisi lain, ketergantungan yang sama ini telah menempatkan mereka dalam posisi di mana mereka secara langsung menanggung biaya-biaya konflik proksi dengan Iran, tanpa jaminan untuk mengendalikan perilaku AS dalam mengakhiri perang saat ini.

 

Pengalaman beberapa bulan terakhir, yang disertai dengan serangan-serangan rudal dan drone terhadap fasilitas-fasilitas dan kepentingan-kepentingan negara-negara ini karena kebersamaan mereka dengan AS dalam serangan terhadap Iran, telah menunjukkan bahwa pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara ini tidak hanya tidak menciptakan pencegahan total, tetapi juga telah menjadi target utama serangan-serangan Iran. Realitas ini telah sangat mengganggu perhitungan-perhitungan keamanan sebelumnya.

 

Hal kunci di tengah ini adalah penilaian para pejabat Arab tentang perilaku Donald Trump, Presiden AS, yang tidak dapat diprediksi. Kurangnya strategi keluar yang jelas, telah menjadikan Washington sebagai aktor yang tidak hanya tidak mampu mengakhiri konflik dengan Iran secara diplomatis, tetapi juga dengan setiap tindakan provokatif, mendekatkan kawasan ke tepi jurang perang total. Ketidakstabilan perilaku ini telah menghancurkan modal simbolis terbesar AS, yaitu "keandalan." Di masa lalu, sekutu-sekutu Arab dapat, berdasarkan perhitungan yang relatif stabil, mengukur biaya aliansi dengan AS dengan manfaatnya, tetapi hari ini persamaan ini telah berubah menjadi perjudian di mana bahkan keputusan sesaat di Gedung Putih dapat mengubah seluruh persamaan keamanan Teluk.

 

Faktor yang sama ini telah menyebabkan diskusi tentang nilai pangkalan-pangkalan militer AS, dari lingkaran-lingkaran pribadi merambah ke media, dan merupakan tanda perubahan wacana di tingkat pemerintahan negara-negara ini. Apa yang lebih dari segalanya mendorong negara-negara ini untuk melakukan peninjauan ulang mendasar dalam hal ini, bukanlah mencari pengganti teknis untuk peralatan-peralatan AS, tetapi kebutuhan akan jaminan politik yang lebih stabil. Sekutu-sekutu Arab mencari aturan main baru di mana perilaku AS terhadap Iran terikat dengan kepentingan vital mereka, dan mereka juga memiliki peran efektif dalam menentukan garis-garis merah. Tetapi selama Washington mengalami dualisme strategis dalam menghadapi Tehran antara keinginan untuk berperang dan ketakutan akan konflik jangka panjang, keraguan-keraguan ini tidak hanya akan tetap ada, tetapi juga akan semakin meningkat setiap hari.

 

Pada akhirnya, apa yang sedang terbentuk di negara-negara Arab selatan Teluk Persia, adalah penataan ulang diam-diam dalam hubungan kekuasaan; di mana sekutu-sekutu lama, meskipun ada ketergantungan yang kuat, telah sampai pada kesimpulan bahwa perisai pertahanan AS yang disebut tidak hanya memiliki banyak lubang, tetapi kadang-kadang, ia sendiri membelokkan panah-panah yang diarahkan kepadanya, ke arah mereka. Kesadaran baru ini, meskipun belum mengarah pada tindakan praktis, tetapi telah mengubah pola pikir strategis mereka selamanya, dan telah menyelimuti masa depan hubungan AS dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) dalam kabut ketidakpastian. (MF)