Tokoh Senior Jamaat-e-Islami Pakistan: Pemimpin Revolusi yang Syahid Simbol Persatuan, Kebangkitan, dan Keberanian
https://parstoday.ir/id/news/world-i195948-tokoh_senior_jamaat_e_islami_pakistan_pemimpin_revolusi_yang_syahid_simbol_persatuan_kebangkitan_dan_keberanian
Seorang tokoh senior Jamaat-e-Islami Pakistan menyebut Pekan Persatuan sebagai sebuah inisiatif ilahi dan strategis untuk mempererat persatuan dunia Islam. Ia juga menyoroti kedudukan tinggi pemimpin revolusi yang gugur sebagai syahid dan menyebutnya sebagai teladan sempurna dalam kebangkitan, kewaspadaan, dan keteguhan menghadapi musuh.
(last modified 2026-08-31T07:19:42+00:00 )
Aug 31, 2026 14:14 Asia/Jakarta
  • Tokoh Senior Jamaat-e-Islami Pakistan: Pemimpin Revolusi yang Syahid Simbol Persatuan, Kebangkitan, dan Keberanian

Seorang tokoh senior Jamaat-e-Islami Pakistan menyebut Pekan Persatuan sebagai sebuah inisiatif ilahi dan strategis untuk mempererat persatuan dunia Islam. Ia juga menyoroti kedudukan tinggi pemimpin revolusi yang gugur sebagai syahid dan menyebutnya sebagai teladan sempurna dalam kebangkitan, kewaspadaan, dan keteguhan menghadapi musuh.

Menurut Pars Today, mengutip kantor berita Mehr, Ejaz-ul-Haq Hashmi, salah satu tokoh terkemuka sekaligus anggota senior Jamaat-e-Islami Pakistan, menjelaskan filosofi pembentukan Pekan Persatuan dan menyebutnya sebagai salah satu inisiatif Imam Khomeini yang paling bersejarah dan bertahan lama.

Ia mengatakan: “Dengan wawasan ilahi dan kecintaan terhadap kedekatan antara Syiah dan Sunni, Imam Khomeini menetapkan pekan ini sebagai tonggak persatuan dunia Islam. Saat ini, ketika musuh-musuh asing dan sejumlah pemerintahan yang bergantung pada pihak lain berupaya menebar perpecahan, pesan Pekan Persatuan menjadi lebih penting dan relevan daripada sebelumnya.”

Tokoh senior Jamaat-e-Islami Pakistan tersebut, ketika menganalisis tindakan militer Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat dan rezim Zionis, menilainya sebagai contoh respons yang tepat dan terarah.

Ia menegaskan: “Iran telah membuktikan bahwa negara itu tidak bermaksud bermusuhan dengan negara-negara tetangganya, melainkan ingin mengusir pihak asing dari kawasan agar kita sendiri dapat menyusun sistem keamanan regional berdasarkan agama, keyakinan, dan kepentingan bersama.”

Dalam bagian lain pernyataannya, Hashmi mengungkapkan penghormatan yang mendalam kepada pemimpin revolusi yang gugur sebagai syahid. Ia menggambarkannya sebagai sosok yang luar biasa dalam sejarah Islam kontemporer dan mengatakan: “Saya belum pernah melihat sosok yang begitu berpengaruh, tenang, dan mendalam seperti beliau. Beliau adalah seorang ulama yang memahami sejarah, seorang filsuf yang memahami hakikat kehidupan manusia, serta seorang orator yang berbicara secara terus terang. Beliau senantiasa menyerukan kepada masyarakat agar waspada terhadap konspirasi musuh.”

Ia menyatakan bahwa gugurnya Ayatollah Sayyed Ali Khamenei sebagai syahid telah memicu kemarahan dan kecaman dunia terhadap Amerika Serikat. Ia menambahkan: “Kedudukan beliau tidak diperoleh dengan mudah; seluruh diri beliau dipenuhi keberanian dan kewaspadaan, dan beliau memahami dengan baik bahwa kebangkitan sejati berarti berdiri tegak menghadapi musuh dengan dada terbuka dan berteriak: ‘Saya ada di sini.’ Semangat inilah yang memaksa musuh mundur dan mendorong umat untuk semakin bersatu.”

Hashmi pada akhir pernyataannya menegaskan bahwa darah suci pemimpin revolusi yang gugur sebagai syahid telah menyuburkan pohon persatuan dan perlawanan. Ia mengatakan: “Saat ini, lebih dari sebelumnya, umat Islam membutuhkan teladan dari kehidupan Ayatollah Khamenei; seorang pemimpin yang dengan keberanian, ketulusan, dan wawasannya telah menunjukkan jalan menuju martabat dan solidaritas bagi seluruh umat Islam serta membuktikan bahwa persatuan di bawah panji Islam merupakan satu-satunya jalan untuk keluar dari krisis yang dipaksakan oleh musuh.”