Mengapa Mesin Perang Barat Gagal Lumpuhkan Republik Islam Iran?
Oleh: Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
Sepanjang abad ke-20 dan awal abad ke-21, Barat—terutama Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya—telah berkali-kali mengukir strategi geopolitik mereka berdasarkan satu premis: kekuatan militer, teknologi canggih, dukungan intelijen, dan rekayasa sosial adalah alat yang efektif untuk mengubah rezim yang tak diinginkan, menciptakan pemerintahan pro-Barat, atau memaksakan dominasi strategis atas kawasan yang kaya sumber daya. Bahkan ketika strategi ini berjalan cepat dan tanpa banyak hambatan seperti pada saat kejatuhan Saddam Hussein di Irak pada 2003, runtuhnya rezim Hosni Mubarak di Mesir pada 2011, ataupun intervensi militer terbaru di Venezuela yang melumpuhkan pemerintahan Maduro—premis ini sesungguhnya menunjukkan satu pola tunggal: pemerintah sekuler yang bergantung pada dukungan struktural Barat paling rentan terhadap intervensi Barat karena tak memiliki pondasi spirituil yang kokoh.
Sementara itu, ketika Barat mencoba menerapkan pendekatan yang sama terhadap Republik Islam Iran, hasilnya bukan sekadar kegagalan taktis, tetapi kegagalan epistemologis, suatu kontradiksi mendalam antara cara Barat berpikir dan realitas struktural rezim Islam yang berdiri atas dasar spiritualitas dan kesadaran sejarah.
Sejak kudeta yang didukung CIA pada tahun 1953 yang menggulingkan Perdana Menteri Mossadegh—sebuah peristiwa yang masih menodai hubungan Iran-AS hingga kini—Amerika memandang Iran sebagai arena pengaruh yang bisa diatur melalui tekanan eksternal, manipulasi politik, dan operasi rahasia. Namun, ketika gelombang revolusi Iran tahun 1979 merebut kekuasaan dari Shah pro-Barat dan menjadikan Ayatullah Khomeini sebagai pemimpin revolusi, Barat mengalami kejutan epistemik: sebuah sistem pemerintahan yang tidak semata-mata dibangun di atas realpolitik atau sekularisme global, tetapi atas prinsip religius dan spiritual yang mendalam mampu menyatukan massa rakyat dan mengokohkan identitas nasional.
Di sinilah Barat salah perhitungan fundamental: mereka mengukur kekuatan dengan standar material dan struktural, padahal di hadapan sistem yang tertambat pada nilai-nilai transcendental dan narasi kolektif yang kuat, strategi yang sama sekali berbeda dibutuhkan.
Dalam tradisi Barat, modernisasi sering diidentikkan dengan sekularisasi, industrialisasi, dan dominasi teknologi; dominasi itu diukur dengan jumlah tank, pesawat, sanksi ekonomi, dan konsesi politik. Di sisi lain, Revolusi Islam Iran bukan sekadar perubahan rezim, tetapi transformasi total kosmos mental dan spiritual bangsa. Bagi Barat, ini tampak sebagai gerakan politik yang keras dan tak rasional; bagi Iran, itu adalah aktualisasi iman kolektif yang menggerakkan perubahan historis.
Ketika Barat melihat perlawanan sebagai ancaman yang harus diredam dengan kekuatan keras, kelompok revolusioner Iran melihatnya sebagai manifestasi dari kehendak moral dan kolektif yang tak bisa dibungkam oleh logika material semata. Inilah kesenjangan yang sering diabaikan oleh analis strategis Barat: pembacaan dunia yang bergantung pada dimensi spiritual akan bertumpu pada sebuah reservoir kekuatan yang tak terlihat dalam metrik teknologi atau dominasi militer, namun nyata ketika diuji dalam ranah politik global.
Kesalahan penghitungan Barat tampak lebih tajam ketika melihat bagaimana Iran mampu mendayagunakan tantangan eksternal untuk memperkuat dirinya secara internal. Contoh paling monumental adalah Perang Iran-Irak (1980–1988), di mana invasi rezim Saddam didukung oleh banyak kekuatan Barat dan Arab diputarbalikkan menjadi proyek mobilisasi nasional yang memperkuat kedudukan Republik Islam. Alih-alih runtuh di bawah tekanan perang panjang, Iran berubah menjadi negara yang lebih kohesif secara internal dan lebih adaptif secara strategis.
Perang itu bukan sekadar pertempuran militer—ia juga merupakan medan simbolik yang menyatukan masyarakat di bawah narasi pengorbanan, solidaritas, dan ketahanan terhadap agresi asing, yang kemudian menjadi fondasi bagi pembentukan institusi bersenjata seperti Pasdaran (Revolutionary Guards).
Salah satu konsekuensi logis dari keberhasilan ini adalah kebingungan Barat ketika menghadapi fenomena Iran: sebuah negara yang secara simultan mengembangkan teknologi militer modern, namun dipandu oleh narratif spiritual yang kuat tentang ketahanan dan perlawanan moral terhadap dominasi asing. Di banyak rezim yang digulingkan oleh Barat—Saddam di Irak, Mubarak di Mesir, Ben Ali di Tunisia, hingga Maduro di Venezuela—landasan kekuasaan mereka bersifat struktural dan pragmatis: dukungan militer Barat atau kecukupan ekonomi saja tidak cukup untuk menciptakan legitimasi sosial yang mendalam. Begitu struktur itu runtuh atau tak lagi didukung, rezim mudah digoyang oleh gelombang protes atau perubahan politik. Namun Iran tidak mengikuti pola itu karena kekuasaannya tak didasarkan semata pada struktur kelembagaan; ia tertancap pada narasi transcenden yang mendalam, yang menjadikan ketahanan bukan semata fisik tetapi juga kosmik.
Pendekatan Barat yang menganggap semua rezim adalah sistem material yang bisa diubah melalui tekanan materi terbukti tidak berlaku di Iran karena identitas politik Iran tidak dapat dipisahkan dari konstruksi spiritualnya.
Di dalam kosmologi Iran post-revolusi, kekuasaan bukan sekadar alat untuk mendapatkan sumber daya atau mengekspor ideologi sekuler; ia adalah panggilan etis yang ditambatkan kepada individu dan masyarakat untuk menjawab tantangan zaman melalui kesadaran historis dan nilai moral universal. Di sinilah Barat selalu gagal memahami kekuatan Iran: mereka melihat konflik sebagai pertarungan kepentingan semata, sementara Iran melihatnya sebagai pertarungan antara dua narasi dunia yang berbeda—satu narasi materialis yang yakin bahwa kekuasaan bisa dibeli, dan satu narasi spiritualis yang yakin bahwa kekuasaan yang benar lahir dari keteguhan moral dan kesadaran kolektif transenden.
Contoh fenomena ini dapat terlihat lebih manusiawi dan kontekstual ketika kita memikirkan kembali sejarah Revolusi Islam Iran: penggulingan Shah bukan hanya merupakan reaksi terhadap perang, inflasi, atau ketidakadilan sosial; ia merupakan ekspresi dari hasrat luhur rakyat Iran untuk menemukan diri mereka kembali sebagai sebuah komunitas transcenden—sebuah pencarian yang membawa mereka keluar dari kerangka politik sekuler dan memasuki dimensi politik yang dipahami sebagai perwujudan nilai-nilai etika dan spiritual.
Fenomena ini menjelaskan mengapa strategi Barat yang berpijak pada dominasi struktural sering berujung pada kegagalan ketika mencoba menerapkannya pada sistem yang telah terinternalisasi nilai-nilai transcendental tersebut.
Lebih jauh lagi, pola hubungan Iran dengan negara-negara lain seperti Venezuela juga menunjukkan bahwa negara-negara yang menolak dominasi Barat sering mencari kerjasama yang didasari oleh prinsip kedaulatan dan penolakan terhadap intervensi eksternal—sebuah “axis of unity” yang menentang hegemoni global Barat dan menekankan solidaritas anti-imperialis.
Dalam realitas geopolitik hari ini, strategi Barat sering kali meningkatkan resistensi moral di pihak rezim yang ingin mereka ubah, karena intervensi yang agresif justru memperkuat narasi perlawanan di dalam masyarakat target dan menciptakan basis solidaritas yang sukar dipatahkan.
Kesimpulannya, Barat dan Amerika sering salah perhitungan ketika berhadapan dengan sistem seperti Republik Islam Iran bukan semata karena mereka lemah atau bodoh, tetapi karena mereka mengukur dinamika politik dengan alat ukur yang terbatas pada dimensi materi dan struktur, sementara Iran beroperasi pada dimensi spiritual dan moral yang menjadikan perlawanan tidak hanya sebagai strategi militer, melainkan sebagai wujud kesadaran kolektif historis yang transcenden.
Ini bukan sekadar perbedaan taktis, tetapi perbedaan paradigma: satu melihat dunia sebagai arena kompetisi kekuasaan yang bisa dimanipulasi oleh kekuatan eksternal, sementara yang lain melihat dunia sebagai arena kesadaran kolektif yang kokoh dengan narasi moral internalnya yang kuat. Inilah sebabnya mengapa Amerika bisa menjatuhkan rezim sekuler dengan gemilang, tetapi gagal meruntuhkan Republik Islam Iran, sebab kekuatan yang berakar dalam spiritualitas dan kesadaran historis kolektif yang transenden tidak dapat diukur atau diserang dengan metrik kekuatan material semata.