Motif Rahasia Manuver Perang Negara Arab Teluk Persia
Manuver perang gabungan militer negara-negara Arab Teluk Persia dengan melibatkan pasukan darat enam negara Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Omana digelar di Kuwait.
Kuwait menjadi tuan rumah manuver perang gabungan ini, padahal anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) beberapa waktu lalu menggelar manuver laut di Bahrain. Di pertemuan awal membahas program manuver perang ini disepakati bahwa wakil negara P-GCC, Amerika Serikat dan pasukan Perisai Jazeera akan terlibat.
Mohammad al-Khidr, kepala staf gabungan militer Kuwait menyebut tujuan penyelenggaraan manuver dengan sandi Hasm al-Uqban 2017 sebagai persiapan menghadapi ancaman teroris di kawasan.
Alasan manuver ini disebut-sebut berkaitan dengan upaya mempertahankan kesiapan militer atau memperkuat kesiapan menghadapi beragam ancaman termasuk ancaman militer serta teroris. Meski terorisme merupakan ancaman yang tak dapat dipungkiri, khususnya di kawasan Asia barat, namun justifikasi ini dirilis ketika anggota P-GCC kecuali Oman, memainkan peran utama dalam menciptakan atau meningkatkan ancaman di kawasan Timur Tengah.
Arab Saudi yang selalu aktif di setiap manuver perang anggota P-GCC termasuk pemain utama di proses meningkatnya instabilitas di Timur Tengah baik itu di perang Yaman, dukungan terhadap teroris di Suriah dan memprovokasi friksi etnis serta sektarian di Irak. Di sisi lain, pasukan Perisai Jazeera yang sepadan dengan unit militer P-GCC, mayoritasnya terbentuk dari militer Arab Saudi dan komandonya juga berada di tangan Riyadh. Praktisnya Perisai Jazeera berubah menjadi pasukan penumpas bangsa-bangsa anggota P-GCC.
Dalam koridor ini, pasukan Perisai Jazeera di tahun 2011 memasuki Bahrain untuk mempersiapkan peluang penumpasan besar-besaran protes rakyat di negara ini.
Penyelenggaraan manuver perang merupakan salah satu strategi militer berbagai negara untuk mengukur kesiapan pertahanan, namun manuver perang berulang anggota P-GCC bersama Amerika Serikat cenderung ofensif. Manuver tersebut bukan saja tidak membawa pesan perdamaian di kawasan, bahkan mengindikasikan motif seperti pengobaran perang, provokasi, tujuan mencurigakan penyelenggaranya.
Tak diragukan lagi iklim seperti ini cenderung menciptakan peluang permusuhan regional dan internasional ketimbang mendorong kawasan ke arah kerjasama. Dalam hal ini yang paling diuntungkan adalah rezim hegemonik dan pihak asing yang berusaha menjual senjatanya lebih besar kepada negara-negara peserta.
Poin penting yang patut direnungkan adalah senjata yang dibeli mayoritasnya tidak layak digunakan oleh militer pemerintah Arab Teluk Persia. Oleh karena itu, pengawas dan penasehat militer Amerika harus dilibatkan dimanuver perang tersebut.
Di sisi lain, Amerika dengan mendorong negara anggota P-GCC menggelar manuver perang di bawah pengawasan dan arahan Washington berencana menjustifikasi kehadiran militernya di kawasan yang ditempatkan di berbagai pangakalan di negara Arab. AS juga mencitrakan dirinya sebagai tulang punggung dan penjamin keamanan bagi negara anggota P-GCC.
Dengan kata lain, tujuan dari manuver perang berulang anggota P-GCC khususnya Arab Saudi berkaitan dengan kekhawatiran utama pemimpin Arab terakit kekuasaan mereka dan propaganda media untuk menjustifikasi anggaran besar militernya. Pemimpin negara anggota P-GCC menghadapi ancaman terorisme yang mereka bentuk sendiri, namun ancaman sejati pemerintah ini sebenarnya dari dalam dan dipicu oleh legalitas yang tipis serta esensi ketergantungan mereka kepada pihak asing.
Manuver perang seperti ini dengan propaganda palsu dan besar-besaran tidak akan mampu menghilangkan kendala sejati dan kondisi rapuh pemimpin Arab. (MF)