Haji, Simbol Ketaatan kepada Allah Swt
Ibnu Abi al-Awja' adalah orang yang kafir dan dikenal luas sebagai seorang ateis. Namun ia seorang ahli debat dan sangat agresif. Para ulama dan ilmuwan menghindari perdebatan dan tidak mau berurusan dengannya. Mereka menjaga jarak dari Ibnu Abi al-Awja' sehingga terjaga dari serangan lisannya yang tajam. Ketika musim haji tiba, Ibnu Abi al-Awja' bersama sekelompok ateis dan pengikutnya duduk di Masjidil Haram untuk menyaksikan para jemaah melakukan thawaf dan sai.
Dia dan pengikutnya kadang tertawa bersama dan mengejek para jemaah dan ritual haji mereka. Imam Jakfar Shadiq as bersama sekelompok besar masyarakat Syiah duduk di bagian lain dari Masjidil Haram. Mereka sedang mendengar ceramah Imam Shadiq as tentang ilmu-ilmu agama.
Para sahabat Ibnu Abi al-Awja' berkata kepadanya, "Sekarang adalah waktunya untuk berdiskusi dengan pria itu (Imam Shadiq as). Kaum Muslim dan para sahabatnya sedang duduk bersamanya dan ini akan sangat baik jika engkau mampu mempermalukannya di tengah kerumunan ini."
Ibnu Abi al-Awja' dengan sombong bangkit dari tempatnya dan mendatangi majlis diskusi Imam Shadiq. Dengan nada mengejek ia berkata, "Sampai kapan engkau akan mengelilingi dan berlindung di batu ini. Kalian menyembah rumah yang terbuat dari tanah liat dan batu, dan seperti unta yang berputar-putar di sana? Siapa pun yang berpikir tentang perbuatan dan ritual di rumah ini, ia akan menyadari bahwa perbuatan ini tidak memiliki hikmah dan juga tidak punya landasan yang benar."
"Engkau adalah seorang tokoh Muslim terkemuka, dan dari semua orang Muslim, engkau adalah orang yang paling taat dalam menjalankan perbuatan dan manasik haji. Kakekmu telah membangun tempat ini dan menjadi penjaganya. Sekarang beri tahu saya apa gunanya melaksanakan ritual ini?" tambahnya.
Imam Shadiq as berkata, "Ka'bah adalah rumah di mana Tuhan menjadikan kunjungan ke tempat ini sebagai sarana ujian untuk hamba-Nya, dan berfirman kepada mereka, 'Muliakanlah dan datangilah tempat ini sehingga dapat dilihat sejauh mana manusia benar-benar tulus dalam beribadah dan taat kepada-Nya, dan sejauh mana mereka tunduk di hadapan perintah Tuhan, sehingga barisan orang-orang yang imannya tulus dan taat akan terpisah dari mereka yang munafik dan tanpa iman."
"Ka'bah adalah tempat para nabi ilahi, dan kiblat orang-orang yang shalat. Memuliakan dan mendatangi Ka'bah adalah jalan untuk mencapai keridhaan Tuhan. Jadi kegiatan ini bukan untuk menyembah batu atau sebuah bangunan, tetapi menyembah Allah yang benar-benar layak untuk disembah, Dia adalah pencipta jiwa dan raga manusia. Dia pencipta langit dan bumi. Memuliakan Ka'bah dan mengusap tangan di atas Hajar Aswad bertujuan untuk mematuhi perintah Tuhan," jelasnya.
Ibnu Abi al-Awja' menundukkan kepalanya ke bawah setelah mendengar penjelasan dari Imam Shadiq as. Dia tidak tahu harus berkata apa dan juga tidak tahu bagaimana harus menyanggah. Dengan rasa malu ia meninggalkan majlis tersebut.
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh," (QS: al-Hajj; 27)
Pada kesempatan ini, kita akan menyimak kesekian seorang ulama hadis, Abdullah bin Mubarak dalam menunaikan ibadah haji. Setelah menyelesaikan ritual ibadah haji, dia tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. “Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya. “600.000,” jawab malaikat yang satunya. “Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?” “Tidak satu pun”
Percakapan ini membuat Abdullah bin Mubarak gemetar. Dia berkata, "Jumlah sebanyak itu tak ada yang diterima? Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasing yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia. Bagaimana mungkin semuanya tidak diterima?”
Malaikat berkata, "Ada satu orang yang hajinya diterima. Namanya Ali bin Muwaffaq, seorang tukang sepatu di Damaskus. Sebenarnya ia tidak jadi berangkat haji, tetapi Allah menerima hajinya dan mengampuni dosanya. Bahkan berkat dia, seluruh jemaah haji yang sekarang ada di Tanah Suci ini diterima hajinya oleh Allah Swt."
Abdullah terbangun dari tidurnya ketika mendengar hal itu dan ia memutuskan untuk pergi ke Damaskus untuk mengunjungi orang tersebut. Aku kemudian pergi ke Damaskus dan menemukan tempat di mana ia tinggal. Aku mengetuk pintu rumahnya dan ia pun keluar. “Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Aku Ali bin Muwaffaq, tukang sepatu. Siapakah namamu?”
“Aku Abdullah bin Mubarak, sewaktu haji aku bermimpi dua malaikat berbincang-bincang bahwa seluruh jemaah haji tidak diterima hajinya kecuali Ali bin Muwaffaq, tukang sepatu dari Damaskus. Padahal Ali bin Muwaffaq tidak jadi berangkat haji. Lebih dari itu, Allah akhirnya menerima haji seluruh jemaah berkatnya. Mendengar itu, Ali bin Muwaffaq sangat terkejut hingga jatuh pingsan.
Setelah ia sadar, Abdullah bin Mubarak lalu bertanya kepadanya, "Amal apakah yang telah engkau lakukan sehingga Allah menerima hajimu, padahal engkau tidak jadi berangkat ke Tanah Suci?”
Ali bin Muwaffaq berkata, "Selama 40 tahun aku telah rindu untuk melakukan perjalanan haji. Aku telah menyisihkan 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Tahun ini aku memutuskan untuk pergi ke Mekkah, sejak istriku mengandung. Suatu hari istriku mencium aroma makanan yang sedang dimasak oleh tetangga sebelah, dan memohon kepadaku agar ia bisa mencicipinya sedikit. Aku pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya. Tetanggaku mendadak menagis dan berkata, 'Sudah beberapa hari anakku tidak makan. Hari ini aku menemukan keledai mati tergeletak, lalu aku memotong satu bagian darinya dan memasakknya menjadi masakan ini. Ini bukan makanan yang halal bagimu.'"
Ali bin Muwaffaq hatinya terbakar ketika mendengar cerita tentang kemiskinan dan rasa lapar yang diderita tetangganya itu. Bagaimana mungkin aku akan berangkat haji sedangkan tetanggaku tidak bisa makan. Maka kuambil seluruh uangku dan kuserahkan padanya untuk memberikan makan anak dan keluarganya. Karena itu, aku tidak jadi berangkat haji.
Abdullah bin Mubarak terharu dan sekarang mengerti mengapa ibadah haji Ali bin Muwaffaq diterima oleh Allah Swt meskipun ia tidak sampai di Mekkah. Dia berkata, “Sungguh pantas engkau menjadi mabrur sebelum haji. Sungguh pantas hajimu diterima sebelum engkau pergi ke Tanah Suci,”
Dalam sebuah riwayat, Imam Shadiq as berkata, "Ibadah haji ada dua jenis; haji untuk Allah dan haji untuk manusia. Barang siapa yang melaksanakan haji karena Allah Swt, maka pahalanya adalah surga. Sementara mereka yang menunaikan haji karena manusia, maka di Hari Kiamat ia akan mengambil balasannya dari manusia juga."