Profesor Christian Bonaud; Sang Arif dari Perancis
https://parstoday.ir/id/radio/world-i73807-profesor_christian_bonaud_sang_arif_dari_perancis
Tanggal 4 Shahrivar 1398 yang bertepatan dengan tanggal 26 Agustus, Profesor Christian Bonaud, pemikir Perancis meninggal dunia dalam perjalanan dengan menggunakan kapal laut ke Pantai Gading dan kapalnya mengalami kecelakaan. Dia adalah salah satu tokoh terkemuka dalam ilmu-ilmu Islam yang kemudian memeluk Islam pada 1979 dan mengubah namanya menjadi Yahya Alavi.
(last modified 2026-02-03T18:32:04+00:00 )
Sep 16, 2019 14:44 Asia/Jakarta
  • Profesor Christian Bonaud
    Profesor Christian Bonaud

Tanggal 4 Shahrivar 1398 yang bertepatan dengan tanggal 26 Agustus, Profesor Christian Bonaud, pemikir Perancis meninggal dunia dalam perjalanan dengan menggunakan kapal laut ke Pantai Gading dan kapalnya mengalami kecelakaan. Dia adalah salah satu tokoh terkemuka dalam ilmu-ilmu Islam yang kemudian memeluk Islam pada 1979 dan mengubah namanya menjadi Yahya Alavi.

Bonaud pergi ke Pantai Gading untuk menyampaikan pidato dan berdakwa di hari-hari bulan Muharam. Dia menekankan penyelenggaraan acara mengingat Asyura dan syuhada Karbala. Menurutnya, "Imam Husein as bukan hanya sebuah tradisi tetapi suatu keharusan. Ketika kita berbicara tentang pengabdian kepada Imam Husein as dan Karbala, kita harus menjadi Husein dan Karbala sendiri. Membuat film dan kegiatan lain untuk mempromosikan budaya Asyura adalah baik, tetapi jika kita memulai menjadi Husein pada diri sendiri, itu akan menyebar ke seluruh dunia."

Profesor Christian Bonaud

Profesor Yahya Bonaud, penafsir al-Quran dan ahli keislaman, doktor teologi dan filsafat, penulis, cendekiawan, profesor dan anggota dewan direktur Asosiasi Keilmuan Irfan Islam Bahasa Perancis. Dia lahir pada tahun 1957 di Freiburg, Jerman, dari keluarga Kristen Katolik. Dia tinggal di Jerman hingga berusia 10 tahun, dan kemudian pindah ke Strasbourg, Perancis.

Menurut dirinya sendiri, kecenderungan untuk mengenal dengan agama-agama Timur telah ada dalam dirinya dan sejak itu dia mempelajari karya-karya di bidang ini dan melakukan perjalanan ke banyak negara seperti Spanyol, Maroko, Italia, Belgia dan Belanda. Selama perjalanan ini ia berkenalan dengan buku-buku filsuf Muslim Perancis Rene Guenon dan dipengaruhi oleh karya-karyanya pada usia 20 tahun.

Tidak lama setelah memeluk agama Islam, ia mulai belajar bahasa Arab dan sastra serta ilmu-ilmu keislaman, pada saat yang sama dia juga mulai akrab dengan karya-karya Henry Corbin dan irfan Syiah. Studi Bonaud tentang pandangan Syiah berlanjut sampai ia berusia 22 tahun dan menjadi Syiah. Menurutnya, "Menjadi Syiah tidak penting. Karena dapat terjadi dengan setiap argumentasi yang dangkal. Sebagai contoh perasaan, kejadian atau lewat kedua orang tua dan lain-lain. Tapi saya meyakini yang penting adalah bagaimana tetap dalam Syiah, dimana cara pandang ini sudah terbukti dan itu adalah kecintaan."

Pemikir Perancis yang sejak masa remaja berusaha mencari kebenaran dan spiritual dan setelah bertahun-tahun meneliti, akhirnya menerima Islam sebagai agama yang benar. Ia mengatakan, "Keputusan memeluk Islam dan menjadi seorang muslim tidak terbatas dengan letak geografis, etnis dan agama, terkadang dengan satu shock yang penting gerakan menuju kebenaran menjadi awal keputusan ini. Sekalipun saya berkeyakinan semua nabi mencari kebenaran dan mengajarkannya kepada manusia, tapi di antara agama-agama yang ada, selain Islam, jiwa saya tidak menemukan kedamaian. Karena saya menyaksikan banyak kontradiksi di antara agama-agama, jiwa dan perilaku masyarakat."

Yahya Bonaud dalam wawancara tentang perjalan hidup keagamaan dan pemikirannya mengatakan, "Sebelum saya memeluk Islam, saya bahkan bukan seorang Kristen yang benar. Seperti orang-orang Eropa biasa yang kebanyakan tidak beragama, yakni kami disebut Kristen, tapi pada hakikatnya kami bukan. Bahkan kita tidak memiliki pengangkatan yang bernar akan agama Kristen. Saya sendiri sejak masih sekolah dan di masa sekolah menengah atas mencari sesuatu yang lain. Saya tidak puas dengan jalan yang terbuka di hadapan saya. Karena saya tidak menemukan apa yang saya cari di Kristen dan akhirnya saya benar-benar berbalik darinya..."

Profesor Bonaud ketika sedang menulis desertasi doktoralnya juga mengenal dua buku "Syarah Doa Sahar" dan "Mishbah al-Hidayah" karya Imam Khomeini ra. Sekalipun hingga saat itu ia belum mengenal dengan baik tentang Imam Khomeini ra, tetapi dengan melakukan kajian terhadap dua karya ini, ia memutuskan untuk menulis desertasinya tentang karya-karya filsafat dan irfan Imam Khomini ra.

Dia mengatakan, "Ketika saya menyaksikan dua buku Imam Khomeini, saya berpikir ini mungkin buku politik, tapi ketika saya mulai mengkajinya, saya melihat buku ini penuh dengan irfan ilahi. Saya begitu tertarik dengan Imam dan untuk menyingkap tabir dari wajah beliau, saya memutuskan untuk menuliskan desertasi doktoral saya terkait karya-karya filsafat dan irfan Imam Khomeini, sehingga saya dapat membalas budi beliau kepada saya."

Yahya Bonaud kemudian membuat judul desertasi doktoralnya dengan nama "Elahiat dar Asar Falsafi va Erfan Imam Khomeini" atau Teologi dalam Karya Filsafat dan Irfan Imam Khomeini dan untuk menyusunnya dia memutuskan pergi ke Iran pada 1991. Bonaud pergi ke kota Mashad dan selama tujuh tahun belajar filsafat dan irfan Islam pada Ayatullah Sayid Jalal-ed-Din Ashtiani dan dia kembali lagi ke Perancis setelah menyelesaikan desertasinya, pada tahun 1995 dan mempertahankannya di Universitas Sorbonne. Sekalipun dia diberi tempat terhormat di Universitas Sorbonne, tapi dia sendiri mengatakan, "Saya tidak tahan berjauhan dari Imam Ridha as dan saya meninggalkan semua capaian keilmuan, saya kemudian kembali ke Mashad dan hidup di dekat makam suci Imam Ridha as dengan segala kesulitan yang ada."

Bonaud dikenal sebagai orang yang beretika baik, lembut dan memiliki pengetahuan tentang al-Quran yang mencoba menyampaikan poin-poin al-Quran kepada hadirin dalam bahasa yang sederhana dan lugas. Jamal Taheri, Direktur Asosiasi Syahid Edoardo Agnelli mengatakan, "Kami masih kaget karena dia adalah modal Syiah. Di Eropa, terlepas dari lonjakan Islamofobia dan pesimisme yang ada terkait Islam dan Muslimin, profesor telah mendirikan sebuah situs bernama al-Iman, menggambarkan Islam di antara banyak situs Wahabi dalam bahasa yang sederhana dan lugas untuk penutur bahasa Perancis.

Di jaringan televisi Sahar, yang berada di bawah IRIB External Services Profesor Bonaud mempresentasikan topik-topik keagamaan sebagai mubalig. Dalam program-program ini, dia menerjemahkan doa-doa dan menyampaikan kajian tafsir dan irfan dengan lugas dan suguhan yang manis untuk audiens Eropa, sehingga bagi banyak sarjana merupakan sumber dan referensi yang sangat baik untuk tokoh-tokoh ilmiah, budayawan dan agamawan Muslim di seluruh dunia.

Desertasi Bonaud akhirnya diterbitkan pada 1997 dengan judul "Arif Tak Dikenal Abad 20". Pada tahun 1999, buku ini memenangkan gelar Outstanding Researcher of the Year. Bonaud kembali ke Iran setelah mempertahankan disertasinya dan tinggal di Mashad selama 15 tahun. Dia melakukan kajian di bidang yang digelutinya dalam filsafat dan mistisisme, ia mempelajari kebijaksanaan transenden Mulla Sadra, seorang pemikir Iran dan memasuki studi postdoktoral di University of France.

Dalam beberapa tahun terakhir perhatian utama Bonaud adalah terjemahan dan tafsir al-Quran ke dalam bahasa Perancis. Profesor menyebut al-Quran sebagai buku yang luar biasa dan sangat aneh, dimana Tuhan sendiri mengatakan telah menurunkannya untuk manusia dan bila diserahkan kepada makhluk hidup lain, mereka tidak akan memiliki kemampuan untuk menanggungnya. Untuk menyampaikan pesan al-Quran dan memperkenalkan Islam yang benar, dia menulis, menerjemahkan, dan menafsirkan al-Quran. Lembaga Yayasan Tarjoman-e Wahyu yang bermarkas di Qom pada tahun 2000 mempublikasikan terjemahan al-Quran yang dilakukannya. Salah satu kelebihan dari terjemahan ini adalah kelugasannya yang disertai komentar singkat yang dilampirkan pada kosa kata lafad al-Quran.

Dia juga menerjemahkan karya-karya Imam Khomeini ke dalam bahasa Prancis. Karya-karyanya termasuk "Tasawwuf dan Irfan Islam dalam Bahasa Perancis", "Imam Khomeini Arif Tak Dikenal Abad 20", "Seremoni Revolusi Islam" dan "Melawan Diri atau Jihad Akbar" karya Imam Khomeini, termasuk sebagian dari karya-karyanya.

Bonaud menilai tujuan dari penelitian dan jasanya untuk memperkenalkan Islam yang benar dan menyatakan, "Saya selalu mencoba untuk menyampaikan ajaran Islam kepada orang lain dan mereka menyambut saya dan masih Muslim seperti saya. Saya tidak ragu tentang keabsahan dari jalur penerimaan saya terhadap Islam ini dan telah menerimanya dengan hati dan jiwa saya." Bonaud menyebut menggabungkan spiritual dan rasionalitas adalah cara untuk menyelesaikan masalah umat manusia dan mengatakan bahwa kebersamaan keduanya menjadi kunci solusi masalah manusia dan rahasia keberhasilan dakwah Islam di seluruh dunia dan tentu saja prioritas kerja harus disusun berdasarkan ini.

Bonaud bukan orang Perancis yang menjadi Muslim terakhir. Setiap hari di Perancis ada wanita dan pria yang memeluk agama Islam dengan sebelumnya memiliki budaya Barat dan Kristen, dan melaksanakan shalat di antara massa besar yang berkumpul di masjid setiap hari. Mereka yang menyambut Islam pergi ke kantor masjid besar di Paris untuk memeluk Islam dan dengan mengatakan "Laa ilaaha illallah" dan "Muhammad Rasulullah" menjadi Muslim dan diajarkan al-Quran.

Terlepas dari apakah orang yang baru memeluk Islam itu menjadi Syiah atau Sunni, karena yang terpenting adalah kesadaran akan sempurnanya agama Islam tumbuh setiap hari. Dapat dikatakan bahwa sampai hari ini, dunia Barat, terutama Perancis, tidak pernah begitu tertarik pada Islam. Dalam mengejar kemurnian, ketulusan dan pemenuhan penuh perintah-perintah al-Quran, perempuan Perancis yang baru memeluk Islam telah secara psikologis berkomitmen untuk Islam dan tampaknya berbalik dari kerusakan yang meluas di Barat, sehingga rata-rata sepuluh orang masuk Islam setiap hari di Paris dan setidaknya 400 ribu sekarang.

Bonaud melihat penyebab utama ketertarikan warga Perancis pada Islam adalah kecenderungan moral dihadapan merosotnya nilai-nilai Barat, karena Islam memberi makna yang sakral pada kehidupan sehari-hari dan sebagai rambu cahaya.

Profesor Bonaud seorang arif besar Islam dan telah menyambut panggilan Tuhannya. Semoga Allah merahmatinya atas jasa-jasanya selama beberapa dekade.