Kaum Muda dan Proklamasi
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i17938-kaum_muda_dan_proklamasi
Oleh: Eko Sulistyo* Tanggal 17 Agustus 2016 bangsa Indonesia memperingati 71 tahun proklamasi kemerdekaan. Bagian penting dari peristiwa sekitar proklamasi adalah peran kaum muda dalam mendesakan proklamasi kemerdekaan.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Aug 17, 2016 10:37 Asia/Jakarta
  • Kaum Muda dan Proklamasi

Oleh: Eko Sulistyo* Tanggal 17 Agustus 2016 bangsa Indonesia memperingati 71 tahun proklamasi kemerdekaan. Bagian penting dari peristiwa sekitar proklamasi adalah peran kaum muda dalam mendesakan proklamasi kemerdekaan.

Prolog dari proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II yang menyebabkan cengkeraman atas Indonesia menjadi longgar. Sementara pasukan sekutu sebagai pemenang perang belum datang menggantikan kekuasaan lama. Transisi ini menciptakan vacum of power dan memberi momentum menuju proklamasi kemerdekaan.

 

Janji Indonesia merdeka dari pihak Jepang pertama kali terdengar pada akhir Juli 1945. Untuk mempersiapkan kemerdekaan, pada 7 Agustus 1945 Pemerintah Jepang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menggantikan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada 12 Agustus 1945, Marsekal Terauci, panglima tertinggi angkatan perang Jepang di Asia Tenggara, menerima Soekarno, Hatta, dan Radjiman di Dalat, Vietnam.

 

Dalam pertemuan Terauci menyatakan Pemerintah Jepang telah memutuskan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia yang pelaksanaannya diserahkan kepada PPKI. Proklamasi kemerdekaan ditentukan oleh perdebatan antara kaum nasionalis tua dan kaum nasionalis revolusioner di sekitar kelompok pemuda di Jakarta menjelang proklamasi kemerdekaan.

 

Kaum nasionalis tua mayoritas adalah lingkaran politik pendukung taktik kerja sama dengan Jepang yang sosok sentralnya Soekarno dan Hatta. Sementara kaum revolusioner yang dimotori kelompok pemuda menolak taktik kerja sama dengan Jepang.

 

Kaum muda ini mewakili berbagai spektrum revolusioner seperti kelompok Sjahrir, pengikut Tan Malaka, dan pemuda revolusioner yang membangun kembali PKI seperti DN Aidit dan pemuda revolusioner lain yang berbasis di Asrama Mahasiswa Kedokteran di Prapatan 10, Asrama Angkatan Baru di Menteng 31, dan Asrama Indonesia Merdeka di Jalan Bungur Besar.

 

Bagi kaum nasionalis tua, kemerdekaan harus dipersiapkan dan diselenggarakan oleh PPKI seperti mandat yang diberikan Pemerintah Jepang. Kemerdekaan tidak bisa dilakukan dengan cara revolusioner atau tanpa koordinasi dengan Jepang. Sementara kaum muda menganggap bahwa proklamasi kemerdekaan tidak boleh sebagai hadiah Pemerintah Jepang.

 

Karena itu, kaum muda menolak bila kemerdekaan dilakukan PPKI yang dianggap bikinan Jepang. Namun, terlepas dari perdebatan yang terjadi, menurut Adnan Buyung Nasution, proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan hasil kompromi antara yang berjuang untuk kemerdekaan sambil bekerja sama dengan Jepang dan mereka yang bekerja di bawah tanah selama pendudukan Jepang. Kaum muda dan kaum tua menjadi ”sepasang sayap revolusi” yang saling melengkapi satu sama lain (Buyung Nasution, 1995 : 13).

 

Empat Hari yang Menentukan

 

Tanggal 14 sampai 17 Agustus 1945 adalah hari-har paling menentukan menjelang proklamasi. Beberapa pertemuan dilakukan kaum muda merespons kekalahan Jepang. Pada 14 Agustus 1945, Sjahrir menemui Hatta dan menyatakan keinginan kaum muda agar proklamasi kemerdekaan diumumkan di luar kerangka PPKI yang dianggap buatan Jepang.

 

Dari sana Sjahrir menemui Soekarno yang sikapnya sama dengan Hatta menunggu pengumuman resmi kekalahan Jepang dan memutuskan soal kemerdekaan harus diputuskan dalam rapat PPKI. Pada 15 Agustus 1945 para pemuda mengadakan pertemuan di Laboratorium Bakteriologi di Jalan Pegangsaan. Rapat memutuskan mengirim Wikana sebagai pimpinan delegasi bertemu Soekarno.

 

Jawaban Soekarno tetap sama dengan sebelumnya bahwa mereka hendak mempersiapkan kemerdekaan tanpa terburu-buru, bahkan menantang pemuda untuk mengumumkan sendiri kemerdekaan. Wikana melaporkan hasil pertemuan dengan Soekarno- Hatta yang menolak usulan mempercepat proklamasi. Kaum muda memutuskan tindakan tertentu harus dilakukan untuk menunjukkan tekad kaum muda ingin merdeka.

 

Menurut Ben Anderson, Revoloesi Poemuda, tidak jelas siapa yang awalnya mengusulkan rencana untuk ”menculik” Soekarno- Hatta. Pertemuan memilih orang yang akan menjadi pelaksana yaitu Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, dr Muwardi, Jusuf Kunto, Singgih, dan dr Sutjipto (Anderson, 1988). Rencananya, 16 Agustus 1945 pagi Soekarno-Hatta akan memimpin sidang PPKI membicarakan tentang kemerdekaan Indonesia.

 

Namun, sidang tidak jadi dilaksanakan karena para pemuda telah ”mengamankan” Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, 81 km dari Jakarta. Normalnya penculikan adalah upaya paksa, bila perlu dengan kekerasan. Tapi, yang terjadi sebetulnya tidak ada paksaan fisik pada keduanya. dr Muwardi yang ditugaskan menjemput Soekarno bahkan takut membangunkan Soekarno di pagi buta. Akhirnya dia menunggu Chaerul Saleh untuk membangunkan Soekarno.

 

Percepatan Proklamasi

 

Peristiwa di Rengasdengklok sering dianggap sebagai keberhasilan kaum muda menyepakati ”percepatan” proklamasi kemerdekaan kepada Soekarno- Hatta. Menurut Adam Malik, Riwayat Proklamasi Agustus 1945, di Rengasdengklok Soekarni menjelaskan bahwa maksud membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok adalah untuk menyiapkan dua tokoh pergerakan nasional tersebut menyatakan proklamasi kemerdekaan secepatnya atas nama seluruh rakyat karena keadaan sudah mendesak dan memuncak (Adam Malik, 1956).

 

Namun, dalam bukunya, Sekitar Proklamasi, Hatta menyangkal semua fakta yang menyatakan telah terjadi semacam perundingan atau kesepakatan. Menurutnya, selama di Rengasdengklok mereka didiamkan di rumah seorang tuan tanah Tionghoa bernama Djiauw Kie siong hingga kembali pulang malam hari ke Jakarta. Hal utama yang dikerjakan adalah bergantian menggendong Guntur yang agak rewel karena susunya ketinggalan di mobil para pemuda.

 

Celana Hatta bahkan basah terkena kencing Guntur sehingga tak dapat menunaikan ibadah salat (Hatta, 1970). Dari narasi sekitar peristiwa proklamasi ini terdapat dua klaim di sekitar peristiwa Rengasdengklok. Klaim pertama menyatakan ada perundingan dan kesepakatan di Rengasdengklok seperti dinyatakan oleh kaum muda sebagaimana ditulis oleh Adam Malik dan Sidik Kertapati.

 

Klaim kedua menyatakan tidak terjadi perundingan dan kesepakatan apa-apa di Rengasdengklok seperti ditulis oleh Hatta. Sementara Soekarno dan Hatta ”diamankan” ke Rengasdengklok, di Jakarta para pemuda mengadakan pertemuan mempersiapkan proklamasi kemerdekaan secepatnya. Dilaporkan bahwa proklamasi melalui radio pada pagi hari telah gagal.

 

Wikana melaporkan bahwa Subardjo sedang menjemput Soekarno-Hatta. Karena itu, pengumuman kemerdekaan diundur hingga jam 23.00 WIB. Sekitar jam 01.00 dini hari, Iwa Kusumasumantri memberi kabar bahwa Soekarno- Hatta berada di rumah Laksamada Maeda untuk membicarakan persiapan kemerdekaan.

 

Peserta rapat lalu mengirim Chaerul Saleh dan Sukarni untuk hadir dalam pertemuan di rumah Maeda sebagai wakil golongan pemuda. Meskipun hanya mengirim dua utusan dalam pertemuan tersebut, kaum muda telah mengubah jalannya proklamasi. Pertama, proklamasi bukan lagi sebagai hadiah dari Jepang, tapi sebagai usaha dari rakyat dan bangsa Indonesia.

 

Dalam pembukaan rapat, Chaerul Saleh menyatakan menolak pertemuan tersebut sebagai pertemuan PPKI untuk mempersiapkan kemerdekaan karena akan berbau buatan Jepang. Soekarno menerima usulan itu dan menyatakan, ”Rapat ini bukanlah rapat PPKI, rapat ini adalah rapat wakilwakil bangsa Indonesia” (Kertapati, 2000). Kedua, mencegah pembacaan naskah proklamasi atas nama PPKI, yang dianggap bentukan Jepang.

 

Sebagai kompromi, disepakati bahwa proklamasi ditandatangani oleh Soekarno-Hatta sebagai ”wakil bangsa Indonesia”, bukan sebagai pimpinan dan wakil PPKI. Ketiga, mempercepat tanggal proklamasi menjadi 17 Agustus 1945 menyimpang dari rencana PPKI yang telah disetujui dan dijanjikan oleh Pemerintah Jepang pada 24 Agustus 1945.

 

Akhirnya, pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 pagi Proklamasi Kemerdekaan di bacakan oleh Soekarno. Sejak hari itu Indonesia menyatakan dirinya sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat menuju masyarakat adil dan makmur. Sebuah janji kemerdekaan yang belum terwujud hingga 71 tahun usia proklamasi.(Koran sindo/PH)

 

*Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden Indonesia