Peringatan Keras IRGC ke Inggris: Ini Kali Terakhir
-
IRGC
Pars Today - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan mengeluarkan sebuah pernyataan, menegaskan, "Kami memperingatkan rezim kerajaan Inggris, yang telah memiliki peran terbesar dalam agresi terbaru AS dan rezim Zionis terhadap Iran, agar tidak semakin memperberat catatan kejahatannya."
Sebagaimana dilaporkan Pars Today mengutip IRNA, 24 Juli 2026, Hubungan Masyarakat IRGC pada hari Kamis (23/7) dalam sebuah pernyataan mengumumkan, "Kami memperingatkan rezim kerajaan Inggris, yang merupakan penyebab utama penderitaan rakyat di kawasan kami, yang memiliki catatan hitam dalam memecah belah negara-negara Islam dan melakukan pembantaian besar-besaran di negara-negara tersebut, dan yang telah memiliki peran terbesar dalam agresi terbaru AS dan rezim Zionis terhadap Iran, agar tidak semakin memperberat catatan kejahatannya."
Teks lengkap pernyataan IRGC adalah sebagai berikut:
"Bangsa Iran yang agung dan pembuat sejarah;
Keberlanjutan kehadiran Anda yang menakjubkan dan tuntutan-tuntutan revolusioner Anda adalah faktor terbesar yang membangkitkan semangat para pejuang Islam dan memperkuat iman serta keyakinan mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sebagai kelanjutan dari hukuman terhadap para agresor dan respons terhadap kejahatan tentara pembunuh anak-anak Amerika, yang pada dini hari Rabu (22/7), dengan menyerang jalur para peziarah Aba Abdillah al-Hussain (as), semakin mengungkap sifat Yazidinya dan memperlihatkan sifat biadab serta kekejaman para pemimpin AS kepada dunia.
Pada Kamis (23/7) pagi, para pejuang IRGC dalam gelombang ke-26 Operasi Nasser 2, dengan sandi suci 'Ya Aba Abdillah al-Hussain (as)' dan dipersembahkan untuk para peziarah Arbain Husaini (as), dengan serangan gabungan, menghancurkan unit perang elektronik khusus AS di Pangkalan Al-Udeir, dan dengan menyerang barak-barak pasukan unit tersebut, menewaskan atau melukai sejumlah mereka.
Menara kontrol penerbangan pangkalan tersebut juga terkena serangan dan mengalami kerusakan, dan operasi hukuman pasukan kami terus berlanjut.
Amerika yang kalah di medan perang, sekali lagi berupaya dengan tipu daya dan kelicikan untuk menciptakan kesempatan bernapas dan mengumpulkan kekuatan untuk menyerang, dan dalam pernyataan-pernyataan akhir-akhir ini terus berbicara tentang kembali ke meja perundingan.
Musuh harus membayar harga pengingkaran janjinya, dan kali ini kami tidak akan mengizinkan Amerika, dengan gencatan senjata yang menipu, mengganti cadangan minyak dan amunisinya, dan kemudian kembali melancarkan serangan.
Tentara agresor AS, yang dalam agresinya setelah dimulainya kembali perang secara resmi, menggunakan rudal jelajah dari kapal-kapalnya di Samudra Hindia, dengan habisnya persediaan rudal kapal-kapal tersebut, kemarin beralih ke penggunaan pesawat B-1 yang terbang dari Pangkalan Udara Fairford di Inggris.
Sebagaimana para pejabat Kementerian Luar Negeri Iran juga telah menegaskan, setiap pangkalan yang digunakan untuk agresi terhadap wilayah Iran adalah target sah kami.
Kami memperingatkan rezim kerajaan Inggris, yang merupakan penyebab utama penderitaan rakyat di kawasan kami, yang memiliki catatan hitam dalam memecah belah negara-negara Islam, melakukan pembantaian besar-besaran di negara-negara tersebut, memaksakan pemerintahan-pemerintahan otoriter, dan yang terburuk dari semuanya, mengorganisasi pengarahan operasi pendudukan Palestina dan pembentukan bencana Israel, dan yang telah memiliki peran terbesar dalam agresi terbaru AS dan rezim Zionis terhadap Iran, agar tidak semakin memperberat catatan kejahatannya."(Sail)