Negara-Negara Arab Mencari Payung Keamanan Baru setelah Kecewa terhadap AS
New York Times menyatakan bahwa negara-negara Arab yang menyadari bahwa mereka bukan prioritas Amerika Serikat sedang berupaya mencari payung keamanan baru.
Menurut laporan Pars Today yang mengutip kantor berita Tasnim, perang regional baru-baru ini yang dimulai dengan agresi Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran pada akhir Februari, dan yang kemudian mendapat respons dahsyat dari Iran, membawa dampak luas bukan hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi seluruh dunia. Kondisi tersebut menyebabkan negara-negara Teluk menyadari adanya kesenjangan dan kelemahan besar dalam sistem keamanan mereka yang selama ini hanya didasarkan pada kepercayaan kepada Amerika Serikat.
Dalam konteks ini, sumber-sumber Arab melaporkan bahwa selama beberapa bulan terakhir, sejumlah negara Teluk mulai memikirkan pengaturan baru untuk melindungi keamanan mereka dan berupaya membuka saluran dialog langsung dengan Iran mengenai berbagai persoalan, termasuk pelayaran di Selat Hormuz.
Surat kabar Amerika Serikat, New York Times, dalam sebuah laporan mengenai hal tersebut menyatakan bahwa negara-negara Teluk telah lama bergantung pada jaminan keamanan Amerika Serikat, tetapi lebih dari enam bulan serangan rudal dan drone Iran yang berulang kali dengan jelas menunjukkan kelemahan jaminan tersebut.
New York Times menambahkan bahwa beberapa pangkalan Amerika Serikat di negara-negara Teluk hampir sepenuhnya hancur dalam serangan Iran. Selain itu, infrastruktur energi di negara-negara tersebut, termasuk Arab Saudi, mengalami kerusakan besar. Dalam situasi ini, para pejabat negara-negara Teluk kini berupaya mencari solusi alternatif untuk melindungi keamanan mereka, termasuk melalui diplomasi langsung dengan Iran.
Media Amerika tersebut, dengan mengutip para analis, menulis bahwa para pemimpin kawasan tidak memiliki pilihan selain mencari pengaturan keamanan alternatif, karena perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah mengungkap kerentanan negara-negara Teluk dan semakin meningkatkan pengaruh Iran.
Badr Al-Saif, profesor sejarah di Universitas Kuwait, mengatakan kepada New York Times mengenai kondisi negara-negara kawasan: “Kita terjebak pada titik di mana, sambil mempertahankan sebagian dari masa lalu, kita berupaya membangun sesuatu yang baru. Kita harus terbebas dari obsesi terhadap perlindungan dari pihak luar ini.”
Laporan tersebut selanjutnya menyatakan bahwa perang ini telah menimbulkan kerugian besar bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di kawasan, sementara penutupan praktis Selat Hormuz oleh Iran merupakan kekalahan strategis besar dan kemunduran ekonomi bagi negara-negara pengekspor energi di kawasan Teluk.
New York Times menegaskan bahwa ketidakmampuan militer Amerika Serikat untuk menangkal serangan Iran menunjukkan kekalahan strategis lainnya yang dapat membawa konsekuensi serius bagi negara-negara Teluk dan kemampuan Amerika Serikat untuk menggunakan kekuatannya.
Media Amerika tersebut menambahkan bahwa meskipun demikian, Bahrain dan negara-negara Teluk lainnya, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, tidak memiliki satu alternatif tunggal dan terpadu sebagai penjamin keamanan mereka.
Laporan tersebut menekankan bahwa negara-negara Teluk telah menghabiskan miliaran dolar untuk persenjataan canggih, tetapi militer mereka lebih kecil dan lebih lemah dibandingkan militer Iran, sementara China dan Rusia, meskipun memiliki hubungan erat dengan negara-negara Teluk, tidak memberikan bantuan kepada mereka.