Hormozgan; Kepulauan Pesona Iran di Teluk Persia
-
Kepulauan Hormozgan
ParsToday – Di bawah terik matahari Teluk Persia, kepulauan Hormozgan bersinar di antara sejarah, alam, dan ekonomi. Tersebar di sepanjang perairan strategis Provinsi Hormozgan, kepulauan ini bagaikan permata unik yang terjalin dalam sejarah, alam, dan kekayaan ekonomi kawasan.
Melaporkan dari Press TV, ParsToday pada Sabtu, 21 Februari 2026, artikel ini menelusuri arus sejarah, alam yang tangguh, dan transformasi ekonomi di kepulauan ini. Nama-nama kuno seperti "Oaracta" dan "Organa" yang tercatat dalam peta para geograf terdahulu, kini telah menjelma menjadi mutiara alami Teluk Persia.
Qeshm; Benteng Geopolitik dan Surga Ekologi
Pulau Qeshm, pulau terbesar di Teluk Persia, adalah negeri yang sejarahnya terakumulasi seperti lapisan batuan sedimennya. Ini adalah saksi ribuan tahun ambisi manusia dan kekuatan alam yang tak kenal lelah.
Disebut "Abarkawan" atau "Pulau Gawan" di masa kuno, bentuknya yang memanjang sejajar dengan pantai daratan utama memberinya nilai strategis luar biasa, menjadikannya incaran kekuasaan asing sepanjang sejarah.
Benteng Portugis di kota Qeshm dan "Benteng Naderi" di Laft berdiri kokoh sebagai contoh arsitektur militer era kolonial dan Safawi. Masjid Barkah di Desa Kuzeh, yang diperkirakan berasal dari masa awal penaklukan Islam dan direkonstruksi setelah gempa dahsyat abad ke-14, menjadi bukti kehidupan spiritual masyarakat pulau yang mengakar.
Sumur "Tala" yang cerdik di Laft, yang secara tradisional berjumlah 366 sumur, adalah contoh solusi kuno untuk mengatasi kekeringan kronis. Reservoir air bawah tanah Kherbas menunjukkan pola permukiman sejak era Sassaniyah. Makam Inggris di Basaidu dan reservoir air "Bibi" yang dibangun awal abad ke-19, melengkapi gambaran pulau yang terus dibentuk oleh gelombang penduduk, penguasa, dan pedagang.
Namun, keagungan Qeshm tak hanya terletak pada sejarah manusianya, tetapi juga pada arsitektur alamnya yang luar biasa. Pengakuan UNESCO sebagai Global Geopark mengukuhkan hal ini.
Qeshm adalah museum geologi raksasa terbuka. Erosi, tektonik garam, dan sedimentasi menciptakan lanskap nyata yang terus berubah. Lembah Bintang dengan formasi runcingnya, dan jaringan gua garam yang luas—termasuk Gua Garam Namakdan, gua garam terpanjang di dunia—membuka tabir seni bawah tanah bumi.
Di sepanjang pantai, hutan mangrove membentuk ekosistem paling vital dan rapuh di kawasan. Hamparan mangrove berfungsi sebagai tempat pemijahan ikan dan krustasea, serta rumah bagi burung migran. Terumbu karang dan pantai berpasir Qeshm—tempat penyu bertelur—menegaskan pentingnya ekologi pulau ini.
Selama bergenerasi, ekonomi lokal terkait erat dengan lingkungan ini. Masyarakat bergantung pada perikanan, pertanian skala kecil, perkebunan kurma, dan—di masa lalu—pencarian mutiara. Ekspor blok garam murni dan kayu bakar pernah memasok pasar di seluruh Teluk Persia.
Pada akhir abad ke-20, pemerintah Iran mendirikan Organisasi Zona Bebas Qeshm pada 1989. Langkah ini bertujuan memanfaatkan posisi strategis pulau, sumber gas alam, dan warisan alam serta budaya untuk menciptakan pusat perdagangan, industri, dan ekowisata.
Kini Qeshm berada dalam keseimbangan yang rapuh. Pulau ini berusaha mempertahankan keajaiban geologi kuno dan cara hidup tradisional, sambil menghadapi tuntutan pembangunan ekonomi modern. Qeshm berdiri sebagai bukti hubungan abadi antara alam dan sejarah di salah satu persimpangan dunia paling langgeng.
Kish; Etalase Modernitas di Atas Puing Istana Pahlavi
Jika Qeshm mewakili jiwa purba kepulauan Teluk Persia, Kish adalah masa depan mereka yang gemerlap dan ambisius. Pulau ini bertransformasi dari pos terpencil pencari mutiara menjadi etalase ekonomi dan pariwisata Iran.
Signifikansi historis Kish sebagai kekuatan dagang abad pertengahan—saat itu disebut "Qais"—sering terlupakan oleh gemerlap modernitasnya. Antara abad ke-11 hingga ke-13, Kish mencapai puncak kejayaan, menyaingi Hormuz. Para penguasanya—dari Wangsa Julandidah atau terafiliasi Buwaihi—memimpin armada kuat yang menguasai jalur perdagangan ke India dan Afrika Timur, bahkan menyerang Aden pada 1135 M.
Reruntuhan kota kuno "Harireh," yang dihiasi keramik impor, menjadi bukti posisinya dalam jaringan perdagangan Samudra Hindia. Mutiara Kish dipuji para pengelana seperti Marco Polo dan Abu'l-Fida. Era keemasan ini meredup setelah Kish ditaklukkan Hormuz pada abad ke-13.
Selama berabad-abad, pulau ini kembali ke kehidupan sederhana sebagai nelayan dan pekebun kurma. Populasinya hanyalah bayangan dari kejayaan masa lalu. Revolusi Islam 1979 mengakhiri era perampasan pribadi Kish pada masa Pahlavi, meninggalkan proyek-proyek mercusuar yang terbengkalai. Setelah perang, Republik Islam membangun kembali infrastruktur pulau, tetapi mengubah arah fundamentalnya.
Pada 1989, Kish diluncurkan kembali sebagai zona bebas pertama di negara itu dengan misi baru yang pro-rakyat. Organisasi Zona Bebas Kish mengubah proyek ambisius era monarki: hotel-hotel mewah yang dulu terlarang diubah menjadi akomodasi publik. Bandara eksklusif menjadi gerbang terbuka untuk semua.
Kerangka hukum yang dulu dirancang untuk kejahatan segelintir elite, kini ditulis ulang untuk menarik investasi dan pariwisata demi kepentingan mayoritas. Pulau yang dulu menjadi benteng eksklusif diktator dan kroninya, kini menerima sekitar dua juta pengunjung per tahun. Mayoritas besar adalah keluarga dan warga negara Iran yang dulu terlarang dari pantai mereka sendiri.
Kish kini menjadi studi tentang kontras dan ambisi terfokus. Ekonominya bertumpu pada tiga pilar: belanja, medis, dan pariwisata rekreasi. Aset alam pulau dikemas untuk rekreasi: pantai karang untuk snorkeling, taman lumba-lumba untuk hiburan keluarga, dan resor mewah seperti hotel terapung Toranj melayani arus wisatawan yang terus bertambah.
Secara budaya, Kish menunjukkan perpaduan menarik. Dialek Bandari, tradisi yang dipengaruhi budaya Arab, dan warisan bahari masih hidup di sudut-sudut pulau. Namun, budaya yang dominan semakin dibentuk oleh konsumerisme dan arus wisatawan. Kish telah menjadi eksperimen paling berani Iran dalam kapitalisme global. Ini adalah aset strategis untuk menghindari sanksi Barat melalui perdagangan, dan laboratorium sosial di mana perjuangan antara pelestarian dan pembangunan, tradisi dan modernitas, serta kontrol negara dan kebebasan ekonomi, dipertunjukkan di panggung yang disinari matahari dan dikelilingi karang.
Hormuz; Permata Merah di Tengah Selat Strategis
Berbeda dengan pembangunan Kish yang ambisius, pulau kecil Hormuz adalah tempat di mana sejarah dan geologi memaksakan diri dengan kekuatan tak kenal lelah. Gumpalan berbatu kering yang menjaga Selat Hormuz ini memiliki lanskap yang dicat dengan spektrum merah tua, oker, dan kuning yang hampir surealis. Warna-warna ini berasal dari deposit kaya besi oksida dan oker, memberinya julukan puitis "Pulau Pelangi."
Namun, signifikansi Hormuz jauh melampaui ukuran fisiknya. Akarnya terletak pada posisi yang selama berabad-abad menjadikannya salah satu titik strategis paling didambakan di bumi. Pada era modern, pentingnya Hormuz didefinisikan ulang secara paksa oleh geopolitik dan bahan bakar fosil. Selat yang diawasi pulau ini menjadi titik tersempit paling vital untuk transit minyak dunia, tempat sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati perairan sempit ini.
Realitas ini mengembalikan Hormuz ke pusat kalkulasi strategis global. Pulau ini kini menjadi tuan rumah bagi fasilitas militer Iran, memainkan peran ganda sebagai penjaga dan pengungkit potensial dalam ketegangan regional dan internasional.
Secara lingkungan, Hormuz tetap sangat rapuh. Lanskap unik dan ekosistem laut di sekitarnya sangat rentan. Upaya mengembangkan pariwisata terbatas—berfokus pada geologi dunia lain, pantai pasir merah, dan reruntuhan Benteng Portugis—berjalan hati-hati, berada di bawah bayang-bayang peran militer dan strategis pulau yang dominan.
Hormuz hari ini adalah simbol kuat: pengingat masa lalu perdagangan yang gemilang tapi kejam; keajaiban geologi dengan keindahan memukau; dan titik yang selalu membara di arena keamanan energi global yang berisiko tinggi. Tanah merahnya telah menyaksikan secara diam-diam pertarungan kekuasaan selama berabad-abad dan terus mempengaruhi dunia.
Larak, Hengam, dan Pulau-pulau Kecil; Kehidupan di Bayang-bayang Raksasa
Di luar tiga serangkai Qeshm, Kish, dan Hormuz, perairan Hormozgan dihiasi rasi bintang pulau-pulau kecil. Masing-masing adalah untaian berbeda dalam jalinan kaya provinsi ini, menonjolkan ketahanan alam, kedalaman sejarah, dan ekonomi tradisional.
Pulau Larak, terletak di selatan Hormuz, merangkum sejarah panjang permukiman dan pertahanan. Benteng Portugis kecilnya—mungkin berasal dari akhir abad ke-16—pernah melindungi sumber air tawar vital bagi kapal yang melintas. Perannya meluas hingga era modern: pada 1980-an, fasilitas transfer minyak di sini menjadi sasaran dalam perang, dan kini pulau ini berfungsi sebagai pangkalan angkatan laut. Secara ekologis, Larak tetap vital sebagai tempat singgah burung migran seperti flamingo.
Di sisi lain, Pulau Hengam di barat daya Qeshm menunjukkan wajah berbeda, semakin condong pada ekowisata berkelanjutan. Pulau ini terkenal dengan penampakan lumba-lumba hidung botol Teluk Persia setiap hari. Hengam juga memiliki struktur geologi menakjubkan, termasuk perbukitan sedimen warna-warni dan pantai kaya fosil. Desa tradisionalnya mempertahankan cara hidup Teluk yang lebih tenang dan pra-modern. Ekonomi Hengam memadukan pariwisata skala kecil, perikanan, dan produksi kerajinan tangan halus oleh perempuan lokal.
Pulau Abu Musa dan Tunb Besar serta Tunb Kecil memiliki posisi lebih kontroversial dalam lanskap geopolitik regional. Abu Musa memiliki nilai ekonomi dari ladang minyak dan deposit oksida merah, sementara kedua Tunb terutama dihargai karena posisi strategisnya. Pulau-pulau ini menunjukkan betapa pentingnya daratan terkecil di Teluk Persia secara geopolitik.
Bersama-sama—dari yang terbesar hingga yang terkecil—pulau-pulau ini membentuk bagian integral, berlapis, dan memukau dari warisan nasional Iran. Mereka adalah permata yang bersinar di bawah terik matahari Teluk Persia, merangkai kisah tentang sejarah, alam, dan ketahanan manusia yang tak pernah padam.(sl)